Be My Husband

Be My Husband
Bertekad


__ADS_3

"Aku akan ikut apa yang terbaik menurut orangtuaku." kata Tea yang membuat mereka menoleh


"Kita percepat acaranya saja bagaimana. umurmu juga sudah cukup walaupun terbilang masih terlalu kecil." kata Hendrawan yang di setujui semuanya.


"Berarti lamaran ini di terima?" tanya Dirga untuk memastikan


"Ya tentu saja aku menyetujuinya kenapa tidak." ujar Hendrawan dengan senyum simpulnya.


Suasana di rumah Tea pun mendadak menjadi penuh tawa dan candaan layaknya keluarga seperti pada umumnya. mereka juga membahas tanggal baik pernikahan anak-anak mereka.


Sementara di kamarnya Tea tengah menelfon kakaknya yang berada di Inggris. tentu saja kakaknya terkejut karena kabar itu begitu tiba-tiba dan dia juga merasa ada yang aneh.


"Kenapa kakak merasa ada yg aneh dengan pernikahanmu yang tiba-tiba ini Tea. apakah terjadi sesuatu antara kau dan Tian?" tanya Rosa dengan penasarannya.


Di seberang telepon terdengar helaan nafas dari Tea dan tiba-tiba saja suara sesegukan pun terdengar membuat Rosa yang sedang makan di cafe menghentikan makannya.


"Teaa kau kenapa? kau baik-baik saja? halo Tea tolong jawab kakak." kata Rosa dengan khawatirnya


"Haha tidak aku baik-baik saja. oh ya apa yang sedang kakak lakukan disana?" tanya Tea mengalihkan pembicaraan.


Karena penasaran akhirnya Rosa pun mengalihkan panggilan suara menjadi panggilan video. dan sesaat kemudian terlihat jelas wajah Tea yang terlihat baru saja menangis karena.


"Kau kenapa? ceritalah kakak janji akan mendengarkan mu." kata Rosa


"Aku baik-baik saja kak." kata Tea dengan berbohong


"Tidak usah berbohong. kakak tau kau baru saja menangis. kenapa? ada masalah apa? apakah kau tidak sedang dengan pernikahan itu? ataukah ku sudah memiliki orang yang kau cintai?" tanya Rosa


"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana kak. ini semua terjadi karena kesalahanku. jika saja waktu itu aku menolak tentu tidak akan menjadi seperti ini." ucap Tea dengan menepis kasar air matanya.


"Apakah kau mencintainya?" tanya Rosa yang paham apa yang sedang di alami adik kesayangannya itu.

__ADS_1


"Entahlah aku tidak tahu. dulu aku juga mencintainya tapi sekarang aku tidak tahu tapi rasa itu sudah tidak ada lagi dan sekarang aku sangat membencinya." jawab Tea


"Sayang...dengarkan kakak ya. membenci orang lain itu tidak baik. bukankah kau mencintainya? bisa jadi itu bukanlah rasa benci tapi kau sangat sangat mencintainya. ingatlah Tea benci dan cinta itu perbedaannya sangat tipis. jujur saja kakak saat ini kecewa padamu tapi semuanya sudah terjadi dan kakak hanya berharap yang terbaik untukmu di masa depan. kakak tau Tian adalah laki-laki baik dia tidak akan menyakitimu." kata Rosa dengan lembutnya.


"Entahlah kak rasanya ini seperti mimpi bagiku. aku belum siap mengemban beban itu." ucap Tea yang lagi-lagi menepis air matanya lagi.


"Jangan menganggapnya seakan-akan itu beban. bukankah adik kakak kuat bermental baja hahaha. sudahlah jangan menangis. di dunia ini tidak ada yang tahu takdir seseorang tapi kakak selalu berdoa yang terbaik untukmu kelak. kakak akan menyempatkan pulang jika hari pernikahanmu sudah dekat. jaga kesehatanmu disana jangan terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi tapi jadikan itu sebagai pelajaran agar kau tidak mengulanginya lagi ." kata Rosa.


"Hmm ya aku mengerti kak." ucap Tea dengan lemasnya.


Di luar ruangan Tian sedari tadi mendengarkan pembicaraan Tea. dia hanya terdiam saja mendengar apa yang di katakan Tea.


"Apakah kau sangat membenciku sekarang. aku benar-benar minta maaf. tapi aku berjanji untuk sekarang dan kedepannya tidak akan aku biarkan kau menangis karena ku." ucap Tian dengan mengepalkan tangannya penuh tekad kemudian berlalu pergi dari sana


.


.


.


.


Pikirannya menerawang masa depan. ingatannya selalu tertuju pada perkataan wanitanya. dia merokok untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.


Sesapan demi sesapan dia menikmatinya. ia menyesap seperti seorang perokok handal hingga pada akhirnya karena pikiran dia kosong membuat dia tersedak asap rokok saat menyesapnya.


Uhukkk...Uhukkk...uhukkkk


"Sialll....." umpat pria itu yang tak lain adalah Tian


Tak di sangka di belakangnya sedari tadi papanya terus berdiri dan memperhatikan apa yang sedang di lakukan anaknya itu. dia hanya diam saja ketika Tian terbatuk-batuk dan malah memilih untuk pergi.

__ADS_1


"Pa?? ada apa dengan Tian kenapa dia terbatuk sampai seperti itu?" tanya Lina yang khawatir ketika mendengar suara Tian yang sedang terbatuk.


"Biarkan dia merenungi keselahannya kau jangan ikut campur." kata Dirga dengan berlalu pergi


Sebagai seorang ibu tentu saja Lina tidak akan tinggal diam begitu saja. walaupun suaminya sudah memperingatkan tapi dia tetap saja masuk. ketika sampai di dalam dia terkejut melihat anaknya yang masih terbatuk tapi tetap menyesap rokok yang ada di tangannya.


Dengan segera dia menampik tangan Tian sehingga membuat rokok yang dia pegang terjatuh.


"Uhukk uhukkk...kenapa mama disini?" tanya Tian yang masih terbatuk.


Dengan segera Lina pergi mengambilkan segelas air dan di berikan pada anaknya.


"Apa yang kau lakukan Tian?" tanya Lina pada anaknya.


"Tidak ada ma Tian hanya penasaran bagaimana rasanya merokok." jawab Tian.


"Mama tau kau berbohong. mama ingin bertanya satu hal padamu." kata Lina yang membuat Tian menatapnya.


"Apakah mencintai Tea?" tanya Lina


"Kenapa mama bertanya seperti itu?" tanya Tian


"Iya ma aku mencintai Tea." lanjutnya.


"Lantas apalagi yang masih kau pikirkan? bukankah Tea juga mencintaimu?" kata Lina.


Melihat anaknya seperti itu membuat Lina hanya bisa mengelus punggungnya saja untuk memberi kekuatan. dia memeluk Tian terlebih dahulu sebelum dia meninggalkan kamar anaknya.


Tian pun langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur empuknya. tatapannya menerawang ke atas sambil menatap langit-langit rumahnya. ia mengambil ponselnya dan menghubungi Tea tapi gadis itu tak kunjung menjawab.


"*Tea kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Kenapa tidak menjawab teleponku*?"


Begitulah pesan yang di tulis tian untuk Tea.


__ADS_2