
Hari ini keluarga Tea dan Tian sedang mempersiapkan pertunangan anak mereka. tidak ada acara besar-besaran. pertunangan itu hanya di hadiri oleh dua keluarga saja dan itupun di adakan secara kecil-kecilan.
Saat ini keluarga Tian sudah sampai di rumah Tea. acara pun langsung saja di mulai. keduanya sama-sama memasangkan cincin di jari manis mereka. setelah selesai perasaan lega pun kini Tian rasakan begitupun juga dengan kedua orang tua mereka.
"Permisi Assalamualaikum...maaf pak Hendra saya telat karena acara di kampung sebelah baru saja selesai." kata seorang pria yang tiba-tiba saja datang membuat mereka semua menoleh.
"Ahh ya tidak masalah pak. silahkan duduk." ujar Hendrawan dengan mempersilahkan duduk
"Siapa pa?" tanya Karina dengan penasarannya.
Rupanya pertanyaan yang di lontarkan Karina mewakili semua orang.
"Beliau adalah ustadz Ali kenalan papa. papa menyuruhnya kesini karena untuk mengesahkan mereka berdua." jawab Hendrawan dengan santainya.
"Apa!!!!" seru Tea dengan terkejut.
"Pa apa-apaan ini. kenapa papa membuat keputusan sendiri." lanjutnya Tea.
"Ini sudah keputusan papa. semua papa lakukan semua kebaikan kalian berdua jadi jangan membantah. ustadz..." kata Hendrawan dengan menganggukkan kepala ke arah ustadz Ali.
"Baiklah nak kalian duduk di sini berdua dan pak Hendra disebelah saya." kata ustadz Ali.
Mau tidak mau Tea pun terpaksa menuruti perkataan papanya. dan ya dimulailah ijab qobul mereka berdua. walaupun begitu mendadak dan tidak ada persiapan namun acara itu begitu mengharukan bagi para wibu-wibu.
"Para saksi Sah." kata ustadz Ali
"Sah." jawab mereka serentak
__ADS_1
Akhirnya kini Tian dan Tea sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah secara agama. semuanya merasa lega walaupun mereka juga tidak menyangka jika pernikahan mereka akan di laksanakan secepat ini.
"Baiklah karena ijab qobul sudah selesai saya pamit terlebih dahulu pak karena saya masih ada 2 tugas lagi. permisi Assalamualaikum." kata ustadz Ali dengan beranjak pergi
"Baik pak sekali lagi terimakasih karena sudah menyempatkan hadir di sini." jawab Hendrawan
Para orang tua pun saling berbicara. sementara anak mereka sedang terduduk di sofa dengan jarak yang lumayan jauh. mereka hanya saling diam saja tidak ada sapaan sama sekali.
Plaakkkkk....
Tian menoleh mendengar suara tamparan itu. rupanya Tea beberapa kali menampar pipinya yang membuat Tian langsung menghentikan aksinya.
"Apa yang kau lakukan Tea? kenapa kau menyakiti dirimu sendiri." kata Tian
"Katakan padaku jika semua yang sudah terjadi ini hanyalah mimpi saja. aku tidak mungkin mengalami semua ini benarkah." kata Tea dengan menampar pipinya sekali lagi kemudian dia merentangkan kedua tangannya dengan lemas di sofa
"Tea...." panggil Tian dengan lirihnya tapi tidak mendapatkan jawaban apapun dari Tea.
Tiba-tiba saja suara Barito milik Hendrawan memanggil nama mereka membuat Tea langsung tersadar dari lamunannya dan menghampiri ayahnya bersama dengan Tian.
Hendrawan menyerahkan sebuah kunci rumah pada Tea yang membuat Tea bingung dan tidak mengerti begitupun juga Tian dan Karina.
"Apa ini pa?" tanya Tea dengan menerima kunci itu
"Sekarang kalian berdua bisa tinggal di apartemen. papa memberikan apartemen ini pada kalian. mulailah kehidupan baru kalian disana. dan untuk kau, jangan sampai kau menyakiti putriku lagi atau kau akan menerima akibatnya. jaga dia, aku sepenuhnya menyerahkan di padamu. tugasku sebagai ayah sudah selesai dan sekarang kau adalah gantiku. apa kau paham menantu." kata Hendrawan yang membuat Tian hanya mengangguk saja apalagi ketika mendengar kata-kata terakhir yang di ucapkan Hendrawan membuat dia malu
"Apakah papa mengusirku?" tanya Tea dengan tidak sukanya. karena dia tipe orang yang tidak akan betah jika tinggal di rumah orang lain.
__ADS_1
"Ya." jawab Hendrawan dengan santainya.
"Papa!!!!" teriak Karina dan Tea secara bersamaan.
"Kenapa papa membuat keputusan sendiri. seharusnya papa berbicara dulu dengan mama. bagaimana bisa papa membuat putri kita hidup sendiri. apakah papa tega hah!" seru Karina.
"Hei istriku apa kau lupa jika sekarang putrimu itu sudah menikah. coba kau lihat pria di sampingnya itu, dia suaminya kenapa kau harus bingung dan khawatir. dia akan bertanggungjawab pada putri kita." kata Hendrawan dengan santainya.
Tentu saja Karina khawatir, karena ini pertama kalinya dia akan berpisah dari putrinya apalagi sekarang putrinya sudah menyandang status baru dan lagi melihat Tian yang sekarang Karina belum sepenuhnya percaya untuk menyerahkan putrinya padanya.
"Tapi pa....papa tidak bisa begitu...." kata Karina yang langsung terdiam ketika Hendrawan mengangkat tangannya.
"Aku berjanji om Tante akan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang suami. dan aku berjanji tidak akan menyakiti putri om." kata Tian dengan penuh keyakinan dan sungguh-sungguh.
Melihat kesungguhan Tian membuat Hendrawan mengangguk dan menepuk bahu laki-laki itu. sementara Tea, gadis itu malah pergi tanpa berbicara apapun. dia menuju kamarnya untuk membereskan semua baju-bajunya. Ya rupanya hari itu juga Tea akan pergi dari rumah orangtuanya.
"Sayang apa yang sedang kau lakukan?" tanya Karina ketika masuk ke kamar anaknya dan mendapati jika ia tengah memegang koper dan memasukkan semua bajunya yang ada di lemari.
"Tentu saja pindah rumah ma apa lagi." jawab Tea dengan ketus.
"Saya maksud papa bukan begitu. kalian berdua masih bisa tinggal disini sampai suamimu mendapatkan pekerjaan." kata Karina untuk mencegah anaknya pergi.
"Tidak perlu menunggu ma Tea yakin suami Tea akan secepatnya mendapatkan pekerjaan dan kita akan memulai hidup baru di sana. mama tidak perlu khawatir. percayalah dengan Tea." kata Tea dengan memegang tangan mamanya.
"Kenapa tidak tinggal disini saja bersama mama. kau lihat kakakmu tidak pernah pulang dan sekarang kau juga aka pergi meninggalkan mama begitu." ucap Karina dengan sedih.
Tea hanya diam saja tidak bisa mengatakan apapun. jujur saja Tea juga tidak ingin jauh dari mamanya tapi dia harus melakukannya dan menganggap itu sebagai hukumannya karena sudah melampaui batas dengan Tian.
__ADS_1
"Maa...Tea akan sering main kesini jadi mama tidak akan kesepian." ucap Tea dengan memeluk mamanya.