Be My Husband

Be My Husband
Hari pertama


__ADS_3

"Eum, presdir Han. Apa sekretaris baru itu sudah datang?"


"Belum, pak" Presdir Han menjawab dengan penuh rasa khawatir.


Setelah 30 menit menunggu. Akhirnya sekretaris baru-nya itu datang keperusahaan besar PT. KINdonesia, yang dimiliki oleh Kin Adhitama Elvran.


"Selamat pagi. Saya Anasya Victoria akan bekerja sebagai sekretaris pribadi mulai hari ini" Sapa hangatnya tidak mengubah raut wajah sang CEO, yang sangat angkuh dan dingin. Tetapi, jangan salah. CEO ini tampan nan gagah, ia pandai memimpin perusahaannya agar berjalan dengan lancar.


Sesudah memperkenalkan diri Anasya Victoria atau biasa dipangill dengan Nasya, mulai bekerja di detik ini.


"Presdir, Han" Panggil sang kepala perusahaan dengan sangat angkuhnya. Ia memanggil direkturnya yang sering disebut dengan Presdir. Direkturnya bernama Han Prataman.


"Iya, pak?" Saut presdir Han karena merasa dirinya terpanggil.


"Apa ada jadwal meeting hari ini?"


"Untuk hari ini, tidak ada pak"


"Baiklah, saya akan ajak sekretaris Sya untuk berkeliling dan saya akan memanggil sekretaris ku ini dengan sebutan sekretaris Sya" Ujarnya tetap dengan raut wajah yang angkuh.


"Baik, tuan"


"Jangan terlalu kaku padaku. Panggil Saya dengan sebutan pak"


"Iya, saya akan membiasakan diri"


"Oke, ikut saya"


Mereka berdua pergi tanpa presdir Han, yang tengah sibuk mengerjakan dokumen-dokumen penting.


CEO Kin dan sekretaris Sya mengunjungi beberapa sudut perusahaan itu. Melihat lalu mencoba untuk mengingat. Damai, tentram, dan terasa aman, itulah suasana yang dirasakan sekretaris Sya. Setelah beberapa saat mereka tidak ada yamg membuka suara sedikit pun.


Tiba-tiba, sang sekretaris jatuh akibat heels-nya yang tersangkut di sela-sela bangku , dengan tidak sengaja ia mendorong sang kepala perusahaan tersebut. Lalu terjatuh, Dengan posisi sekretaris Sya diatas tubuh Ceo Kin.


Brukk....


Saling bertatapan, terkejut, dan gugup. Dengan sigap mereka kembali berdiri dan menata pakaian yang sedikit berantakan.


"Ma..maaf. Saya tidak sengaja tu..pak" Ujar sang pemilik rambut panjang.


"I..Iya tidak masalah. Lain kali berhati-hatilah" Ucapnya yang sedikit gugup, tetapi ia tetap mempertahankan sikap dinginnya dan menjaga kharismanya.

__ADS_1


"Baik, Pak Kin"


"Dan satu lagi, jangan terlalu kaku padaku. Walaupun, memang aku adalah atasanmu. ingat! Panggil aku pak" Dengan angkuhnya sang kepala direktur itu mengucapkan kata diakhir kalimat.


Beberapa jam setelah itu. Tepat pada pukul 12:00, semua karyawan mengunjungi kantin. Tetapi tidak dengan dua insan yang baru mengenal satu sama lain. CEO Kin memutuskan untuk makan siang di Restauran terdekat. Dan tentunya dengan sang sekretaris barunya. Mereka menuju restoran tanpa ada suara yang di keluarkan.


Berjalan dengan apiknya, berdampingan. Mereka yang melihatnya semua terkejut, siapa yang tidak mengenal CEO angkuh Kin itu. Sang pemilik perusahaan Besar PT. KINdonesia, walaupun perusahaan itu warisan turun-temurun dari mendiang kakeknya yang bernama Kin Axelle.


CEO Kin mengangkat tangan-nya menandakann jika ia ingin memesan sesuatu. Pelayan menghampirinya lalu dua oknum itu mulai memesan.


"Saya ingin memesan Beef gordon blue dan Flavoured soda orange, Sya? Mau apa?"


"A..i..iya, samakan saja, pak" Sejujurnya ia sangat gugup ketika ditatap oleh CEO-nya itu.


'Manisnya' Bicaranya dalam diam.


"Baik, tuan. Pesanan anda segera datang" Ujar pelayan itu dengan tatapan yang sedikit menggoda. Kin tidak tertarik sedikitpun melainkan bergedik ngeri. Seperti wanita penggoda pikirnya.


