
Sebelum tidur mereka menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu. pembicaraan ringan pun menyertai mereka namun kedekatan mereka sudah tidak seperti dulu lagi dan sekarang Tian sedang ingin memperbaiki itu semua.
"Kau yang membeli ini?" tanya Tea ketika melihat dua kantong berisi camila.
"Ya untukmu." jawab Tian dengan tersenyum.
"kenapa tidak sekalian kau bawa dengan tokonya." ujar Tea dengan sinisnya
"Nanti jika aku sudah punya banyak uang aku akan membelikannya untukmu. sekarang aku masih miskin jadi belinya segitu dulu." kata Tian .
"Heh gayamu." cibir Tea .
"Ayo tidur." kata Tian .
"Kau tidak lihat pekerjaan ku belum selesai." kata Tea
"Kau butuh bantuan?" tanya Tian.
"Aku bisa sendiri." jawab Tea dengan malasnya.
Tian pun langsung ikut membantu dan tidak lama semuanya sudah selesai dan kini mereka sudah berada di kamar dan berbaring sambil bermain ponsel.
"Tea...." panggil Tian dengan menatap Tea yang terus fokus pada ponselnya.
"Hmmm..." jawab Tea tanpa menoleh
"Teh...." panggil tian yang membuat Tea menoleh karena panggilan itu adalah panggilannya dulu padanya.
"Hihhh kau ini kenapa hah." seru Tea ketika Tian usil meniup telinganya.
"Aku disini. apakah ponselmu lebih menarik dari pada aku." kata Tian.
"Tentu saja kau sudah tau jawabannya." jawab Tea.
Semakin tidak di hiraukan Tea, Tian semakin jail yang membuat tea benar-benar kesal dan memukulnya namun bukannya tidak berhenti justru kejahilan Tian semakin menjadi jadi.
"Ya sudah ini aku sudah seperti ini. kau mau apa?" kata kata Tea dengan kesalnya sambil menghadap ke arah Tian.
"Mendekat lah." kata Tian yang membuat tea menurut.
__ADS_1
Tian pun menepuk lengah tangannya sebagai kode agar Tea menaruh kepalanya disana. karena sudah terlalu malas Tea pun hanya menurut saja. kini jarak mereka sangat dekat. Tian langsung melingkarkan tangannya di pinggang Tea dan merekatkan pelukannya.
"Aku sangat suka dengan wangi tubuhmu, jadi tetaplah seperti ini." kata Tian
"Aku tidak bisa bergerak bodoh." kata Tea dengan kesalnya.
"Karena itu kau jangan bergerak." ujar Tian dengan memejamkan matanya.
"Terserah kau saja lah." kata Tea yang juga mulai memejamkan matanya.
"Kau sudah tidur?" tanya Tian.
"Apa lagi?" kata Tea dengan malasnya.
Tian pun menyuruh tea agar menatapnya namun wanita itu terlalu malas dan enggan melakukannya. Tian pun memberikan ciuman selamat malam di kening dan pipi Tea dengan lembutnya.
"Boleh?" tanya Tian.
"Apa lagi? kenapa kau sangat berisik hah!" seru Tea dengan kesalnya.
"Aku hanya ingin mencium istriku apakah tidak boleh?" kata Tian.
Karena sudah terlalu kesal Tea pun langsung mencium Tian di seluruh wajahnya kemudian berbalik badan namun dengan sigap Tian membalikkan badannya lagi dan langsung mencium Tea dengan lembutnya.
"Terimakasih. sekarang kau boleh tidur. kesini mendekatlah." kata Tian dengan membawa Tea kedalam pelukannya. Keduanya pun tidur dengan saling memeluk.
"Ah ya aku lupa memberitahumu. besok aku berangkat tour 5 hari." kata Tian
"Hmm ya aku akan bangun pagi menyiapkannya. sudahlah tidur aku mengantuk." kata Tea.
Pukul 5 pagi Tea sudah bangun dan langsung menyiapkan segala yang di perlukan Tian. sementara laki-laki baru selesai mandi dan tengah menuju dapur. ia memasak makanan seadanya untuk sarapan.
"Aku sudah memasukkan semuanya apa yang kau butuhkan lagi?" teriak Tea dari lantai atas .
"Tidak ada hanya itu saja. kau turunlah aku memasak dan sebentar lagi matang." jawab Tian yang juga berteriak.
Tea pun kembali ke kamarnya dan mengambilkan tas yang sudah ia siapkan tadi untuk di bawa ke bawah. Tea yang melihat suaminya tengah berkutat dengan masakannya pun langsung membantu untuk membuatkan teh hangat.
"Sudah matang. ayo makan." kata Tian .
__ADS_1
"Kau nanti antarkan aku ke kampus." kata Tian di sela-sela sarapannya.
"Aku??" tanya Tea .
"Ya." jawab Tian dengan santainya.
Selesai dengan semuanya kini Tian mengeluarkan motor milik Tea dan memanasinya sebentar. Tea pun juga sudah bersiap dengan penampilannya begitupun juga Tian.
"Sudah?" tanya Tian ketika melihat Tea keluar dengan membawa tasnya.
"Ya cepatlah kau akan terlambat nanti." kata Tea
"Justru aku sedari tadi menunggumu." cibir Tian dengan sedikit kesal.
"Kau yang menyetir." kata Tian dengan merebut tasnya.
Tea hanya berdecak kesal saja dan langsung mengambil helmnya. untuk pertama kalinya dalam hidup Tian membonceng seorang wanita dan itu istrinya sendiri.
"Kau terlihat sangat keren." kata Tian ketika akan menaiki motor Tea.
"Pegangan bodoh atau kau akan jatuh." kata Tea yang mulai melajukan motornya membelah jalanan yang tengah ramai.
Ya di kota tempatnya tinggal memang selalu macet jika di pagi hari karena itu ia lebih memilih jalan tikus agar sedikit lebih cepat.
"Kau yakin dengan jalannya?" tanya Tian dengan sedikit khawatir karena dia belum pernah melaluinya selama ini
"Ck diamlah aku tahu jalan." kata Tea yang terus fokus pada jalanannya.
Setelah beberapa menit berkendara merekapun sampai di depan kampus Tian. bertepatan juga dengan teman-teman Tian yang juga datang.
Melihat Tian datang bersama seorang wanita membuat mereka langsung berlari menghampiri Tian.
"Minum vitaminnya aku sudah memasukkan di tasmu dan hati-hatilah aku akan langsung pulang karena teman-teman mu akan menuju kesini." kata Tea .
"Ya kau juga. nanti aku akan mengabarimu." ujar Tian dengan tersenyum
"Woahhh tiannn kau datang dengan siapa ini?" tanya Satria namun Tea Langsung berlalu pergi tanpa menghiraukan mereka.
"Saudaraku." jawab Tian.
__ADS_1
"Adikmu?" tanya Putra.
"Sudahlah ayo masuk." kata Tian untuk menghindari pertanyaan yang tidak penting dari teman-temannya.