Be My Husband

Be My Husband
Menghubunginya


__ADS_3

Malam ini adalah keberangkatan Rosa ke London. Tea dan orang tuanya mengantar dia ke bandara walaupun sebenarnya tea tidak mau tapi karena paksaan dari kakaknya akhirnya dia pun menurut.


Mereka mengantar Rosa sampai gadis itu benar-benar naik ke pesawatnya dan lepas landas setelah itu mereka pulang. di tengah perjalanan Tea yang melihat penjual martabak di pinggir jalan pun langsung menyuruh papanya menghentikan mobilnya kemudian ia keluar dengan riangnya.


"Ada apa dengannya. papa tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya." kata papa Hendrawan pada istrinya.


"Entahlah mama juga tidak tahu. beberapa hari ini dia terlihat aneh." jawab mama Karina yang juga tidak mengerti dengan sikap Tea.


Mereka berdua hanya memperlihatkan Tea yang tengah membeli martabak dengan raut wajah yang begitu ceria. setelah mendapatkan apa yang dia inginkan gadis itupun kembali ke dalam mobilnya.


"Hahaha aku sudah sangat lama tidak memakan ini. kalian tidak mau?" kata Tea


"Kau mau menawari kami atau justru tidak memperbolehkan kami untuk menyicipinya?" tanya mama Karina dengan sinisnya.


Tea hanya cengengesan saja mendengar penuturan mamanya. sesampainya di rumah gadis itu langsung menuju kamarnya. rasa bingung dan gelisah kembali menyelimutinya. ia mengambil ponselnya dan mengecek apakah ada pesan balasan dari tian atau tidak tapi belum ada satu pesan pun dari laki-laki itu.


Karena tidak tahu harus melakukan apa Tea pun akhirnya bermain di sosmednya.


"Hufffttt tidak ada yang menarik sama sekali. apa yang akan terjadi setelah ini. saat ini memang tidak ada yang tahu bagaimana kondisiku tapi lama kelamaan dia akan semakin membesar dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." gumam Tea dengan mengusap matanya yang sudah berair.


Ketika tengah asyik bermain ponselnya ada sebuah artikel yang membuatnya tertarik untuk membacanya. ia pun membacanya dengan begitu serius hingga selesai.


"Apakah aku harus melakukan cara ini. apakah tidak masalah. apa yang harus aku lakukan." gumam Tea lagi yang membaca artikel berisi seputar kehamilan.


Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. sungguh saat ini ia tidak tahu harus melakukan apa. hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidur saja. bukannya tidur justru gadis itu berguling-guling seperti cacing kepanasan. ia tidak bisa tidur. pikirannya selalu tertuju pada setiap hal yang sedang dia alami saat ini.

__ADS_1


Akhirnya ia pun beranjak dan mengambil jaketnya. ia keluar rumah dan mengendarai motornya menuju ke apotek. ia membeli obat penenang agar sedikit melupakan masalahnya. Ia meminum obat penenang itu kemudian ia memejamkan matanya dan tidur.


_________


Pagi ini di apartemen tempat tinggal Tian selama dia kuliah di universitas x, laki-laki baru saja selesai membersihkan diri setelah melakukan lari pagi mengelilingi kompleks. ia terlihat begitu tampan dan segar apalagi setelah mengenakan kaus putih polos di balut jaket jeans.


Hari ini ia akan melakukan studi tour ke luar kota untuk menyelesaikan semua tugas kuliahnya setelah itu barulah dia akan menerima kelulusan.


Ia mengendarai motornya menuju kampusnya terlebih dahulu.


Sesampainya di kampus semua teman-temannya sudah berkumpul. mereka harus meninggalkan kendaraan yang mereka bawa dan mengendarai bus yang sudah di sediakan pihak kampus.


Setelah semua orang sudah ada di sana merekapun langsung berangkat. di dalam bus, Tian membuka ponselnya yang beberapa hari ini tidak dia sentuh sama sekali. ketika melihat ada satu pesan dari gadis yang pernah berada di dalam pikirannya ia pun segera membalasnya.


Tak ada jawaban sama sekali dari gadis itu sehingga dia pun menghubunginya tapi masih belum juga mendapakuatkan jawaban sehingga ia pun hanya bisa menunggu saja jawaban dari gadis itu.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja."


"Ada yang ingin aku katakan padamu."


"Katakan saja."


"Apakah kau ingat kejadian waktu itu?"

__ADS_1


"Iya ada apa? aku belum memikirkan apapun tentang hal itu. aku belum siap untuk menjadi seorang ayah. aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu. oh iya kita lanjutkan nanti saja aku harus mengerjakan tugas. jaga kesehatanmu jelek😊"


Degg....


Jantung Tea seakan berhenti berdetak ketika membaca pesan yang di kirimkan Tian. air matanya seketika mengalir dengan derasnya.


"Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini. kenapa dia mengatakan hal itu padaku." ucap Tea dengan terduduk lemas di lantai.


"Sayang sarapan dulu." teriak mama Karina dari luar kamar tidur Tea.


Tea mengusap kasar air matanya kemudian berdiri dengan lemasnya. ia seperti tidak memiliki tenaga sama sekali untuk bergerak. ia turun ke bawah dengan langkah lunglai sehingga membuat papanya yang melihat hal itu nampak heran.


"Kau baik-baik saja Ta?" tanya papa Hendrawan ya g merasa jika putrinya sedang tidak baik-baik saja.


Tea hanya mengangguk pelan dan tersenyum saja menanggapi hal itu. tatapan papa Hendrawan pun tidak pernah lepas dari Tea. ia merasa ada yang di sembunyikan dari anaknya entah apa itu dia juga tidak tahu.


"Apakah kau sedang ada masalah?" tanya papa Hendrawan yang membuat mama Karina menoleh .


"Ck Papa apa-apaan sih. sarapan dulu bicaranya nanti saja." seru mama Karina dengan menegur suaminya.


Keluarga mereka memang selalu menerapkan aturan seperti itu saat makan tidak ada yang boleh berbicara sama sekali.


Setelah sarapan selesai Tea kembali ke kamarnya tanpa sepatah katapun.


"Mama sudah membelikan obat untukmu sayang. mama taruh di laci." kata mama Karina yang di angguki Tea.

__ADS_1


"Apakah Tea sedang sakit?" tanya papa Hendrawan.


"Ck Papa sibuk terus dengan pekerjaan papa sampai tidak tahu bagaimana keadaan putri kita huh." cibir mama Karina yang membuat papa Hendrawan hanya menggaruk kepalanya saja.


__ADS_2