
hari yang di tunggu pun sudah Tiba. malam ini semuanya sudah siap. mereka mengendarai mobil dan menuju ke rumah tea. sementara di rumah tea, semuanya sudah menunggu kedatangan keluarga Tian kecuali satu orang, siapa lagi kalau bukan tokoh utama dari cerita ini yaitu Tea.
Gadis itu masih di kamar entah apa yang sedang dia lakukan di depan laptopnya. ayahnya juga tidak memberitahu jika Tian dan keluarganya akan datang. mereka juga tidak tahu apa yang di alami kedua remaja itu sehingga masih tenang-tenang saja karena bagi mereka pertemuan dua keluarga sudah biasa apalagi dalam bisnis.
Beberapa saat kemudian Tian dan keluarga pun sampai di depan rumah Tea. sudah berapa kali Tian menghela nafasnya sejak di perjalanannya menuju ke rumah Tea.
mamanya yang paham apa yang di rasakan putranya pun hanya bisa mengelus punggungnya saja untuk menenangkan dan meyakinkan Tian jika semuanya akan baik-baik saja. berbeda dengan Ayahnya, pria itu berekspresi datar dan sama sekali tidak berbicara pada Tian.
Merekapun turun dan langsung masuk ke rumah Tea. di dalam, mereka di sambut ramah oleh orang tua Tea. mereka berbincang ringan sambil bercanda sesekali. terlihat jelas jika Tian sangat gugup dan tidak terlalu nyaman dengan suasananya. berulang kali juga mama Lina mengangguk untuk meyakinkan Tian.
"Oh ya Hen sebenernya, selain aku ingin berkunjung kemari aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu dan meluruskan semuanya." kata Dirga pada sahabatnya.
Perkataan itu tentu saja membuat Hendrawan kebingungan karena tidak tahu apa yang sedang temannya itu katakan.
"Sudahlah kenapa kau bicara seperti itu. bukankah kita sudah seperti keluarga. apa yang ingin kau katakan?" tanya Hendrawan dengan menyeruput kopinya.
"Om Tante, dimana Tea kenapa dia tidak ikut disini?" tanya Tian
"Oh iya sebentar Tante panggil dulu ya. entahlah anak itu belakangan ini sering sekali mengurung diri di kamar dan jarang bicara. dia selalu murung dan banyak melamun. tunggu sebentar ya nak." kata Karina yang membuat Tian khawatir dengan keadaan Tea begitupun mamanya yang menatapnya juga.
Tok...tok...tokk
"Sayang apa kamu didalam?" tanya mama Tea yang seketika pintu kamar itu terbuka dan menampakkan seorang gadis cantik berwajah datar dengan earphone di lehernya.
"Ada apa ma? aku sedang mengerjakan tugas." jawab Tea dengan dinginnya.
__ADS_1
"Ohh ayolah kenapa kau bersikap begitu pada mama. turunlah, ayahmu menunggu di bawah." kata Karina
"Ya aku akan segera ke bawah. mama duluan saja." ujar Tea dengan menutup pintunya kembali
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Tea pun ke bawah. dari lantai atas dia melihat laki-laki yang sangat ingin dia hindari. dia menatap Tian dengan tatapan datar dan dingin. tak sengaja Tian pun juga menatapnya.
"maafkan aku Tea. aku adalah laki-laki terbodoh di dunia." batin Tian dengan merasa sakit hati ketika melihat bagaimana kurusnya Tea sekarang di bandingkan terakhir kali dia melihatnya.
"Sayang turunlah kenapa kau malah berdiri disitu." kata Karina yang membuat tea akhirnya menuruni tangga dengan terpaksa.
Dirga dan Lina memperhatikan Tea dengan jeli. sebagai seorang wanita Lina lebih paham bagaimana kondisi Tea yang sekarang karena itu dia langsung berdiri dan menghampiri Tea. ia menuntun Tea agar duduk di sampingnya.
"Astaga Rina anakmu sudah sangat besar dan cantik sekali." kata Lina dengan basa basi.
"Hahaha tentu saja Lin lihat dulu siapa ibunya." ujar Karina dengan terkekeh kecil.
"Aku baik-baik saja tan. bagaimana dengan Tante dan om?" tanya Tea balik
"aahh ya kami baik-baik saja nak." jawab Lina.
"Emm maaf om Tante boleh saya berbicara dengan Tea sebentar?' tanya Tian yang di angguki orang tua Tea.
Tian pun mengajak Tea keluar rumah dengan menggandeng tangannya tapi seketika langsung di tepis oleh tea dengan kasar.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Tea dengan datarnya.
__ADS_1
Tian hanya bisa menghela nafasnya saja sebelum akhirnya dia meminta maaf pada Tea.
"Aku benar-benar minta maaf untuk hal ini. aku tidak tahu jika kau sampai seperti itu. aku sangat sakit melihatmu seperti ini Tea." kata Tian yang membuat tea menatapnya sinis.
"Benarkah seperti itu? lalu kemana saja kau saat aku sedang dalam posisi itu?" tanya Tea
"Saat itu aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. terlebih lagi hal itu di luar dugaanku. jika saja aku lebih berhati-hati maka kejadian seperti ini tidak akan terjadi dan kau tidak akan mengalami semua ini." jawab Tian dengan menghela nafasnya.
"Ck omongan tidak penting. lagi pula semuanya sudah terjadi tidak ada yang bisa di perbaiki lagi. kedepannya kita bisa ambil jalan masing-masing dan bersikaplah seolah-olah kita tidak pernah mengenal." kata Tea dengan berlalu masuk
"Aku tau aku salah Tea karena itu aku ingin memperbaiki semuanya. aku janji setelah ini aku tidak akan menyakiti mu lagi." ucap Tian yang menyusul Tea.
"Oh kalian sudah selesai bicara?" tanya mama Lina yang di angguki oleh Tian.
"Emm sebelumnya saya minta maaf pada om dan tante..." ucap Tian yang membuat Hendrawan dan Karina saling tatap bingung.
"Ahahaha ada apa ini kenapa tiba-tiba saja kau meminta maaf?" tanya Hendrawan dengan bingungnya.
"Aku dan Tea memiliki hubungan khusus dan hubungan itu sudah terlalu jauh. kedatanganku kesini dan orangtuaku untuk memperjelas semuanya dan membawa ke jenjang yang lebih serius." perkataan Tian tentu saja membuat semuanya terkejut.
Orangtuanya hanya saling pandang saja melihat itu. saat ini mereka melihat Tian sangat tegas dan tidak ada rasa takut sama sekali mengatakan hal itu secara terang-terangan di depan Orangtua Tea.
"Anak ini kapan dia menjadi dewasa." batin Dirga dengan terus menatap Tian seksama.
"Hubungan itu sudah terlalu jauh apa maksudnya ya hahaha." tanya Hendrawan pada Tian.
__ADS_1
Disisi lain Tea mulai berkeringat dingin. entah dia takut atau apa yang pasti dia sangat gugup sekarang mendengar apa yang di katakan Tian di depan Orangtuanya. perasaanya campur aduk dan Karina menyadari itu tapi dia masih diam saja. tentu dia tahu apa yang Tian maksud tapi dia masih diam saja dan mendengarkan penjelasan Tian.