
Setelah berbicara dengan Siska dan mendengar penjelasan yang Siska katakan, Tian menjadi semakin muak dengan tingkah Siska. ia memblokir nomor siska dan tidak akan berhubungan lagi dengan gadis itu.
Siang itu Tian bergegas pulang karena ada jadwal meeting dengan clien untuk pertama kalinya dia menaungi dunia bisnis. ia terlihat bersemangat namun juga gugup. tea juga membantu menyiapkan keperluan suaminya.
"Doakan aku agar first meeting ini berjalan lancar dan clienku puas." kata Tian dengan memakai jasnya.
"Ya pasti. Seorang sepertimu tidak mungkin tidak bisa publik speaking." ujar Tea dengan merapikan dasi Tian.
"Hufffttt ..."
"Minum dulu kau terlihat sangat gugup." kata Tea dengan mengambilkan air minum
Dalam sekali tegukan air pun habis. setelah itu Tian mengambil tasnya langsung berangkat namun sebelum sampai di lantai bawah, ia berlari menaiki anak tangga dan menghampiri Tea yang juga ingin turun
"Ada yang ketinggalan?" tanya Tea dengan bingungnya.
Cup....
"Sebagai energiku. aku berangkat dulu assalamualaikum." kata Tian dengan sedikit berlari.
Tea yang terkejut pun hanya diam mematung kemudian menyentuh pipinya. ia masih mencerna apa yang Tian lakukan.
"Ck sungguh???" kata Tea dengan menggelengkan kepalanya
Tak berselang lama, setalah Tian pergi, pintu apartemennya pun di ketuk. ia langsung membukakan yang ternyata adalah mamanya sendiri.
"Mama." kata Tea .
"Dasar kau anak nakal. kenapa tidak memberitahu Mama jika kau sakit." kata Karina dengan memukul pelan bahu putrinya.
"Aku baik-baik saja ma. mama tidak lihat." kata Tea.
"Mana mungkin mama percaya. Bianca yang bilang pada mama." kata Karina.
"Hayy..." sebuah kepala muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Bi...." kata Tea dengan terkejut kemudian memberi isyarat dan di jawab dengan senyuman kecil.
"Tea sudah baik-baik saja ma. lagi pula itu hanya demam biasa." kata Tea.
"Tapi tetap saja seharusnya kau menghubungi mama dan mama bisa menginap disini untuk merawatmu." kata Karina.
"Baiklah baiklah. apa yang mama bawa?" tanya Tea dengan merebut barang bawaan mamanya.
"Wahhh mama sangat tau kesukaan ku. makasih ma." kata Tea dengan mengambil piring.
"Anak itu....jika soal makanan saja langsung secepat kilat." kata Karina dengan menggelengkan kepalanya.
"Karena kau sudah baik-baik mama tidak akan lama sayang. setelah ini mama ini ke butik." kata Karina.
"Kenapa? mama baru saja sampai." kata Tea dengan mengunyah makanannya.
"Besok mama kesini lagi dengan papamu juga. sekarang papamu ada di luar kota, Lusa dia pulang." ujar Karina
"Yaudah ma yang penting mama jaga kesehatan ya. Bi Kau disini kan?." kata Tea.
Setelah Karina pulang, dua sahabat itu pun langsung bersenang-senang. mereka menyanyi dan berjoget dengan begitu riangnya dan tak lupa juga nobar adalah yang paling utama.
"Kau menangis Bi?" tanya Tea dengan menoleh ke arah Bianca.
"Huaaaaa Ta kasihan ceweknya." kata Bianca dengan menangis brutal.
Disisi lain, Tian tengah berada di ruang meeting bersama beberapa clien dan juga ada papanya yang ikut hadir karena dia merupakan pemimpin perusahaan.
Setelah ia selesai menjelaskannya, banyak yang tertarik dengan konsep yang Tian berikan. papanya yang juga berada di sana tidak menyangka Tian bisa melakukan dengan sangat baik bahkan ini adalah pertama kalinya dia menangani projek besar dan tidak perlu waktu lama banyak yang tertarik.
Prok prok prok....
"Wahh kau benar-benar anak papa Tian. papa sangat bangga denganmu karena kau berhasil menarik minat mereka untuk bergabung di perusahaan papa. seperti janji papa kemarin, besok kau papa pindah tugaskan menjadi direktur di perusahaan ini." kata Dirga yang membuat tuan terkejut.
"Papa serius?" tanya Tian.
__ADS_1
"Tentu saja. lagipula secepatnya juga kau yang akan mengambil alih perusahaan papa. tapi untuk sekarang menjadi direktur adalah pilihan terbaik. papa akan menyerahkan penuh perusahaan ini padamu jika kau sudah benar-benar mampu untuk mengelolanya. jadi berusahalah." kata Dirga dengan menepuk pindah anaknya.
"Makasih pa." kata Tian dengan memeluk papanya
"Ya ya bekerja keraslah. bagaimana kabar istrimu? apakah papa akan segera punya cucu?" tanya Dirga yang membuat Tian salah tingkah.
"Ahh ya ya papa paham hahaha tapi segeralah buatkan papa cucu agar adikmu tidak terlalu merepotkan papa." kata Dirga.
Tian hanya tersenyum canggung saja. bagaimana ingin mendapatkan cucu cepat prosesnya saja belum dia lakukan. ia juga tidak tahu bagaimana memberitahu istrinya untuk melakukan proses itu. karena ia tahu masih ada rasa trauma di hati tea.
Ia pulang dengan raut wajah bahagianya. tak lupa juga ia membawakan dua kantong plastik berisi camilan kesukaan Tea.
"Assalamualaikum." ucap Tian dengan celingukan mencari keberadaan Tea namun tak mendapati
ia pun menuju ke kamarnya dan terdengar suara gemericik dari dalam kamar mandinya yang artinya ada orang di dalam sana. ia melepaskan jasnya dan dua kancing kemejanya serta menggulung lengannya ke atas kemudian berbaring di ranjang.
"Kau sudah pulang?" tanya Tea yang sebenarnya terkejut melihat Tian yang tiba-tiba sudah berbaring di kamar.
"Ya ku pikir kau pergi kemana." kata Tian dengan bangun.
"Bagaimana meeting mu? apakah lancar?" tanya Tea yang membuat Tian langsung sumringah karena itu adalah pertanyaan yang sangat dia tunggu.
"Ya sangat lancar dan besok aku sudah menjadi direktur di perusahaan papa." kata Tian dengan tersenyum.
"Untuk itu kau harus bersungguh-sungguh dan jangan mengecewakan papamu." ujar Tea dengan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer
"Kau duduk saja biar aku yang mengerjakannya." kata Tian yang merebut hairdryer itu.
"Kau istirahat saja atau makan aku sudah menyiapkannya." kata Tea namun Tian bersikeras ingin melakukannya jadi Tea hanya membiarkan saja.
Tian terus tersenyum yang membuat Tea heran melihatnya. dia juga beberapa kali menciumi rambut Tea entah apa yang di lakukan laki-laki itu.
"Sepertinya kau sedang sangat senang." kata Tea
"Tidak terlalu." jawab Tian tapi masih dengan tersenyum.
__ADS_1