
"Papa tidak pernah mendidikmu seperti itu Tian. Siapa? katakan siapa yang sudah kau buat hancur masa depannya." kata papa Dirga dengan nada marahnya dan suara keras hingga sampai terdengar di kamar Rachel.
"Kenapa papa seperti sedang marah. apa yang terjadi." ucap Rachel dengan beranjak dari kamar tidurnya dan melihat apa yang terjadi.
"Apa maksudnya ini." tanya mama Lina dengan tidak paham.
"Katakan pada anakmu ini Lina. aku menyekolahkan dia bukan untuk menghancurkan masa depan orang lain. siapa Tian jawab papa!" bentanya lagi dengan marah
Tian hanya menunduk saja mendengar suara menggelar dari papanya. ini adalah pertama kalinya ia melihat papanya benar benar dalam keadaan marah begitupun juga dengan Rachel yang sedang melihat di balik tembok.
"Papa tenanglah. Tian apa yang sebenarnya terjadi. jelaskan sekarang " kata mama Lina.
"Aku mencintai Tea ma dan aku ingin menikahinya." kata Tian dengan tegasnya.
Perkataan Tian tentu membuat orangtuanya terkejut bukan main. mereka hanya bisa saling pandang saja. memang di jaman modern seperti sekarang ini terdengar begitu umum tapi tetap saja orangtua Tian merasa kecewa dengan perbuatan yang di lakukan Tian
Papa Dirga hanya bisa memijit pelipisnya saja. ia sungguh tidak bisa berfikir Tian akan bisa berbuat seperti itu.
"Minggu depan kita kerumahnya." ucap papa Dirga kemudian beranjak dari kursinya.
"Maafkan Tian ma. aku memang salah tapi aku tidak bisa diam saja setelah apa yang aku lakukan padanya. aku sudah berbuat dan akupun harus menanggung resikonya." kata Tian yang membuat mama Lina menatapnya dan mengelus punggungnya.
__ADS_1
"Jujur saja mama kecewa denganmu tian tapi semuanya sudah terjadi dan mama senang karena kau memintanya sendiri untuk menikahinya." ujar mama Lina.
"Sudah berapa bulan?" tanya mama Lina dengan senyum kecilnya namun hanya di jawab oleh hembusan nafas kasar Tian.
"Aku yang bersalah dalam hal ini. kesalahan terbesar ku adalah ini. jika waktu itu aku tidak mengatakan aku belum siap menjadi seorang ayah dia masih berada disini." jawab Tian dengan menunduk lemah
"Apa yang kau maksud? apakah kekasihmu menggugurkannya?" tanya mama Lina dengan terkejut.
"Tidak. dia tidak tahu apa saja yang harus di hindari saat wanita hamil tapi tetap saja ini bukan salahnya. ini murni kesalahan ku." jawab Tian
"Persiapkan dirimu Minggu depan kita ke rumah Tea." ujar mama Lina kemudian beranjak.
Di rumahnya seperti biasa Tea hanya merenung saja di balkon kamarnya. orangtuanya juga kerap kali berbicara pada Tea tapi Tea hanya menjawabnya sederhana saja.
Ia pun beranjak dan turun. di bawah mamanya sedang berbicara dengan papanya di ruang tamu. ia pun ikut bergabung di antara mereka membuat orangtuanya tersenyum.
"Apakah kau sudah baik-baik saja." tanya mama Karina
"Ya sedikit." jawab Tea dengan tersenyum kecil.
"Sebenarnya kau ini ada masalah apa sayang kenapa beberapa hari ini kau terlihat sangat murung." tanya papa Hendrawan.
__ADS_1
"Ada masalah kecil saja tapi itu sudah terselesaikan sekarang. tidak perlu khawatir aku baik baik saja." ujar Tea dengan meyakinkan orangtuanya.
"Benarkah begitu?" tanya papa Hendrawan dengan penuh selidik begitupun juga mama Karina.
"Iya ma pa. aku sudah baik-baik saja tidak perlu khawatir." ujar Tea.
Saat sedang menikmati makanannya tiba-tiba saja ponselnya berdering dan terlihat jika nomor asing yang memanggilnya. karena menurutnya tidak terlalu penting ia pun tak menghiraukan panggilan itu dan tetap melanjutkan makannya.
Tapi ponselnya tetap saja berbunyi sampai membuat Tea kesal sendiri dan langsung mengangkatnya. dia berbicara keras karena kesal tapi tak kunjung ada jawab ataupun suara apapun.
"Mungkin kau salah sambung. jangan menggangguku lagi." kata Tea yang bermaksud menutup teleponnya tapi sebuah suara membuat dia langsung diam
"Siapa ini?" tanya Tea tapi panggilannya di putuskan sepihak.
"Suara ini seperti suaranya tapi tidak ini bukan nomornya. tidak mungkin dia bisa menelpon ku kembali sedangkan nomornya sudah aku blok." gumam Tea.
Disisi lain Tian tersenyum kecil ketika baru saja mendengar suara gadis yang selalu membuatnya tidak bisa berfikir hal lain. Ya rupanya Tian juga jatuh cinta pada Tea.
Walaupun jauh di lubuk hatinya dia sangat menyesal tapi tak bisa di pungkiri jika dia juga bahagia karena dia adalah orang pertama dan akan menjadi orang terakhir di dalam hidup Tea.
"Kenapa aku tiba-tiba menjadi gugup seperti ini. ck ini sungguh bukan diriku." gumam Tian.
__ADS_1
Tak terasa hari pun sudah pagi. Tian dan keluarga sedang bersiap untuk ke rumah Tea. papa Dirga juga sudah membuat janji pada papa Hendrawan untuk bertemu dengannya lagi ini karena ada sesuatu yang harus di bicarakan.
"Aku harus memakai pakaian seperti apa. jangan sampai jika kau terlihat sangat tidak tampan saat bertemu dengannya." ucap Tian yang bingung ingin memakai pakaian apa.