Pelayan itu pergi dan hilang dari penglihatannya. Sungguh menjijikan perlakuannya terhadap CEO kin.


'Apa dia mengiginkan uang ku?' ia bertanya pada dirinya sendiri.


"Suasana restoran ini damai ya, pa-"


"Teta—"


"Kin, panggil aku kin. Aku tidak menerima penolakan" Ujarnya telah mutlak.


"Baiklah, tuan tampan yang angkuh" Ucap sekretaris-nya itu sedikit meledek. Rupanya dia sudah tidak gugup lagi.


"Yak kau–" Ingin mengumpat. Tetapi, pelayan itu sudah datang.


"Maaf, ini pesanan anda, tuan tampan" Ucapnya dengan mengedipkan sebelah mata.


"Maaf, apa saya bisa bertemu dengan pemilik resto ini?" Tanya-nya kepada sang pelayang yang selalu menggoda CEO Kin dengan kedipan mata.


"Bisa, kebetulan pemilik restoran ini sedang berada di sini" Lagi lagi pelayan ini berbicara dengan tatapan yang menjijikan, rasanya CEO Kin ingin segera melaporkannya.


CEO Kin hanya menganggukkan kepalanya saat ditanya oleh pelayan itu, dengan cepat pelayan itu memanggil pemilik restoran itu.


Pemilik restoran pun datang dengan sangat sopan, tetapi kenapa ada karyawan yang seperti itu di tempat ini.

__ADS_1


"Maaf, tuan. Ada keperluan apa memanggil saya" Ya, suara itu berasal dari sang pemilik restoran ini. Bill Soekar adalah pemilik Restoran itu.


"Kenapa ada karyawan yang sangat tidak sopan disini?" Menatap sinis si pelayan tersebut.


'Aduh, matilah aku. Bodoh sekali aku' Guman-nya dalam hati kecilnya.


"Maaf atas ketidak nyamanan tuan disini. Sebelumnya, siapa nama keryawan itu tuan?" Ujarnya dengan sangat sopan. Laki-laki yang sangat sopan, bisa dibilang seperti itu.


"Tepat berada di sebelahmu, tuan" Ucapnya sembari melihat pelayan itu. Sang empu yang ditatap bergedik ngeri, tidak berani lagi untuk menatap mata elang CEO Kin.


"Sekali lagi mohon maaf atas ke tidak nyamanan-nya" Senyum hangatnya meluluhkan hati sang sekretaris.


Akhirnya Bill Soekar dan wanita yang berjalan dibelakangnya notabene pelayan menghilang dari penglihatannya.


"Apa itu tidak berlebihan, Kin?" Ujar sekretaris-nya sembari melihat dua insan itu pergi menjauh dari tempat duduknya.


Melihat sang sekretaris yang berlaku seperti itu mampu mencetak senyuman manis di wajah sang kepala direktur ternama itu. Sekretaris Sya pun bingung melihat atasannya yang mengembangkan senyum manisnya.


'Dimana sifat angkuhnya?' Sya bertanya pada dirinya sendiri, bahkan hati dan pikirannya sedang bertarung untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut.


'Kenapa dia terlihat lebih tampan ketika tersenyum?' Lagi-lagi ada pertanyaan yang muncul di pikirannya.


"Jangan melihatku seperti itu. Aku tau, aku sangat berkharisma" Sifat angkuhnya muncul kembali.


"Baiklah" Sya menjawabnya dengan ketus.


Sya tidak mendapatkan jawaban dari atasannya. Ketika dilihat, ternyata direktur itu sedang mengunyah makanan sambil menatapnya. Oh, tatapan itu sungguh dalam.


'Apa dia menyukaiku?'


'Jangan terlalu percaya diri'


'Jangan, kumohon jangan' Ucapnya dalam hati kecilnya dengan tubuh yang mengeras seperti patung. Ia kaku, gugup, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, matanya tidak bisa lepas dari mata elang dihadapannya.


'Sepertinya aku mulai mencintainya'


'Tidak, Tidak.Aku bicara apa tadi'


'Itu tidak mungkin' CEO Kin bertengkar dengan isi kepalanya. Menolak apa yang pertama ia katakan. Ia sungguh gugup, ia di harus kan untuk tetap menjaga kharisma-nya notabene direktur utama, tidak boleh terlihat gugup didepan sekretaris baru-nya.


__ADS_1


—Anasya Victoria


__ADS_2