Be My Husband

Be My Husband
Tidak Percaya


__ADS_3

Seperti baru kemarin mereka menikah tapi ternyata sudah dua tahun lamanya keduanya berada di atap yang sama. hubungan keduanya pun terlihat sangat baik dan jarang adanya pertengkaran di rumah tangga mereka.


Namun selama mereka menikah belum ada tanda-tanda jika tea mengandung. hal itu juga menjadi tanda tanya di benak keduanya tapi tidak ada yang mempermasalahkan hal itu justru membuat keduanya semakin ekstra berusaha untuk membuatnya.


Tian sudah menjadi CEO di perusahaan papanya. kinerjanya selama ini benar-benar membuat perusahaan Adirgan Group berkembang pesat dan memiliki beberapa cabang di luar kota. itulah sebabnya papanya begitu mempercayakan perusahaan pada Tian.


"Kau belum tidur?" kata Tian ketika Melihat istrinya yang datang dengan membawa secangkir kopi.


"Bagaimana aku bisa tidur jika kau saja masih sibuk dengan pekerjaan mu. akhir-akhir ini kau sangat sibuk dan tidak ada waktu sama sekali untukku." kata Tea


"Maaf bukan seperti itu hanya saja ada projek besar yang sedang aku tangani. aku berjanji setelah semuanya selesai semua waktuku hanya untukmu." kata Tian dengan memegang tangan tea.


"Hufffttt baiklah. segeralah tidur." kaya Tea dengan kesalnya namun berusaha menutupinya.


Tian yang mendengar Tea menghela nafas pun segera menyudahi pekerjaannya. dia menutup laptopnya dan langsung ikut berbaring memeluk Tea dari belakang. ia tahu jika tea saat ini marah padanya.


"Kenapa? kau marah padaku?" bisik Tian di telinga tea


"Tidak. aku hanya tidak suka saja kau tidak tahu waktu jika sudah di depan laptop dan tidak memperdulikan semuanya." jawab Tea.


"Mana mungkin aku tidak memperhatikan mu. bahkan setiap waktu setiap detik aku ingin selalu melihatmu dan menciumi aroma tubuhmu." kata Tian.


"Bukankan kita harus bekerja lebih keras lagi." kata Tian yang membuat Tea berdecak kesal.


"Ya selesaikan saja aku akan tidur duluan." ujar Tea


"Tidak bukan itu maksudku. aku ingin segera di panggil Dady." bisik Tian yang membuat Tea merinding. Malam itu mereka melakukannya lagi berharap apa yang mereka inginkan segera hadir di perut Tea.


Pagi harinya, Tea merenggangkan otot-ototnya di balkon rumahnya. seluruh badannya terasa sangat pegal akibat pertarungannya dengan sang suami semalam.

__ADS_1


Sementara tian sudah ke kantor lebih dulu tanpa membangunkan Tea. karena keperluan dapur sudah habis Tea pun memutuskan untuk berbelanja sendiri. dia pergi ke mall dengan mengendarai mobilnya sendiri.


Saat di parkiran, Tea tak sengaja berpapasan dengan Andrina teman sekolahnya dulu yang sedang berjalan bersama suaiminya dan anak perempuan kecil. dia menyapa dengan ramahnya dan mengobrol ringan sebelum masuk ke dalam mall.


"Oh ya dimana suamimu?" tanya Andrina


"Dia sedang bekerja." jawab Tea dengan tersenyum.


"Anakmu?" tanya Andrina lagi yang membuat Tea tersenyum kecil.


"Masih dalam proses." jawab Tea.


"Bukankah kalian sudah menikah lama ya. aku pikir anakmu sudah besar." kata Andrina yang langsung mendapatkan teguran dari suaminya.


"Ya mungkin belum di kasih kepercayaan untuk menjaganya." ujar Tea


"Apakah sudah periksa ke rumah sakit. mungkin di antara kalian berdua ada yang....".


"Aku hanya mengingatkan saja yang. baiklah aku duluan Tea semoga kau cepat dapat momongan." kata Andrina dengan menoleh kebelakang.


Tidak di pungkiri jika selama ini Tea juga menantikan kehadiran calon buah hatinya, tapi apalah daya Allah belum memberikan kepercayaan itu, tea juga tahu Tian begitu menginginkannya.


Sebelumnya dia tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan seperti itu tapi entahlah kenapa rasanya ada sesuatu yang menusuk kedalam hatinya.


"Apakah aku harus periksa ke dokter??" gumam Tea.


Pikirannya pun berkecamuk memikirkan hal tersebut hingga pada akhirnya tatapannya pun beralih pada seorang pria yang tengah berjalan dengan wanita.


"Bukankah itu Tian... tidak mungkin bukan dia ada disini." kata Tea yang langsung mengikuti keduanya.

__ADS_1


Ia berada di belakang mereka tidak terlalu jauh dan mendengar sedikit pembicaraan mereka. Tea pun berinisiatif untuk memastikannya dengan menelpon Tian. ia cukup terkejut ketika pria yang di depannya itupun mengangkat telepon .


"Hallo..." ucap pria di depannya itu yang membuatnya langsung overtaking.


Deg....


"Kau sudah sarapan?" tanya Tea yang yakin seratus persen jika pria di depannya itu memang benar suaminya.


"Aku akan makan siang nanti, sebentar lagi aku ada meeting."


"Baiklah aku akan kesana membawakan bekal." kata tea.


"Tidak perlu repot kau pasti lelah. aku sudah memesan makanan jadi tidak perlu khawatir....sayang kita sarapan ya aku lapar..." tiba tiba terdengar suara wanita di telepon Tian.


"Siapa itu?" tanya Tea.


"Aku tutup dulu karena akan meeting. kau jangan lupa sarapan." tian pun mematikan panggilannya sepihak.


Tea benar-benar tidak percaya apa yang sedang dia lihat sekarang. ia terus mengikuti kemana perginya Tian dan wanita itu. mereka menuju ke sebuah resto yang ada di mall tersebut dan bisa dia lihat dengan jelas jika itu memang benar-benar Tian.


"Itu sungguh dia...." ucap Tea dengan tersenyum kecut.


"Pantas saja beberapa hari terakhir ini perasaan ku tidak enak tentang nya." lanjutnya.


Ia mengambil beberapa foto untuk dia jadikan bukti setelah itu dia pergi dengan perasaan yang sudah tidak bisa di ungkapkan lagi.


"Apakah selama ini dia hanya berpura-pura saja baik dengan ku, berpura-pura begitu mencintaiku agar aku bisa melupakan semua apa yang sudah terjadi." gumam Tea.


Ia segera menyelesaikan belanjaannya dan kembali ke rumah. ia masih memikirkan apa yang baru saja dia lihat hingga ia hampir saja tabrakan dengan bus.

__ADS_1


"apa yang aku pikirkan." ucap Tea dengan memukul kepalanya dan berusaha tetap fokus menyetir.


__ADS_2