
Mereka duduk dan sama sama terdiam beberapa lama. Tian tidak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana. ia beberapa kali melihat ke arah Tea yang hanya memperlihatkan ekspresi wajah biasanya seakan tidak pernah terjadi apapun. hal itu membuat Tian ragu untuk menanyakannya.
Tea sedari terus menunggu apa yang akan di katakan Tian pun akhirnya kesal sendiri karena laki-laki itu malah diam saja tanpa memulai pembicaraan apapun.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan disini? apakah kau hanya ingin diam saja seperti itu. ck itu sangat tidak penting. lebih baik aku pulang saja." kata Tea dengan berdiri namun seketika tanganku di cekal oleh Tian .
"Duduklah dulu. baiklah aku akan mengatakannya kenapa aku membawamu kesini. Hufttt aku tidak tahu harus memulainya dari mana karena jujur saja aku bingung. aku ingin kau menjelaskannya padaku tentang pesan yang kau kirim itu." kata Tian yang membuat Tea menatapnya.
"Apa yang harus aku jelaskan?" tanya Tea dengan bingungnya.
"Jelaskan semuanya padaku. apa maksud dari foto yang kau kirim itu. ku mohon aku tidak bisa jika kau terus diam seperti ini." jawab Tian.
"Bukankah aku sudah menjelaskan padamu di pesan itu juga. apakah kau mengajakku kesini hanya untuk bertanya hal ini padaku?" tanya Tea dengan sinisnya.
"Ya karena aku ingin mendengarnya dari kau." jawab Tian .
__ADS_1
Tea tersenyum kecil melihat Tian sampai memohon padanya seperti itu. dia tidak tahu harus bersikap apa sekarang. dia harus senang ataukah sedih.
"Kenapa baru menemuiku sekarang kenapa setelah aku mengirimkan pesan padamu kau tidak menemuiku bahkan kau tidak membalas pesanku sama sekali Tian. lantas ada apa sekarang kau ingin aku menjelaskannya. tidak ada yang perlu aku jelaskan lagi. anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. jangan menemuiku lagi. kita hanya akan menjadi teman dan akan tetap seperti itu." kata Tea dengan mata yang sudah memerah tapi sebisa mungkin dia menutupinya dengan cara memalingkan wajahnya. ia tidak mau jika Tian melihatnya menangis.
"Kenapa kau melakukan itu? seharusnya kau berbicara padaku dulu." kata Tian.
"Kata-kata mu waktu itu sudah mewakili semuanya Tian. dia tiada karena dia belum di takdirkan untuk ada di dunia ini. aku bersyukur untuk itu dari pada aku harus menjalani kehidupan ku hanya dengannya saja." kata Tea yang terdengar begitu santai di telinga Tian.
Mendadak laki-laki itu menatap Tea dengan alis yang menukik. dari cara bicaranya Tea, Tian menyimpulkan jika gadis itu sengaja menghilangkannya. ia pun memegang tangan Tea dengan begitu eratnya bahkan sampai Tea merasakan sedikit sakit.
Hari-hari ku selalu tertekan dan di penuhi rasa bersalah. aku selalu bermimpi di datangi seorang anak kecil yang selalu memanggil ku ayah jatah. kau tidak tahu bagaimana rasanya. dan kau disini....apakah kau tidak punya rasa bersalah sedikitpun setelah kau menghilangkannya dari dunia ini. jawab aku!!!"
Plakkkk....
Seketika Air mata Tea tidak bisa di tahan lagi. ia menampar pipi kiri Tian dengan kerasnya. ia tidak menyangka jika Tian akan berkata seperti itu padanya. ia tidak tahu bagaimana hari-hari yang dia lalui setelah kejadian itu.
__ADS_1
"Apakah kau berfikir hanya kau saja yang tertekan. disini yang paling tertekan adalah aku!! aku Tian. kau tidak tahu betapa menyakitkannya kata-kata mu saat kau mengatakan aku belum siap menjadi seorang ayah disaat dia sudah ada. kau bahkan melakukannya saat kau mempunyai kekasih. ya aku akui aku juga bersalah karena terlalu menyukai mu dan dengan mudahnya aku mau melakukannya denganmu. tapi kau tidak tahu Tian jauh di lubuk hatiku aku sangat tertekan, aku takut, rasa bersalah selalu menghantuiku. aku bersikap biasa saja karena aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui masalahku. dan kau dengan santainya berbicara seperti itu padaku. kau tidak tahu bagaimana posisiku sekarang yang kau tahu kau hanya ingin mengejar mimpimu dan melupakan apa yang sudah kau lakukan. kenapa? kenapa kau melakukan itu padaku. jika kau menginginkan diriku setidaknya jangan biarkan dia ada didalam rahimku. itu tidak akan membuat ku berada di dalam posisi seperti saat ini." kata Tea dengan emosi yang meluap-luap.
Gadis itu menumpahkan apa yang selama ini dia tahan seorang diri. air matanya terus mengalir kemudian ia menepisnya dengan kasar sambil mengatakannya. Sedangkan Tian yang mendengar ucapan Tea hanya bisa diam saja tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Apakah kau memang seperti itu apakah selama ini aku salah menilaimu. katakan padaku!!!" bentak Tea dengan suara kerasnya.
Jika saja saat ini mereka sedang berada di keramaian tentu mereka akan menjadi pusat perhatian karena pertengkaran ini. tapi ada satu orang gadis yang tak sengaja menguping pembicaraan mereka. dia adalah Bianca yang kebetulan juga ada di taman itu bersama dengan keponakannya.
"Ada masalah apa mereka? kenapa mereka terlihat sedang bertengkar? apakah mereka diam-diam memiliki hubungan." gumam Bianca dengan bertanya-tanya.
Bianca tidak tahu jika saat ini Tea sedang menangis karena posisi Tea membelakanginya. walaupun begitu ia tentu sangat tahu dan yakin jika gadis itu adalah Tea, temannya.
Tian masih diam saja dan mendengarkan semua yang keluar dari mulut Tea. ia melihat jika gadis itu lebih tertekan darinya sehingga mampu berkata-kata dengan emosional yang kuat.
"Maaf maafkan aku." ucap Tian yang tidak tahu harus berkata apa lagi melihat betapa tertekannya Tea.
__ADS_1
Tanpa aba-aba laki-laki itu langsung membawa Tea ke pelukannya. gadis itu semakin menangis ketika Tian tiba-tiba memeluknya.