
"Mulai sekarang dan seterusnya kau tidak bekerja disini lagi." kata Tian yang membuat Alin terkejut.
"Loh kenapa? mas kau jangan bercanda." kata Alin
"Aku tidak bercanda. sekretaris Bily yang akan menggantikan posisimu sekarang." kata Tian .
"Tapi kenapa? kau tidak bisa memecatku begitu saja Tian. apa ini semua karena istrimu? kau lebih memilih dia di bandingkan aku?" kata Alin yang sudah tersulut emosi.
"Jangan sangkut pautkan dia dalam masalah ini. kau koreksi dirimu sendiri. silahkan keluar sebelum aku panggil sekuriti." kata Tian.
"Tian kau benar-benar brengsek." kata alin dengan mengepalkan tangannya dan berlalu keluar dengan perasaan marah.
Setelah Alin keluar Tian melemparkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan matanya kemudian ia menelpon Tea dan mengatakan jika dia baru saja memecat Alin.
Setelah kejadian itu hubungan mereka pun semakin erat. beberapa bulan setelahnya Tea kerap kali merasakan sakit yang teramat di kepalanya. ia juga sering merasa ada sesuatu di dalam perutnya.
Selama itu sikap Tian pun seperti biasanya namun ada sesuatu yang Tea rasakan tentang Tian dan firasatnya selama ini tidak pernah meleset jika soal Tian.
Ia mencari tahu dan menemukan fakta yang mengejutkan lagi karena pria itu mengulangi kesalahan yang sama lagi. setiap harinya keduanya selalu terlibat perdebatan karena sikap Tian dirasa semakin keterlaluan.
Sudah 3 hari ini Tian pamit untuk kerja keluar kota, namun tentu Tea tidak mempercayainya begitu saja. selama ini ia tidak pernah memberitahu siapapun masalah rumah tangganya bahkan kepada orangtuanya sekalipun. mereka menganggap jika rumah tangganya baik-baik saja padahal sebaliknya.
"Hallo Bi kenapa?" ucap Tea ketika menerima telepon dari sahabatnya Bianca.
"Ohh iya aku dirumah nih. suntuk hahaha...ya cepatlah kesini aku akan berganti baju dulu." ucap Tea dengan tersenyum.
Beberapa saat kemudian, bianca datang dan mereka langsung pergi menonton dan bermain wahana di mall. tea benar-benar menikmati dan sangat bersenang-senang namun lagi-lagi kepalanya terasa sakit yang membuatnya langsung berlari ke toilet
__ADS_1
Bianca hanya mengangguk saja ketika Tea mengatakan ingin ke toilet sebentar namun ia merasa ada yang aneh. sudah hampir setengah jam Tea tak kunjung kembali dari toilet membuat Bianca khawatir dan pergi menyusulnya.
Disisi lain, Tea menyalakan kran air agar tidak ada seorang pun yang mendengar dia kesakitan di dalam toilet. wanita itu terduduk lemas sambil meremas kepalanya yang semakin sakit. penglihatannya sudah kabur dan bibirnya sudah berubah menjadi pucat pasi. ia masih berusaha untuk sadar hingga samar-samar ia mendengar gedoran pintu dan suara tidak asing dari luar.
"Taaaa kau di dalam? lama sekali ayolah aku sudah lapar." teriak Bianca.
"Ta kau baik-baik saja? ta buka pintunya!! kau sedang apa di dalam jangan membuatku takut." kata Bianca lagi.
"Taaaaaa!!!!!" teriak Bianca setelah sangat keras berusaha membuka pintu toilet dan betapa terkejutnya ketika melihat Tea berada di lantai dengan kondisi yang sangat memperihatinkan.
"Ta kau kenapa?!!!" kata Bianca dengan khawatirnya.
"Aku baik-baik saja." ucap Tea dengan terbata
"Apa kau gila!!! kita kerumah sakit sekarang." kata Bianca yang membantu Tea berdiri.
Di rumah sakit, setelah mendapatkan penanganan dari dokter, Tea pun terbaring di ranjang rumah sakit dengan lemahnya. Bianca juga setia menemani Tea.
"Jangan katakan pada siapapun tentang ini Bi, aku mohon." ucap Tea.
"Tapi kau...." belum selesai berbicara dokter pun datang.
"Dok apa yang terjadi dengan saya?" tanya Tea yang membuat dokter itu menghela nafasnya kemudian tersenyum.
"Selamat nona anda sedang mengandung dan usia kehamilan anda sudah menginjak bulan ke 6." kata dokter yang membuat keduanya terkejut.
"Dok jangan bercanda." kata Tea hng refleks langsung bangun.
__ADS_1
"Apakah selama ini nona sering merasakan sesuatu di dalam perut nona? atau sering mengidamkan hal aneh-aneh atau semacamnya?" tanya dokter.
"Akhir-akhir ini memang perut saya aneh dan saya sering merasakan pergerakan. tapi mana mungkin saya hamil dok karena beberapa bulan lau saya di katakan sulit hamil lagi karena terlambat melakukan pembersihan rahim." ucap Tea.
"Tidak ada yang tidak mungkin nona buktinya sekarang kau hamil." kata dokter.
"Tapi perut teman saya tidak besar tuh dok seharusnya jika usianya sudah 6 bulan sudah kelihatan." kata Bianca menimpali.
"Mungkin karena pakaian yang nona pakai. apa nona ingin melihatnya?" tanya Dokter yang di angguki Tea.
"Permisi ya nona saya buka sedikit bajunya." ucap dokter dan langsung mengoleskan sebuah cairan di perut Tea
Mereka melakukan USG saat itu juga dan terlihatlah betapa sehatnya janin Tea di dalam perutnya. keduanya masih tidak percaya apalagi Tea sendiri. ia melihat hal itu dengan menangis terharu.
Penantian selama hampir tiga tahun ini akhirnya terwujud. Allah sudah mempercayakan dia untuk menjadi orang tua. ia pun mengelus perutnya yang ternyata sudah membuncit.
"Ta apa selama ini kau tidak sadar jika perutmu sudah sebesar ini?" tanya Bianca dengan menatap Tea .
"Tidak sama sekali. aku bahkan jarang memperhatikan perutku." jawab Tea.
"Astaga anak ini...ini kabar yang sangat bahagia ta. aaaaa selamat sayangkuuu akhirnya aku akan di panggil aunty sebentar lagi." ucap Bianca memeluk Tea dengan bahagianya.
"Kau akan memberitahu suamimu kapan?" tanya Bianca yang membuat Tea tersenyum kecut.
"Aku akan membuat kejutan untuknya disaat yang tepat. kau tahu Bi dia juga sangat menantikan kehadirannya." ucap Tea dengan tersenyum manis membayangkan bagaimana raut wajah bahagia Tian ketika mendengar kabar ini.
"Ya itu ide yang bagus ta." ujar Bianca.
__ADS_1
Melihat bagaimana raut kebahagiaan di wajah kedua wanita itu membuat dokter merasa bersalah jika mengatakan sekarang, namun ia tetap harus mengatakannya.
"Nona masih ada yang ingin saya sampaikan." kata dokter yang membuat keduanya menoleh.