Be My Husband

Be My Husband
Sya mempunyai kakak


__ADS_3

Sya pulang tanpa Kin. Ia sudah diberi kabar oleh presdir Han sebelumnya, sekarang Sya sedang berduduk manis di depan TV.


Tok Tok Tok


Ketuk seorang dibalik pintu. Dengan cepat Sya membuka pintunya, ia kira itu adalah atasannya ternyata ia salah berpikir. Yang datang kerumahnya adalah Kakaknya. Barak Aldiano Toria adalah nama dari kakak sekretaris yang cantik nan manis.


"Kenapa kau tak bilang padaku jika ingin datang," Sya menatap kakaknya tajam.


"Memangnya kenapa?. Kan kakak mu ini tampan, jadi tidak harus bilang aku boleh datang." Ucap Dian dengan tatapan sedikit meledek.


"Jika aku memiliki dua kakak laki-laki, kau tidak akan menjadi yang paling tampan, jelek." Ejek Sya.


Sya mempersilahkan kakaknya masuk kedalam. tanpa di duga-duga Kin datang dan menghampirinya, lalu menatap Dian dengan intens. Kin menggenggam tangan Sya saat ini, lima jadinya menyelusup masuk ke sela-sela jadi Sya.


Sya terkejut.


"Kin in–"


"Diam Sya"


"Tapi dia ka–"


"Diam sayang," Kin membuat Sya dan Al terkejut.


"Lo siapa?" ucap Al, membuat Kin meliriknya dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Seharusnya gua yang nanya." Kin menatap intens lawan bicaranya.


"Jawab saja" Sya berbicara tanpa suara yang ditujukan sang kakak.


"Diam" Tegas Kin, menatap Sya dengan intens.


"Jadi, siapa nama lo?" Kin kembali bertanya.


"Nama gua Barak Aldiano. Lo?" Al melipat tangannya.


"Lo nggak perlu tau," ucap Kin, meninggalkan Al seorang diri di depan pintu.


"Memang lo sia–" teriak Al karena kesal akan perbuatan Kin.


"Pacarnya!" saut Kin, suara tegasnya seperti membentak.


'Posesif sekali' batin Al memerhatikan mereka hingga hilang dari penglihatannya. Lalu ia menyusul adiknya yang sedang bersama pria posesif pikirnya.


Kin membawa Sya kedalam mobilnya, ia menatap Sya dengan intens. Kin menngikis jarak keduanya, dekat, semakin dekat dan lebih dekat hingga hidung keduanya bersentuhan.


Tubuh Sya bagaikan patung, tidak bisa bergerak, terlebih Kin menahan tengkuknya untuk tetap diam. Jantung ini berdegup lebih cepat.

__ADS_1


Entah keberanian dari mana asalnya Kin mengecup pipi Sya dan membisikkan kata yang sangat sulit untuk dicerna.


"Sendiri untuku," bisik Kin membuat sang empu bergedik ngeri. Kin memundurkan wajahnya, namun tatapannya setia pada mata Sya.


"Siapa tadi?" Kin mengenggam tangan Sya cukup erat. Sya tidak tahan jika seperti ini lebih lama, ia takut detak jantungnya sampai ke telinga Kin.


"Kakak ku" Ucap Sya masih dalam keadaan mematung dan bingung, wajahnya sangat lucu ketika ia tidak bisa mencerna keadaan.


"Apa katamu!?" Kin terkejut. Sya tidak sedang mengigau kan?. Apa benar itu kakaknya?


"Iya.. itu.. kakak.. ku.." Sya mengucapkan dengan perlahan dan suara yang kecil. Kin mengeraskan rahangnya.


"Kenapa nggak bilang!?." Kin menyesali perbuatannya gang sangat tidak sopan.


Bukannya menjawab justru Sya bertanya balik, "Apa benar kau mencintaiku, Kin?," tanya Sya penuh harapan.


"Nggk, itu hanya akting. Aku kira dia seorang pejahat," ucap Kin melepaskan penyatuan tangannya. Lalu mematap malas ke arah Sya.


'Mana mungkin aku menyukaimu,' batin Kin menciotakan smirk di bibirnya.


"Lalu buat apa memanggiku sayang dengan nada yang lembut?" tanya Sya untuk memastikan.


"Kan sudah di jelaskan, saya hanya ingin menyelamatkan anda. Saat menuturkan kata sayang rasanya muak, apalagi itu tertuju padamu," cetus Kin.


