Be My Husband

Be My Husband
Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

Malam harinya, kondisi Tea sudah membaik, ia tengah berada di dapur membuat minum sementara Tian berada di ruang tengah dengan laptopnya. melihat Tian yang tengah sibuk, tea pun berinisiatif untuk membuatkan kopi dan membawakan camilan.


"Apa yang kau kerjakan?" tanya Tea dengan meletakkan kopi di meja.


"Ada projek besar yang harus aku tangani. doakan aku agar hasilnya memuaskan." jawab Tian dengan menyesap kopinya.


"Hmm ya." ucap Tea dengan menyalakan televisi.


"Apakah kau sudah baik-baik saja sekarang atau masih ada yang kau rasakan?" tanya Tian.


"seperti yang kau lihat. tadi itu hanya demam biasa." ujar Tea yang di angguki Tian.


"Jika ada apa-apa ceritalah padaku. sekarang kau adalah tanggung jawab ku. berjanjilah..." kata Tian


"Yayaya aku berjanji. " ujar Tea yang membuat Tian mengangguk.


"Aku ingin itu." kata Tian dengan isyarat matanya yang membuat Tea menoleh.


"Ya ambilah." kata Tea


"Kau yang ambilkan. kau tidak lihat tanganku sedang bekerja." kata Tian yang membuat Tea menatap dengan malasnya.


Ia pun mengambilkannya dan menyuapinya. sampai sejauh ini hubungan mereka semakin membaik dan terlihat lebih normal seperti pada umumnya. Tian yang masih sibuk bekerja dan Tea yang setia menemani dan menyuapi makanan.


Walaupun pembicaraan mereka belum terlalu banyak tapi melalu tindakan lah mereka mengerti satu sama lain.


"Tidurlah dulu aku akan menyusulnya sebentar lagi." kata Tian ketika melihat Tea yang menguap.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun pekerjaan Tian belum juga selesai. ia masih harus mempelajari beberapa file lagi agar semuanya sempurna.


"Aku ingin menyelesaikannya." kata Tea yang terus menatap ke arah televisi.


"Huffttt baiklah terserah kau saja." kata Tian yang terus melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian ia mendengar dengkuran halus. ia menoleh dan melihat jika istrinya sudah tertidur. ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya dan membawa Tea ke kamar. ia membaringkan dengan perlahan sebelum akhirnya dia juga ikut bergabung dalam satu selimut.


Seperti biasanya sebelum ke kampus, Tian pergi ke perusahaan ayahnya dulu dan menyerahkan berkas-berkas yang tadi malam dia kerjakan setelah itu ia ke kampus dan langsung menemui Siska.


"Siska bisa kita bicara sebentar." kata Tian ketika melihat siksa di koridor kampus.


"Tian, ya tentu saja." jawab Siska dengan tersenyum manis.


Sudah lama Siska tidak bertemu dengan Tian dan rasanya dia sangat senang karena Tian yang menemuinya lebih dulu. Ya, Siska menyimpan perasaan pada Tian namun belum sempat mengungkapkannya karena waktu yang selalu tidak pas.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Siska yang sudah sangat percaya diri dengan pemikirannya.


"Untuk apa kau mengunggah foto itu?" tanya Tian dengan terus terang membuat Siska bingung.


"Foto? foto apa yang kau maksud?" tanya Siska


Tian pun menunjukkan fotonya yang membuat Siska terkejut namun sebisa mungkin menutupinya dan berpura-pura tidak tahu .


"Ada masalah apa kau denganku sampai melakukan itu. bukankah kita teman baik sebelumnya? kau menyukaiku jadi melakukan ini padaku karena aku tidak membalas perasaan mu?" kata Tian yang membuat Siska benar-benar terkejut.


"Ti Tian apa yang kau katakan? aku benar-benar tidak mengerti ." ujar Siska.


"Sudahlah aku sudah tahu. tapi aku masih berharap jika ini hanya kesalahpahaman saja. hapus foto itu aku tidak ingin pihak kampus tau yang membuat namaku tercoreng gara-gara itu. aku mohon padamu." kata Tian kemudian pergi meninggalkan Siska yang masih berdiri mematung.


"Hah yang benar saja dia mengatakan itu padaku." gumam Siska dengan tersenyum kecut namun matanya memancarkan kemarahan.


Hari ini di kampus sangat sibuk. Tian dan salsa mengurusi hal-hal yang bersangkutan dengan tour yang akan mereka adakan besok. mereka terlihat sangat kompak dalam menjalani tugas sebagai pamandu tour sekaligus panitia yang menanganinya.


Semua persiapan mulai dari bus pariwisata, perahu serta penginapan semuanya sudah siap. mereka juga mendata ulang mahasiswa yang ikut tour dan membagi menjadi beberapa kelompok.


"Bagaimana dengan makanannya?" tanya Tian ada salsa.


"Semuanya sudah siap." jawab Salsa

__ADS_1


"Kita kumpulkan anak-anak dulu bagaimana?" kata Tian


"Ya itu ide yang baik." jawab Salsa


Mereka pun ke kelas dan menyuruh semua teman-temannya agar mendengarkan pembicaraan mereka. mereka membahas waktu berkumpul dan keberangkatan ada juga DC untuk semua yang ikut menggunakan baju bewarna kuning yang sudah mereka sediakan.


"Apakah tidak ada warna lain?" tanya Bily dengan mengeluhkan warna baju.


"Warna Pink yang kau maksud?" kata Salsa dengan tersenyum manis.


"Ahh yang benar saja warna kuning." keluh Bily .


"Besok kalian harus datang tepat waktu dan pastikan tidak ada yang telat karena jam 10 kita sudah harus berada di pelabuhan." kata Tian .


"Untuk makan dan minum kalian tidak perlu khawatir karena kita sudah menyiapkannya. kalian hanya harus fokus pada tugas kalian dan nikmati tour ini bersama-sama." salsa menimpali.


"Bawa perlengkapan yang sekiranya di butuhkan. kita disana hanya 5 hari saja. arahan lainnya nanti akan di sampaikan pak Bagus besok." lanjutnya.


Setelah selesai menjelaskannya, Tian dan teman-temannya pergi ke kantin. mereka juga membasah rumor kemarin yang ternyata sudah di temukan pelaku utama.


"Yan sepertinya aku tahu siapa di balik ini semua." kata Satria.


"Siapa?" tanya Wendi dengan penasaran.


"Siska." jawab Satria dengan santainya.


"Kau serius sat?" kata Wendi dengan terkejut.


"Kau lihat ini." kata Satria dengan menunjukkan ponselnya.


"Dia datang...." kata putra yang membuat semuanya terdiam namun tatapannya jelas tidak bisa berbohong.


"Tian, bisa kita bicara sebentar." kata Siska

__ADS_1


__ADS_2