
Setelah pulang dari perusahaanTea langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. ternyata pekerjaan di kantor sangat jauh dari pemikirannya dan sangat melelahkan. ia benar-benar sangat bekerja keras hari ini hingga pulang tepat pukul 9 malam. walaupun hanya belajar saja tapi ia tentu akan membuat hasil yang bagus agar tidak mengecewakan papanya.
Setelah rasa penatnya sedikit menghilang Tea pun segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia mengeringkan rambutnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
"Sampai sekarang bahkan dia tidak mengirimkan pesan padaku. Baiklah mungkin aku harus memberitahunya aku tidak mau jika dia lepas tanggung jawab begitu saja." gumam Tea dengan menghela nafasnya beberapa kali.
Ia beranjak dan mengambil ponselnya. dia memeriksa nomor Tian dan melihat apakah pesan yang dia kirim sudah di baca atau belum namun belum sama sekali atau bisa dikatakan jika nomor Tian sudah tidak aktif lagi.
Tea pun mencari sosial medianya Tian dan melihat jika Tian tengah aktif. dengan segera ia mengirimkan pesan pada Tian.
Kling....
Tian yang akan kembali mengerjakan tugasnya pun mengambil ponselnya kembali dan melihat siapa yang telah mengirimkan pesan.
"Tea.." gumam Tian kemudian membukanya.
"Hai Tian. bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja."
"Oh iya kenapa nomormu tidak bisa di hubungi?"
"Aku sudah menggantinya hehehe."
"Begitu ya. ada yang ingin aku katakan padamu."
__ADS_1
Tian memilih untuk mengerjakan tugasnya saja dari pada berbalas pesan dengan Tea. ia melakukan itu bukan pada Tea saja tapi pada semua yang mengirimkan pesan padanya.
Kling..
Klinggg...
Klinggg...
Klinggg...
Ia masih tidak menghiraukan ponselnya berbunyi dan tetap fokus mengerjakan tugasnya. di lain sisi Tea hanya bisa menghela nafasnya karena tidak mendapatkan balasan dari tian.
"Apakah ini dia yang sebentar. hahaha lucu sekali." gumam Tea dengan mengusap matanya yang sudah berair
Setelah memberitahu semua pada Tian, ia pun memutuskan untuk tidur. seperti biasanya sebelum tidur tea harus mengonsumsi obat penenang dan obat tidur terlebih dahulu. dan tindakan Tea tentu tidak di ketahui orang tuanya atau temannya karena dia menyembunyikannya dari semua orang.
Dua foto yang di kirimkan Tea membuat rasa kantuk Tian menghilang. ia pun membaca pesan apa yang di kirimkan Tea.
"Aku hanya ingin memberitahu ini saja kenapa kau selalu mengindarku hahaha. kau ingat bukan kejadian di antara kita dan lihatlah dia sudah sekecil ini. aku minta maaf tidak bisa menjaganya hanya saja aku berfikir mungkin ini akan menjadi yang terbaik. aku tidak meminta pendapat mu karena aku tahu apa yang akan kau katakan. jadi menurutku ini yang terbaik untukku dan untukmu juga. seharusnya kau mengatakan padaku jika sebelumnya kau sudah mempunyai kekasih sehingga aku tidak akan melakukannya dengamu. apakah kau sengaja ingin membuatku seperti ini? ahahaha tidak tidak aku hanya bercanda saja. jaga kesehatanmu anggap saja semua yang sudah terjadi hanya mimpi belaka. jangan temui aku lagi. aku menganggap jika kita tidak pernah saling mengenal."
Satu buah foto Tespack dengan dua garis biru dan satu foto seperti sebuah anak katak yang masih berukuran sangat kecil. Tian memperbesar foto kedua dan terlihatlah jelas yang di kirimkan Tea.
Jantungnya berdetak dengan kencang ketika melihat gambar itu. ia menepis pikirannya jika semua yang Tea kirimkan adalah benar. ia tidak akan terlalu memikirkan hal ini. ia pun memutuskan untuk tidur.
Tengah malam Tian terbangun dengan keringat yang bercucuran di dahinya. nafasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja melakukan maraton.
__ADS_1
"Mimpi apa itu. kenapa aku bermimpi seperti itu." gumam Tian kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya setelah itu ia pun kembali tidur.
Namun bukannya tertidur justru laki-laki itu kembali terbangun. pikirannya selalu tertuju pada apa yang di kirimkan Tea padanya. bahkan ia sampai bermimpi jika seorang anak kecil mendatanginya dengan menangis sedih. tatapannya yang begitu dalam membuat Tian tersentuh.
Ia tidak tahu apa arti dari mimpi itu. ia pun mengambil ponselnya dan kembali memperhatikan foto yang di kirimkan Tea.
"Apa yang sedang aku pikirkan. bisa saja Tea hanya bercanda padaku. aku yakin tidak terjadi apapun padanya." kata Tian yang kembali menepis pikirannya.
Jika saja ada yang mendengar ucapan laki-laki tlitu tentu dia sudah mendapatkan satu tamparan keras. bagaimana bisa dengan tanpa rasa bersalahnya dia mengatakan hal itu setelah dia menaburkan benih di rahim seseorang.
"Tidak mungkin bukan. iya itu tidak mungkin. sudahlah lebih baik aku kembali tidur saja." kata Tian.
Mentari pagi menyeruak masuk melewati sela-sela jendela kamar seorang gadis yang kini masih setia memejamkan matanya. ia membuka matanya yang terlihat ada sebuah lingkaran hitam di bawahnya.
Ya memang gadis itu selalu kesulitan untuk tidur bahkan dia sering kali terjaga sampai pagi hari buta. ia kesulitan karena pikirannya selalu terlintas pada sesuatu yang hampir saja menjadi masalahnya. ia merasa sedang di penuhi rasa bersalah dan itu tidak akan pernah bisa hilang sampai kapanpun.
Ia beranjak menuju kamar mandinya dan membasuh wajahnya setelah itu kembali duduk di ranjangnya dan memeriksa ponselnya. ia menunggu balasan pesan dari Tian tapi tidak ada satu pesan balasan pun dari laki-laki itu. semakin kesini membuat Tea semakin banyak pikiran.
Hatinya tiba-tiba saja menjadi sesak. air matanya seakan ingin keluar tapi tidak bisa. lagi-lagi ia kembali mengambil obat pemenangnya dan meminumnya. ia diam sejenak menenangkan hatinya sebelum dia akhirnya keluar kamar.
Ponselnya berdering lagi dan ada satu panggilan masuk dari temannya yaitu Bianca. sudah lama sekali Tea tidak memberikan kabar apapun pada Bianca.
"Hmm." jawab Tea dengan singkatnya.
"Ohh ayolah ta ada apa denganmu kenapa kau tidak pernah mengabariku lagi."
__ADS_1
"Tidak ada. ada apa kau menelpon ku?" tanya Tea.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ya anggap saja sebagai refreshing pikiranmu. aku tidak tahu kau sedang ada masalah atau tidak karena kau tidak pernah memberitahu ku."