
Saat ini Tian sudah berada di kampus. dari cara berjalannya saja ia sudah sangat lemas seperti tidak bertenaga sama sekali. teman-temannya pun juga merasa heran karena tidak biasanya Tian bermalas-malasan seperti itu. ya itu karena semalaman dia tidak tidur dan hanya memperhatikan foto yang dikirim oleh Tea.
"Kau begadang Yan?" tanya Rendi
"Hmmm begitulah." jawab Tian dengan malasnya.
"Ayolah kita juga tahu kau itu pintar tapi kau juga harus ingat waktu dan jaga kesehatanmu." kata Kevin dengan mengingatkannya.
"Tian." teriak seorang gadis cantik dengan menghampiri Tian dan kedua temannya.
"Aku membawakan mu vitamin. ku lihat kau sedang tidak bersemangat hari ini. ambilah." kata Siska dengan menyerahkan vitamin pada Tian.
"Hmm ya begitulah. terimakasih." kata Tian kemudian meminumnya.
"Tembak saja lah Yan yang seperti itu langka loh hahaha." ledek Rendi dengan tertawa yang membuat Siska memerah malu
"Berisik." seru Tian dengan tidak sukanya.
Tanpa kata-kata Tian pergi begitu saja meninggalkan kedua temannya dan siska. Rendi hanya menepuk bahu Siska saja dengan tersenyum karena ia tahu jika gadis itu menyimpan rasa lebih pada temannya.
"Aku yakin dia akan mengerti." kata Rendi yang hanya di balas senyuman kecil dari Siska kemudian mereka menyusul Tian.
Saat ini Tian duduk di kantin dengan secangkir kopi agar bisa menghilangkan sedikit kantuknya. ia membuka kembali ponselnya dan melihat lagi foto yang di kirimkan oleh Tea.
"Wahhh tespekk!!!" seru Kevin dengan suara yang cukup keras
Tian Langsung menjauhkan ponselnya dari Kevin. ia tidak akan membiarkan teman-temannya tahu hal ini.
"Kau salah lihat bodoh." seru Tian dengan menatap sinis ke arah Kevin.
__ADS_1
"Tidak mana mungkin aku salah lihat. wah seorang Tian benar-benar mengejutkan. apakah kau diam-diam sudah pernah melakukannya? wahh parah kau yan." kata Kevin .
"Woooo benarkah itu Vin? hahaha jadi alasanmu tidak pernah membalas perasaan Siska karena itu. hmm baiklah baiklah aku paham sekarang." ujar Rendi dengan terkekeh pelan.
"Sialan. apa yang kalian katakan. aku tidak melakukan apapun jadi jangan membuat cerita seperti itu jika ada yang mendengarnya itu bisa membuat masalah bagiku." kata Tian kemudian beranjak pergi.
"Hei yan kau mau pergi kemana?!" teriak Rendi.
"Sssttt apakah kau benar-benar melihatnya?" tanya Rendi yang ingin memastikan.
"Aku berani bersumpah Vin jelas jelas aku melihatnya. dua garis biru ren." jawab Kevin dengan hebohnya
"Kecilkan suara mu bodoh jika ada yang tahu dia akan dalam masalah." seru Rendi.
"Apa itu sebabnya dia sampai mengeluarkan mata pandanya?" tanya kevin yang membuat Rendi hanya mengangkat bahunya saja.
_________
Selama lima hari Tian tidak pernah tidur dengan nyaman. ia selalu bangun di tengah malam dengan keringat yang bercucuran di dahinya. ia bermimpi hal yang sama yang membuat ia merasa takut, gelisah dan mulai berfikir jika apa yang di katakan Tea adalah benar.
Setiap harinya ia selalu memikirkan Tea dan Tea. tak jarang juga ia berusaha untuk menghubungi gadis itu tapi tidak pernah ada jawaban sama sekali bahkan nomornya selalu tidak aktif.
Siang ini Tian pulang dari kampusnya lebih awal. dia ingin pulang terlebih dahulu untuk menemui Tea dan meminta gadis itu agar menjelaskan semuanya. tentu saja hal itu membuat kedua temannya bingung karena seorang Tian belum pernah izin dari kampus sebelumnya apalagi jika hanya mengurus hal kecil.
Tian mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. ia akan langsung ke rumah Tea walaupun sebenarnya dia ragu dan juga takut untuk mendatangi langsung rumah gadis itu tapi ia sudah bertekad untuk menemui Tea dan meminta penjelasannya.
Beberapa jam kemudian kini Tian sudah sampai di area perumahan tempat tinggalnya. ia berhenti agak jauh dari rumah Tea. laki-laki itu tengah menyiapkan mentalnya untuk hal ini. dia menghela nafasnya beberapa kali sebelum matanya menangkap sosok gadis dengan rambut terurai dan celana pendek keluar dari rumah yang sedang dia perhatikan. ya dia adalah Tea.
Dengan segera Tian langsung mengendarai motornya dan berhenti tepat di samping gadis itu. Tea yang melihat ada motor tiba-tiba berhenti di sampingnya pun ikut berhenti tapi ketika dia menoleh ia terkejut melihat siapa yang mengendarai motor tersebut.
__ADS_1
"Naiklah." kata Tian yang membuat Tea menatapnya dengan heran.
"Ada apa?" tanya Tea dengan bingungnya.
"Sudahlah naik saja kenapa kau banyak sekali bertanya." ujar Tian dengan kesalnya.
"Memangnya kenapa aku ingin berjalan kaki." kata Tea.
"Please..." ucap Tian dengan memohon.
"Memangnya ada apa? apa kau tidak masuk kuliah?" tanya Tea
"Hari ini aku hanya mengambil kelas pagi saja. ck sudahlah naik saja aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." kata Tian.
Tea menatap laki-laki itu dengan berfikir namun seketika Tian turun dan langsung membopong tubuhnya untuk duduk di atas motor itu.
"Apa kau sudah gila. bagaimana jika aku terjatuh." seru Tea dengan terkejutnya.
"Diamlah kau sangat berisik." kata Tian kemudian mengendarai motornya.
Tea hanya bisa berdecak kesal saja. sungguh saat ini dia sangat menghindari Tian tali entah ini kebetulan atau memang takdir mereka bertemu sekarang.
Tian mengajak Tea ke sebuah taman kecil yang letaknya jauh dari keramaian. suasana yang tenang dan sepi membuat Tian yakin jika disinilah tempatnya untuk berbicara empat mata dengan Tea.
"Turunlah." kata Tian dengan mematikan motornya.
"Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Tea dengan tidak mengerti tapi seketika tangannya di pegang oleh Tian dan laki-laki itu menariknya agar ikut dengannya.
"Kau ini kenapa tiba-tiba datang memaksaku untuk ikut denganku dan sekarang kau menarik tanganku seperti ini." kata Tea dengan menepis tangan Tian dengan kasarnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf." ucap Tea dengan raut wajah bersalah.