Be My Husband

Be My Husband
Menemani dan Pelukan


__ADS_3

Hari ini Bianca meminta Tea untuk menemaninya ke rumah Tian. Sebenarnya Tea sangat senang tapi ia pintar menyembunyikannya dan seolah-olah dia terlihat sangatlah malas untuk kesana.


"Sebenarnya kau ini ada urusan apa?" tanya Tea dengan berjalan.


"Aku ingin menanyakan bagaimana pendaftaran mahasiswa baru di kampusnya." jawab Bianca dengan santainya.


"Jadi kau mau kuliah di sana?" tanya Tea.


"Hmm sepertinya begitu. Ehh tapi kau duluan yang masuk aku malu hehehe." kata Bianca yang membuat Tea langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh.


"Yasudah ayo pulang saja jika kau malu. kau yang berkepentingan kenapa aku yang masuk duluan." kata Tea.


"Hehehe baiklah baiklah aku yang masuk duluan." ujar Bianca dengan menghembuskan nafasnya.


Mereka berjalan dengan santainya sembari terus berbincang-bincang hingga kini mereka sudah sampai di depan rumah Tian. rumah yang cukup besar dengan dua lantai. Bianca masuk dan mengetuk pintu dengan gugupnya. karena sejujurnya dia sangat malu dan juga takut untuk ke rumah Tian. entah apa sebabnya ia juga tidak tahu.


Terdengar suara laki-laki yang dari dalam rumah dan menyuruh mereka berdua untuk masuk. dengan ragu-ragu Bianca membuka pintu dan mulai berjalan masuk. ketika sampai di dalam Bianca tidak bisa berkata apapun dia sungguh gugup sekali. berbeda dengan Tea justru gadis itu sangatlah santai dan tidak ada rasa gugup sekalipun.


"Ternyata kalian ku kira siapa. duduklah." kata Tian yang tengah duduk di ruang tamunya.


Mereka duduk di sofa empuk. Bianca merasa menjadi sebuah penghalang bagi kedua makhluk yang kini tengah duduk berhadapan itu. karena suasana mulai terasa canggung akhirnya Tian pun membuka percakapan.


"Oh iya mau minum tidak? akan aku ambilkan." kata Tian dengan menawarkan minuman.


"Tidak perlu repot-repot. duduk saja. oh iya kau sendirian saja di rumah kenapa rumah ini terlihat sepi sekali?" tanya Tea.


"Ya begitulah. mereka sedang mengunjungi nenekku dan aku baru saja bangun hahaha." jawab Tian dengan terkekeh kecil.


"Pantas saja aku mencium bau bau busuk disini ternyata kau yang tidak mandi hahaha. kau tidak pergi kemana-mana?" tanya Tea lagi.


"Tentu saja sudah. kau sendiri tidak pergi bersama pacarmu?" tanya Tian.

__ADS_1


"Pacarku saja ada disini." ujar Tea dengan santainya sambil mencomot kacang tanah yang tersedia di atas meja.


"Hei kau sangat tidak sopan. pemilik rumahnya saja belum menawarkan makanan kau sudah mengambilnya saja." seru Bianca yang merasa malu dengan tingkah Tea.


Tian memperhatikan Tea dengan senyum kecilnya namun seketika berubah menjadi lebih santai lagi. setelah berbasa-basi kini Bianca mengatakan maksud dari kedatangannya.


Tian pun menjelaskan beberapa hal tentang kampusnya. sementara Tea hanya mendengarkan saja pembicaraan mereka sambil terus memakan kacang tanah.


"Aku menyesal membawamu ta." bisik Bianca pada Tea.


"Ya ya lanjutkan saja pembicaraan mu. kacang tanahnya akan habis loh tidak masalah ya." kata Tea yang langsung mendapat pukulan dari Bianca.


"Dasar tidak tahu malu." seru Bianca dengan kesalnya.


"Habiskan saja hahaha." ujar Tian dengan tertawa.


"Nah kan dia saja tidak masalah kenapa jadi kau yang repot." cibir Tea.


"Ini nomor ponselku jika masih ada yang ingin kau tanyakan, hubungi saja aku." kata Yuan dengan tersenyum.


"Baiklah terimakasih. aku pamit pulang." kata Bianca dengan berdiri di susul Tea.


"Itu yang di belakang tidak mau disini dulu." kata Tian yang membuat Tea menoleh ke belakang begitupun dengan Bianca


"Kau belum meminta maaf padaku loh teh." lanjutnya dengan tersenyum kecil.


"Ta aku duluan ya kak Rendi sudah menelfon ku." kata Bianca dengan berlari kecil meninggalkan Tea.


"Hei Bi!!! kenapa kau meninggalkanku." teriak Tea yang ingin menyusul Bianca namun tiba-tiba tangannya di pegang oleh Tian.


"Disini dulu temani aku sebentar." kata Tian.

__ADS_1


"Tapi aku...." Tian Langsung menarik Tea agar duduk di sampingnya.


"Ck sebentar saja. aku sedang mengerjakan tugas jadi temani aku oke." kata Tian kemudian jarinya mulai berselancar di atas keyboard.


Tea hanya menghela nafasnya saja dan melihat bagaimana Tian dengan wajah seriusnya tengah menatap layar laptop yang ada di atas meja. Tea memperhatikan wajah Tian yang terlihat sangat tampan dengan seksama.


Tian yang menyadari ada dua pasang mata yang tengah menatapnya pun langsung menoleh ke arah Tea. dan benar saja gadis itu langsung gelagapan dan memalingkan wajahnya.


"Aku memang tampan hahaha." kata Tian dengan memuji dirinya sendiri


Sedangkan Tea hanya menatap dengan sinis saja dan bermain ponselnya. ia tidak lagi memperhatikan Tian dan sekarang Tian lah yang memperhatikan setiap inci wajah Tea. laki-laki tersenyum manis melihat itu.


"Teh." panggil Tian.


"Hmm..." jawab Tea tanpa menoleh dan terus sibuk dengan game nya.


"Tea." panggilnya lagi.


Tea hanya menolehkan kepalanya sekilas saja sementara matanya tetap fokus pada layar ponselnya. ia dengan serius memainkan game kesukaannya dan tidak lama kemudian ia berteriak dengan girangnya karena memenangkan permainannya.


"Hahaha aku sangat hebat." ucap Tea yang tanpa sadar langsung memeluk Tian saking senangnya.


Tian sendiri terkejut melihat tindakan Tea yang tiba-tiba saja memeluknya. jantungnya tidak bisa lagi di ajak bicara. ketika sadar dengan tindakannya Tea pun langsung melepaskan pelukannya. namun belum sempat ia melepaskan pelukannya, Tian malah memeluknya dengan sangat erat dan itu tentu membuat Tea bingung dan juga terkejut.


"Sebentar saja." kata Tian dengan memeluk Tea sangat erat serta dagu yang di letakkan di bahu Tea.


"Apa yang kau lakukan Tian." ucap Tea.


"Sebentar saja." ucapnya lagi tanpa menjawab pertanyaan Tea.


Tea pun masih bingung dengan tindakan Tian. dengan ragu-ragu ia pun akhirnya membalas pelukan itu dan kedua saling memeluk dengan begitu eratnya.

__ADS_1


__ADS_2