Be My Husband

Be My Husband
Malam ini


__ADS_3

Tian benar-benar marah dan tidak mau bicara dengan Tea bahkan satu katapun. ia juga selalu menghindari Tea hingga membuat Tea kesal sendiri. dengan rasa kesalnya dia mengambil bantal dan langsung di lemparkan ke arah Tian hingga membuat suaminya terkejut.


Dengan langkah lebarnya, Tea menghampiri Tian dan langsung berdiri menyilangkan tangannya di depan Tian dengan raut wajah kesalnya.


"Kau ini kenapa hah!!!" seru Tea dengan kesalnya.


"Kenapa apa?" tanya Tian dengan datarnya.


"Kau tahu Agus sedang ada disini." kata Tea yang membuat Tian langsung merubah ekspresinya menjadi datar dan menatap Tea dengan tatapan yang sangat dingin.


"Oh begitu. kenapa tidak memberitahuku dari tadi. aku menjadi tidak enak hati karena sudah mengganggu kalian." kata Tian dengan beranjak namun Tea Langsung mendorong tubuh Tian hingga laki-laki itu terduduk kembali.


"Dasar gila apakah pikiranmu sempit seperti ini." kata Tea dengan kesalnya.


Tea pun menunjukkan foto mas Agus yang membuat Tian langsung menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ini mas Agus." kata Tea.


"Lalu kenapa?" kata Tian yang membuat Tea langsung memukulnya dengan keras.


"Terserah kau saja lah tian aku benar-benar kesal kau sangat menyebalkan." kata Tea dengan meninggalkan Tian yang masih duduk di sofa.


Tian pun mengambil kembali ponsel Tea yang tergelar di meja. ia memeriksa semua isi ponsel Tea dan isinya hanya orang yang sama yang Tea panggil Agus. ia juga memeriksa dengan siapa Tea berkirim pesan namun tidak laki lelaki manapun kecuali dirinya. ia pun mencari tahu siapa laki-laki di ponsel Tea.


Tian menepuk jidatnya karena tingkah bodohnya itu. ia cemburu dengan idola Tea dan mengabaikan Tea. ia pun berlari menuju kamar tea namun pintu kamarnya terkunci.


"Tea...buka pintunya." kata Tian dengan mengetuk pintu kamarnya.


"Tidak akan pernah." teriak Tea yang masih kesal


"Baiklah aku tau kau kesal tapi bukalah dulu pintunya." kata Tian yang terus mengetuk pintu


"Kau tidur di luar." teriak Tea


"Tidak. baiklah aku minta minta maaf tapi buka dulu pintunya." kata Tian yang masih terus berusaha.

__ADS_1


Dia pun mencari kunci cadangan namun tidak mendapatkannya setelah cukup lama ia mencari akhirnya dia pun hanya bisa berdiri di depan pintu dengan terus mengetuknya.


Ceklek....


"Apa?" tanya tea dengan tatapan datarnya.


"Lain kali jangan menyebut nama pria lain aku tidak suka." kata Tian yang langsung menyelonong masuk dan membaringkan tubuhnya di kasur.


"Kau marah dengan alasan tidak jelas huh." kata Tea dengan berdecak kesal


"Ahh sudahlah kita damai ya." kata Tian.


"Aku selalu damai kau yang tidak. mengabaikan ku tidak menjawab telponku. " kata Tea.


"Baiklah aku minta maaf. kemarilah." kata Tian.


"Kau selalu diam dan tidak mau berbicara. jika kau diam saja mana tahu jika kau benar-benar marah denganku." kata Tea yang membuat Tian langsung memasukkan Tea kedalam pelukannya.


"Iya iya aku paham. aku minta maaf. 3 hari tidak bertemu denganmu rasanya benar-benar ada yang hilang dariku." kata Tian dengan mencium kepala Tea.


"Dia teman kuliahku dan hanya sebatas kerja tim saja tidak lebih." ujar Tian dengan mengelus punggung Tea.


"Yaya tidak perlu menjelaskannya padaku." kata Tea .


"Kau tidak merindukan ku?" tanya Tian.


"Sudahlah tidur saja aku mengantuk." ucap Tea dengan membelakangi Tian.


Tian menciumi bagian tengkuk Tea dan merasakan wangi khas yang membuatnya enggan untuk berpaling. Entah kenapa Tian merasa udaranya mendadak berubah menjadi panas.


Tea yang memang tidak nyaman dengan apa yang Tian lakukan pun terus menggeliat dan kadang ia memukul Tian namun pria itu masih tetap ada posisinya.


"Sayang." ucap Tian yang membuat Tea langsung berbalik badan.


"Ck ada apa denganmu?" tanya Tea.

__ADS_1


"Sudah aku bilang diam tapi kau terus bergerak." jawab Tian.


"Apa yang kau katakan?" tanya Tea tidak mengerti.


"Kita sudah menikah tapi aku sejauh ini masih berpuasa. aku merindukanmu..." ucap Tian yang membuat Tea terkejut.


"A a aku... sekarang? aku belum siap." ucap Tea yang langsung paham kemana arah pembicaraan Tian.


"Huffftt hanya ciuman bibir tidak lebih." kata Tian dengan suara beratnya. tatapan matanya juga sudah tak biasa lagi. Tea hanya mengangguk saja dan mereka melakukan ciuman panas itu cukup lama.


"Aku tidak bisa bernafas." ucap Tea dengan terengah-engah.


Tian tidak mendengarkannya dan tetap melanjutkan aktivitasnya dengan satu tangan yang membimbing tangan Tea untuk menyentuh bagian yang benar-benar sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Tentu saja Tea terkejut ketika merasakan benda perkasa yang bersembunyi di balik celana suaminya. sebelum ia menauhkan tangannya tian lebih dulu memulainya.


"Aku tidak akan memaksamu melakukanya." ucap Tian yang kembali melancarkan aksinya.


"Lakukan secara pelan pelan saja itu sungguh nikmat." ucap Tian yang sangat menikmati sentuhan lembut dari istrinya.


"Aahhh apa kau sungguh tidak menginginkannya?" tanya Tian dengan suara seraknya.


Bohong jika tea tidak menginginkannya tapi ia masih berfikir dua kali untuk melakukannya. rasa sakit itu masih ada sampai sekarang jadi dia lebih memilih untuk mengikuti cara Tian.


"Aku mengerti....jika aku memintamu melakukan ini apa kau marah?" tanya Tian namun tidak mendapatkan jawaban apapun dan dia menganggap jika cara itu tidak masalah.


"Diamlah dan selesaikan saja aku sudah mengantuk." kata Tea


Tangan itu benar-benar membuat miliknya sesak dan ingin segera meledak. ia menyuruh tea agar melakukannya dengan cepat dan beberapa saat kemudian Tian pun berhasil meledak.


"Akhhhhhhh....." desah Tian ketika cairannya menyembur keluar.


"Sudah. kau lihat ini ihhhh ck." kata Tea dengan kesalnya dan membersihkan tangannya di kamar mandi.


"Terimakasih tenyata kau sangat pintar memainkannya." kata Tian.

__ADS_1


__ADS_2