Be My Husband

Be My Husband
Perjalanan Tour


__ADS_3

Setelah semua berkumpul salsa pun langsung mengabsen mereka agar segera masuk kedalam bus karena mereka akan segera berangkat. mereka juga membagikan nasi kotak untuk sarapan. di dalam bus mereka tampak bergembira dan bercanda tawa.


"Kau tidak makan yan?" tanya putra yang duduk di sebelah Tian.


"Aku sudah sarapan." jawab Tian yang membuat putra heran karena laki-laki jarang sekali sarapan.


"Bagaimana dengan si Siska?" tanya. putra


"Bagaimana apannya?" tanya Tian lagi.


"Ya hubungan mu. bukankah kalian berpacaran beberapa waktu lalu." jawab putra.


"Omong kosong apalagi itu. aku tidak pernah berpacaran dengannya. dan sekarang aku tidak ada hubungan apapun dengannya." kata Tian dengan datarnya.


"Ya mungkin saja kan atau sekarang kau sudah punya pacar?" tanya putra yang mendapatkan tatapan mematikan dari Tian.


"Bercanda kawan kenapa kau sangat serius." ujar Putra yang memilih aman.


Setelah sekitar 2 jam mereka berkendara akhirnya kini mereka sampai di pelabuhan. mereka turun dan langsung menaiki perahu. suasana di pelabuhan sangat ramai dan tidak di ragukan lagi pemandangannya begitu indah.


"Aishhh panas sekali. Din kipasmu mana?" tanya Auliya dengan mengipasi wajahnya menggunakan tangannya


"ehh ini mau aku pakai. kau duduk di belakangku nanti kau akan terkena anginnya." kata Dinda


"Gila hari ini panas sekali." kata Auliya.


Saat ini tian berada di luar kapal untuk menikmati pemandangan. cuaca panas dan hembusan angin laut membuat siapa saja tidak ingin berpaling. ia mengambil sebuah gambar dan dia kirimkan ada istrinya.


Pukul 10 malam akhirnya mereka sampai di Bali. Walaupun tidur mereka terganggu namun mereka cukup bersemangat ketika sudah sampai di Bali. Mereka menuju ke penginapan dan beristirahat karena besok mereka akan melakukan tugas kuliah. tak lupa sebelum itu mereka makan malam bersama yang membuat suasana semakin hangat.


"Aku sudah sampai." -pesan yang di kirim tian pada Tea.


"Ya tidurlah ini sudah malam. apa vitamin yang aku bawakan sudah kau minum?"


"Sudah sebelum berangkat. kau juga tidurlah ini sudah larut."

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur. "


"Kenapa?"


"Entahlah."


Tian pun akhirnya melakukan video call dengan Tea. ia menggunakan earphone dan menuju keluar dari penginapan agar tidak menggangu. terlihat di layar ponselnya, jika tea tengah berada di ruang tengah. ia menggunakan kaos polos putih dan celana pendek serta rambut yang di ikat namun berantakan.


"Kau sedang dimana?"


"Aku di depan penginapan. apa yang sedang kau lakukan?"


"Apalagi, aku menonton drama. aku tidak bisa tidur."


"Lihat sudah jam berapa lebih baik kau tidur sekarang begadang tidak baik untuk kesehatan."


"Kau sendiri kenapa belum tidur?"


"Aku baru saja sampai dan harus mengurus beberapa hal."


"Aku dan temanku."


Mereka saling diam beberapa saat. Tian memperhatikan Tea dengan tersenyum dan tak berkedip. bagi Tian, Tea tidak terlalu cantik di bandingkan gadis-gadis yang selalu berusaha untuk mendekatinya, namun Tea menarik dan mampu membuat Tian tidak bisa menolak pesona itu.


Ia selalu menginginkan Tea dari dulu namun karena jarang bertemu dan juga ia terlalu gengsi untuk mendekatinya lebih dulu jadi dia hanya diam saja. Tea adalah gadis care dan friendly ke semua orang, dia tidak pemalu dan kerap kali menyapa Tian dulu atau menggodanya layaknya teman yang sudah sangat dekat.


"Kau tidak merindukan ku?"


"Apa?"


"Kau tidak merindukan ku?"


"Apakah harus merindukanmu?"


"Tentu saja harus. aku suamimu."

__ADS_1


"Ahhh tapi aku lebih merindukan mas agus."


"Siapa itu?"


"Adalah... dia laki-laki yang sangat aku cintai dan aku inginkan."


"Kau sadar apa yang sedang kau katakan."


"Tentu saja aku tidak sedang mabuk."


"Siapa Agus? kau ada hubungan apa dengannya?"


mendadak ekspresi Tian menjadi sangat tidak bersahabat ketika mendengar nama pria lain ada di antara percakapan mereka. berbeda dengan Tea justru wanita itu terlihat sangat santai dan tidak berdosa sama sekali.


"Pria yang aku inginkan."


"Jika kau menginginkan pria lain kenapa kau menikah denganku."


"Aku tidak memintamu untuk menikahiku. bukankah waktu itu kau menolak untuk bertanggungjawab atas apa yang sudah kita lakukan dan lagi aku juga tidak menyuruhmu untuk datang ke rumahku. kau sendiri yang menginginkan itu bukankah benar yang aku katakan."


"Tea aku sedang tidak bercanda!!."


"Kau pikir aku bercanda. aku tidak pernah seserius ini saat bicara."


"Ya terserah dirimu saja. pergi dan dapatkan pria bernama Agus."


Panggilan pun berakhir. mendadak emosi Tian meledak-ledak. ia mengepalkan tangannya dengan kuat-kuat. ia tidak percaya jika tea bisa mengatakan hal itu padanya.


"Kenapa dia mematikannya aku bahkan belum selesai bicara. apa katanya itu? pergi dan dapatkan Agus. huffftt jika saja mampu dan sekelas dengannya aku akan menjadi wanita paling bahagia sedunia." ucap Tea dengan menaikkan bahunya dan kemudian mematikan televisi dan menuju kamarnya.


Disisi lain Tian benar-benar merasa marah. ia sebelumnya belum pernah merasakan perasaan itu tapi sekarang dia merasakan dan sangat tidak enak karena sesak di dalam hatinya.


"Siall. apa yang sebenarnya dia lakukan? apakah selama ini dia mempermainkan ku. apakah yang dia kandung itu sebenarnya anaknya si agus bukan anakku. tapi tidak mungkin jelas-jelas aku yang pertama mengambilnya." gumam Tian dengan ekspresi yang sudah tidak bersahabat.


Walaupun ia baru saja tiba di Bali, tapi setelah mendengar ucapan Tea dia benar-benar ingin pulang dan langsung menemui istrinya itu untuk meminta penjelasannya.

__ADS_1


"Aishhh ****!!!!" teriak Tian dengan menendang botol minuman


__ADS_2