
Tian bangun dan tidak mendapati istrinya di sampingnya. ia pun langsung berdiri dan mencari di kamar mandi namun tetap tidak menemukannya hingga ia turun dan melihat jika tea tengah bermain laptop.
"Kenapa kau tidak tidur di kamar?" tanya Tian dengan duduk di samping Tea.
"Aku tidur di kamar." jawab Tea tanpa menoleh ke arah Tian sehingga membuat Tian kesal dan langsung menutup laptopnya.
"Kau marah denganku?" tanya Tian.
"Aku sudah menyiapkan sarapan. lebih baik aku mandi sarapan dan berangkat. mungkin aku akan sibuk dengan pekerjaan ku." kata Tea dengan berdiri dan berlalu pergi .
"Tea...masalah tadi malam aku bisa menjelaskannya." kata Tian namun Tea sedikitpun tidak ingin mendengarkan alasan apapun karena itu justru akan semakin menyakiti hatinya.
Tian melihat ke arah meja makan dan disana sudah tertata rapi beberapa makanan dan kopi. namun Tian malah melangkah menuju kamar Tea dan mengetuknya berulang kali.
"Apa lagi?" tanya Tea yang sudah siap dengan baju pergi serta menenteng tasnya.
"Kau mau kemana?" tanya Tian.
"Bukankah aku sudah bilang tadi. aku hampir telat, assalamualaikum." kata Tea dengan mendorong tubuh Tian dan berlalu pergi.
Tentu saja Tian tidak membiarkan tea begitu saja. namun bukan Tea namanya jika ia menurut. terjadi perdebatan pagi itu yang membuat Tea benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Tian.
"Waktuku sangat berharga jadi jangan mengganggu!!" kata Tea yang langsung menancap gas mobilnya.
Tian yang frustasi pun hanya bisa mengacak-acak rambutnya saja. ia pun masuk kedalam dan langsung membersihkan dirinya setelah itu ia pergi ke kantornya.
Tea memang pergi untuk suatu pekerjaan. ia mendapat undangan ke sebuah acara anniversary perusahaan tempat dia bekerja lebih tepatnya menulis dan membuat komik, serta ada pameran dan launching dari komik yang sedang naik daun.
__ADS_1
Sementara di kantor Tian langsung menemui Alin dan menyeretnya ke dalam ruangan. terjadi perdebatan juga di antara mereka. selama ini memang Alin tahu jika bosnya itu sudah mempunyai istri namun entah kenapa meskipun dia tahu tapi ia tidak bisa menolak pesona Tian.
"Kau juga tidak datang bukan. biarkan saja istrimu tahu lagipula hubungan kita bukan hanya kemarin. kita sudah menjalin hubungan 6 bulan." kata Alin dengan santainya.
"Apa kau gila Alin!!! untuk sekarang jangan hubungi aku dulu aku tidak mau rumah tanggaku berantakan. aku mohon. dan aku akan menyelesaikan semuanya duku." kata Tian kemudian berlalu pergi.
"Apa yang dia katakan tadi??" ucap Alin dengan tidak percayanya.
Tea sudah sampai di sebuah hotel tepatnya di ballroom dimana tamu-tamu sudah ramai berdatangan. dia seorang diri karena memang tidak ada kenalan sama sekali hingga tiba-tiba ada seseorang yang menyenggolnya membuat ia terhuyung dan hampir jatuh.
"Ahh maafkan aku aku benar-benar tidak sengaja." kata Seorang pria yang baru saja menyenggol Tea.
"Tidak masalah aku yang minta maaf karena berdiri di tengah jalan." ujar Tea.
"Aku Devano." ucap pria itu yang ternyata bernama Devano.
"Ya begitulah. apakah kau kesini sendiri?" jawab Devano dengan tersenyum canggung.
"Ya sendiri." jawab Tea dengan tersenyum.
"Ayo bergabung ke mejaku. disana ada teman-teman ku juga." kata Devano yang membuat Tea mengangguk tanpa pikir panjang.
"Ya....kenalin ini Tea." kata Devano ketika sudah berada di mejanya.
"Oh hahaha apakah kau tadi keluar untuk menjemputnya?" tanya salah Ria dengan menggoda Devano.
"Ah tidak bukan begitu. kita hanya kebetulan bertemu saja. sebenarnya aku baru saja kenal dengannya." kata Tea.
__ADS_1
"Aku kira kau adalah kekasih Devan. yasudah duduklah kenapa masih berdiri. sebentar lagi acara akan di mulai." ujar Ria.
Sebelum acara dimulai mereka terus berbincang-bincang. walaupun baru kenal tapi percakapan mereka benar-benar terdengar sangat akrab dan masuk satu sama lain, mungkin karena profesi mereka juga sama jadi mereka saling membagi pengalaman dan pengetahuan yang sekiranya ada yang belum di ketahui.
Sedari tadi Tian terus menelpon yang membuat Tea kesal dan akhirnya menonaktifkan ponselnya. disisi lain Tian yang tiba-tiba tidak bisa menghubungi Tea pun menjadi frustasi karena Tea tidak memberitahu kemana dia akan pergi.
Tian sengaja pulang lebih awal namun tidak mendapati Tea berada di rumahnya hal itu tentu saja membuat Tian khawatir dia mencoba menghubungi Tea kembali namun lagi-lagi ponsel istrinya itu tidak aktif.
Sementara Tea, masih menghadiri acara anniversary dan tengah berbincang ringan dengan teman-teman yang baru dia kenal. ia benar-benar melupakan masalahnya dengan tian, ia menemukan ketenangan berbaur dengan orang-orang hebat yang menjadi satu idolanya.
pengetahuan dan wawasannya tentang menulis pun semakin bertambah banyak apalagi mendapatkan motivasi dari mereka. sungguh bagi Tea sendiri itu adalah pengalaman pertama yang paling berkesan dan sangat menyenangkan.
Pukul 9 malam Tea baru keluar dari hotel tempat acara di adakan. ia menuju ke toserba untuk membeli makanan ringan dan minuman kopi kemudian mengendarai mobilnya pulang.
Karena jarak menuju rumahnya cukup jauh jadi dia sampai di rumahnya pukul 10 malam. ketika ia memarkirkan mobilnya, ia mendapati Tian tengah berjalan menghampirinya dengan raut wajah tak biasa.
"Kenapa kau tidak mengabariku sama sekali?" tanya Tian
"Aku lupa membawa charger." jawab Tea dengan simplenya.
"Kau dari mana hah?" tanya Tian lagi
"Bukankah aku sudah bilang aku sibuk dengan pekerjaan ku." kata Tea .
"Pekerjaan? apa? bahkan kau tidak pernah keluar dan hanya di rumah. bukankah selama ini aku yang bekerja." kata Tian yang membuat tea langsung menatapnya dengan tatapan yang kurang suka.
"Kau pikir aku hanya mengandalkan uang darimu dan enggan bekerja begitu? sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu." kata Tea karena sudah terlalu lelah dan ingin segera beristirahat.
__ADS_1
"Kau keluar dengan siapa hah? laki-laki atau perempuan?" tanya Tian yang berjalan di belakang Tea namun tidak mendapatkan jawaban apapun