
"Aku minta maaf." ucap Tian yang tidak tahu harus berkata apapun lagi.
"Kenapa? kenapa kau berkata seperti itu padaku? kenapa kau melakukannya padaku. jika aku tau kau memiliki kekasih aku tidak akan dekat denganmu apalagi sampai melakukan hal seperti itu." ucap Tea dengan sesegukan di dalam pelukan Tian.
"Maaf maaf aku tidak jika kau sampai mengalami hal seperti itu. maaf seharusnya aku mengetahuinya tapi aku malah menyalahkan mu. aku minta maaf." kata Tian kemudian melepaskan pelukannya dan menghapus air mata gadis itu
"Menikahlah denganku aku akan memperbaiki semuanya." kata Tian yang membuat Tea langsung menatapnya.
"Menikahlah denganku." kata Tian lagi.
"Aku tidak bisa." jawab Tea yang membuat Tian bingung.
"Kenapa? aku ingin menikahimu karena aku ingin memperbaiki kesalahan ku." kata Tian
"Tidak. seharusnya kau berfikir terlebih dahulu sebelum mengatakan ini Tian. kau bukan hanya menyakitiku tapi kau juga akan menyakiti kekasihmu. jika dia tau kau melakukan hubungan diam-diam denganku dia akan marah padamu kau tau itu." kata Tea yang membuat Tian tidak mengerti.
"Apa yang kau maksud? aku tidak mengerti. aku tidak pernah memiliki kekasih. satu-satunya perempuan yang dekat denganku adalah kau." kata tian.
"jangan gila Tian. aku tidak ingin melakukan kesalahan yang kedua kalinya denganmu. aku ingin mengakhiri semuanya sekarang." kata Tea.
"Tidak. itu tidak akan terjadi. kau harus menikah denganku Tea. aku...a aku...." ucap Tian dengan terbata. entahlah dia seperti tidak bisa mengatakan apa yang selama ini dia rasakan di dalam hatinya.
"Jangan pernah mempermainkan seseorang lagi. aku akan pulang dan kau tidak perlu khawatir karena aku bisa sendiri. ku harap kau tidak pernah lagi menemuiku." kata Tea dengan meninggalkan Tian
"Tea tunggu!!?" seru Tian dengan berlari dan memegang tangan Tea.
"Lepaskan aku." kata Tea dengan menepis tangan Tian.
"Aku serius dengan kata-kata ku. ayo menikah denganku." kata Tian tapi tidak di hiraukan oleh Tea. gadis itu justru pergi begitu saja yang membuat Tian mengacak rambutnya sendiri.
Sore harinya Tian sampai di rumah setelah memenangkan pikirannya. Rachel yang melihat Tian turun dari kendaraannya pun terlihat heran kenapa kakaknya itu pulang dengan wajah yang di tekuk.
__ADS_1
"Kenapa kau pulang kak?" tanya Rachel.
"Ahh minggir bukan urusanmu. anak kecil seharusnya belajar jangan mencampuri urusan orang dewasa." kata Tian.
"Gayanya selangit tapi masih menjadi beban orang tua huuuu dasar kak Tian." kata Rachel .
"Apa kau bilang? beban orang tua???!!!" seru Tian dengan tidak terimanya.
"Ada apa ini kenapa mama mendengarkan kalian bertengkar. Tian kau pulang." kata Lina mama Tian.
"Iya ma." jawab Tian singkat.
Mereka pun langsung masuk dan Tian Langsung pergi menuju kamarku. ia merebahkan tubuhnya dan memjamkan matanya sebentar dengan memikirkan sesuatu.
Entahlah kenapa saat ini dia sangat ingin menjadikan ucapannya tadi pada Tea menjadi sebuah kenyataan. ia tidak tahu kenapa ia bersikeras untuk hal itu. dan ia pun sudah memutuskan malam ini akan berbicara pada papanya soal apa yang dia inginkan.
Malam harinya Tian menemuimu papanya di ruang keluarga yang kebetulan disana juga ada mamanya. sebenarnya dia agak gugup dan canggung mengatakan hal ini tapi sebagai seorang laki-laki ia akan memberanikan diri untuk hal tersebut.
"Tidak pa. aku hanya ingin berbicara dengan kalian berdua " ujar Tian yang membuat keduanya langsung menatap Tian.
"Ya katakan saja." kata papa Dirga pada Tian.
"Aku ingin menikah " kata Tian yang hanya dia angguki oleh keduanya namun sesaat kemudian mereka berdua sadar dan kembali menatap Tian.
"Apa yang kau katakan?" tanya papa Dirga dan Mama Lina secara bersamaan.
"Aku ingin menikah." kata Tian lagi yang membuat kedua terkejut dan langsung berdiri.
"Astaga apa yang kau katakan Tian. jangan bercanda. siapa yang ingin kau nikahi hah kau saja tidak mempunyai kekasih." seru mama Lina dengan terkejut.
"Apa kau sedang tidak sehat karena itu kau pulang?" tanya papa Dirga yang sama seperti mama Lina.
__ADS_1
"Aku tidak bercanda. aku ingin menikah." kata Tian lagi .
"Memangnya kau ingin menikah dengan siapa?" tanya papa Dirga.
"Orang yang aku sukai, anaknya om Hendrawan." jawab Tian yang lagi lagi mereka keduanya terkejut.
"Rosa yang kau maksud? atau adiknya itu?" tanya mama Lina dengan begitu antusiasnya.
"Sebentar kenapa papa merasa aneh dengan permintaan mu ini Tian. kau selalu bilang ingin menikah nanti nanti dan nanti setelah kau bisa menggapai cita-cita mu tapi sekarang kenapa kau tiba-tiba mengatakan permintaan itu?" tanya papa Dirga dengan heran.
"Ck papa ini kenapa bukannya senang karena sebentar lagi kita akan segera memiliki cucu." seru mama Lina dengan sinisnya dan tanpa sadar mengatakan hal itu
"Tidak ma bukan seperti itu. apa yang sudah kau lakukan?" tanya papa Dirga dengan menatap Tian tajam.
Mama Lina hanya melihat suaminya saja dengan herannya karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran suaminya. sedangkan Tian yang melihat papanya seperti itu menjadi sedikit ragu untuk mengatakan semuanya.
"Katakan yang sebenarnya apa yang sudah kau perbuat!" bentak papa Dirga dengan suara tinggi.
"Pa tenanglah apa yang papa lakukan." kata mama Lina terkejut melihat perubahan suaminya.
"Katakan apa yang sudah kau perbuat sehingga kau tiba-tiba ingin menikah. apa kau melakukan kesalahan di luar sana hah." kata papa Dirga dengan berdiri.
Tian hanya diam saja dan belum memberikan jawaban membuat papanya geram sehingga dia menggebrak meja dengan begitu kerasnya membuat keduanya terkejut.
"Papa tenanglah." ucap mama Lina menenangkan.
"Aku memang membuat kesala...."
Plakkkk....
Belum juga selesai berbicara sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tian. laki-laki hanya diam saja dan menahan rasa panas di pipinya.
__ADS_1