Saat Kin berhenti menuturkan perkataannya, kakak dari Anasya Victoria datang untuk menjemput adiknya.


"Sana keluar!" usir-nya. Sya keluar mobil dengan tatapan sinis, andai saja Kin ini bukanlah bos-nya, mungkin sudah ia jadikan tempe penyet.


Kin melonggarkan dasinya, ia segere mengarahkan mobilnya ke dalam garasi lalu memarkirkanya. Dia berjalan dengan malas. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size.


Kin mulai memejamkan matanya, ia sedang mengingat sesuatu, seperti ada yang tertinggal tetapi dia tidak mengetahui barang apa itu.


"Aku sudah melupakan apa ya?," Kin sembari memijat keningnya, yang sedang berusaha untuk mengingat.


"Laptopku. Aku ke mansion Sya untuk ambil laptopku," ujar Kin, sudah mengingatnya.


"...akan ku ambil besok," kata Kin yang tengah mengganti pakaiannya, sedangkan di seberang sana, terdapat 2 manusia berstatus kakak beradik tengah bertengkar pasal Kin mengatakan 'pacarnya!' Sya bersisi keras untuk tetap mengatakan 'Dia adalah atasanku dan aku tidak memiliki hubungan lebih.'


Al tidak mempercayai adiknya yang suka berbohong dimasa kecil. Perlakuan Kin terhadap Sya layaknya seoasang kekasih. Sya menatap sinis Al, lalu Al membalas dengat tatapan tajam, siapapun yang melihatnya bergedik ngeri.


Tidak di herankan lagi jika Sya membalasnya dengan kata umpatan. Terkadang Sya dan Al bertengkar di tempat umum, tidak perduli tempat, dan mereka akan menciptakan kegaduhan saat mereka bersama.


Di lain tempat Kin sedang duduk didepan televisi, matanya tertuju pada layar televisi tapi pikirannya melayang ke angkasa lepas. Kin ingin sekali membuka laptop-nya, ia ingin melanjutkan film yang ia tonton kemarin sore.


Ia sudah tidak sanggup mengubur keinginannya kembali. Secepat kilat Kin menyambar ponselnya, lalu mengetikkan satu pesan singkat untuk Sya.


"Antar laptopku!" Kin mengirim pesan sebagai tanda perintah.

__ADS_1


"Aku perempuan, tidak baik keluar malam" jelas Sya lewat pesannya.


"Suruh pria itu"


"Aku akan mencoba"


"Harur diantar!" perintahnya mutlak.


Sya semakin kesal, tapi ia harus bersabar menghadapi CEO-nya yang sangat menjengkelkan.


"Heh! Kenapa lo," Al mengangkat satu alisnya.


"Anterin laptop gih," suruh Sya. Menatap kakaknya penuh harapan.


"Ke?" Tanya Al.


"CEO ku. kalau nggak mau, ayo temani aku kesana" Ucap Sya. Memakai jaketnya lalu menunggu Al bersiap.


Mereka menuju mansion Kin. Jika dilihat-lihat mereka seperti seorang kekasih yang ingin pulang bersama entah dari mana dan kemana tujuannya.


Tok Tok Tok


Kin yang berada didalam, berjalan menuju pintu lalu membuka pintunya.


"Oke," Ucap kin, meraih tas yang berisi laptopnya.


"...lain kali tekan belnya, jangan terlalu jadul." Ledek Kin menyunggingkan bibirnya.


"Yak! tidak tau teri–" geram Al terputus karena Kin segera memotong pembicaraannya.


"Pulanglah!" titah Kin, menutup pintunya, lalu kembali ke sofanya.


Kin menyemankan dirinya dan mulai membuka laptopnya, ia sungguh tidak sabar untuk melanjutkan filmnya. Tiba-tiba, terdengar umpatan dari luar ruangan.


"Akan ku habisi kau. Dasar pria tidak beretika," teriak Al yang sedang mengeraskan rahangnya.


"Apa dia mengeraskan suranya untukku, ck?" Gumam Kin sedikit berdecak.


Kin dengan santainya keluar dari kediamannya, menatap Al dengan intens dan detail dari ujung kaki hingga ke kepala.


"Sya bawa kakakmu ini pergi" Titah Kin, menutup pintunya dengan perlahan.


Kin belum menutup pintunya dengan rapat. Ia mambuka pintunya kembali, lalu berkata. "Suruh dia pergi" Ucap Kin, memancing emosi Al.



—Barak Aldiano

__ADS_1


__ADS_2