
Tea menangis di dalam kamar mandinya. ia tidak tahu harus berbuat apa dengan janin yang ada di dalam kandungannya. ia juga tidak mengira jika ini akan terjadi.
"Apa yang harus aku lakukan hiks." ucap Tea dengan menangis.
Seketika ia mengusap air matanya dan berdiri. ia bermaksud untuk memberitahu Tian apa yang sedang dia alami. ia mengambil ponselnya di atas kemudian mencari nomor laki-laki itu.
"Apakah aku harus memberitahunya? bagaimana jika di tidak ahhh tenang Tea kau harus mencobanya jangan menyimpulkan sesuatu terlebih dahulu." gumam Tea dengan meyakinkan diri.
Ia pun mengirimkan pesan pada Tian namun tak kunjung mendapatkan balasan. Tea terus menunggu balasan tersebut sambil memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. bagaimana dia harus memberitahu orangtuanya tentang hal ini. ia larut dalam pikirannya sendiri hingga suara ponselnya menyadarkan gadis itu.
"Kenapa?"
"Apa kau sedang sibuk?"
Tidak aja jawaban lagi dari laki-laki itu yang membuat Tea semakin bingung. rasa takut, gugup, dan bingung menjadi satu. air matanya seakan ingin keluar jika saja ia tidak menahannya.
______________
Lima hari sudah berlalu setelah Tea mengirimkan pesan pada Tian. namun sampai saat ini ia belum mendapatkan balasan apapun bahkan pesan yang dia kirim tidak di baca sama sekali oleh laki-laki itu.
"Bagaimana ini. apa yang harus aku lakukan." gumam Tea yang semakin di Landa kebingungan.
"Ta kakak masuk ya." teriak Rosa dari luar kamar Tea.
Ketika melihat adiknya yang tengah mondar-mandir dengan raut wajah yang sangat gelisah membuat Rosa menjadi penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh adiknya.
"Kau sedang memikirkan apa ta?" tanya Rosa pada Tea.
__ADS_1
"Tidak ada kak." jawab Tea tanpa menoleh.
Rosa tahu jika saat ini adiknya tengah berbohong karena raut wajah yang di perlihatkan tea justru sebaliknya.
"cerita saja padaku. besok aku sudah berangkat." ucap Rosa yang membuat Tea menoleh.
"Apakah kau sangat suka berada disana." kata Tea dengan sinisnya
"Ya mungkin seperti itu. aku harus segera menyelesaikan studi ku disana." ujar Rosa
"Ada apa cerita saja padaku." lanjutnya lagi.
"Aku tidak tahu kak rasanya aku ingin sekali menangis saat ini." jawab Tea dengan suara pelannya namun terlihat sekali jika saat ini dia tengah menahan air matanya
"Apa kau sedang ada masalah?" tanya rosa dengan menatap adiknya.
Tea hanya menggeleng saja ia tidak bisa memberitahu yang sebenarnya pada kakaknya apa yang sedang terjadi padanya.
Ia pun keluar dan meninggalkan Tea sendiri di kamarnya. ia ingin memberikan waktu agar Tea bisa memikirkannya. setelah Rosa keluar, Tea kembali merenung. dia benar-benar bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Apakah aku harus menghilangkannya ataukah aku harus membiarkannya? apa yang harus aku lakukan sekarang? kenapa Tian sampai sekarang belum membalas pesanku." ucap Tea kembali memeriksa ponselnya.
Ia pun hanya menghela nafasnya saja. air matanya tiba-tiba saja langsung terjatuh namun ia menepisnya dengan kasar dan mengambil tas kemudian turun. ia melihat Rosa yang tengah bersantai di depan namun ia hanya melewatinya saja dan menuju ke garasi untuk mengeluarkan motornya.
Rosa yang melihat tingkah adiknya seperti itu pun semakin bingung. ia tidak tahu apa yang sedang di pikirkan Tea.
"Ada apa dengannya? aku rasa dia sedang ada masalah. sudahlah aku akan membiarkan dia dulu mungkin dia tidak butuh pendengar sekarang melainkan penenang. entah kemana anak itu akan pergi hufffttt." ucap Rosa dengan menghela nafasnya.
__ADS_1
Tea mengendarai motornya menuju ke rumah Bianca. ia ingin mengajak Bianca makan angin untuk menenangkan pikirannya sebentar walaupun ia tidak yakin jika cara itu akan benar-benar membuatnya melupakan masalahnya.
Sesampainya di rumah Bianca, ia mengetuk pintu dan keluarlah gadis cantik yang tengah memegang cermin di tangannya.
"Kenapa tidak bilang jika ingin kesini." kata Bianca yang sibuk dengan wajahnya.
"Ayo keluar." ajak Tea tanpa basa-basi lagi yang membuat Bianca langsung menurunkan cerminnya
"Kemana?" tanya Bianca dengan menatap Tea.
"Kemana saja aku butuh angin segar sekarang." jawab Tea yang memberikan Bianca hanya mengangguk saja kemudian masuk dan mengambil tasnya.
Selama perjalanan Tea hanya diam saja. Bianca bahkan sudah mengajaknya berbicara namun ia hanya mendapatkan jawaban singkat dan bahkan tidak ada jawaban sama sekali. tentu hal tersebut membuat Bianca merasa aneh dengan sikap Tea.
"Apakah kau baik-baik saja Ta?" tanya Bianca dengan penasarannya.
"Hmm sepertinya." jawab Tea seadanya.
"Apa kau ada masalah?" tanya Bianca lagi yang ingin memastikan jika temannya saat ini sedang baik-baik saja. tapi gadis itu merasa jika Tea sekarang tidak baik-baik saja.
"Tidak aku baik-baik saja." jawab Tea.
Tea mengendarai motornya menuju ke pantai yang letaknya agak jauh dari kawasan rumahnya. butuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai disana. Bianca pun semakin merasa aneh dengan sikap Tea karena ia jarang sekali pergi bermain ke pantai.
Sesampainya di pantai **** Mereka segera turun. Bianca dengan ringannya langsung berlari sambil menggandeng tangan Tea. melihat senyum Bianca yang terlihat sangat senang dan tanpa beban membuat Tea akhirnya ikut berlari.
Suasana pantai yang tidak terlalu ramai membuat mereka leluasa untuk melakukan sesuatu. Tiba-tiba saja Tea berteriak dengan sangat kencang yang membuat Bianca dan beberapa pengunjung lain menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Ihh kau membuatku malu saja. lihatlah orang-orang sekarang memperhatikan kita." seru Bianca
"Setidaknya itu membuat ku lebih baik." ujar Tea dengan tersenyum.