
Mereka bertatapan untuk sesaat sebelum akhirnya memulai kembali adegan panas tersebut. Tian sudah tidak bisa menahannya lagi sesuatu yang selalu dia jaga sudah memberontak untuk di keluarkan. mereka sama-sama menginginkan lebih dan lebih.
"Aku menginginkannya sayang?" tanya Tian dengan suara seraknya.
Tidak ada jawaban dari gadis itu, namun tindakannya di luar dugaan Tian. merekapun melakukannya atas dasar suka sama suka. menikmati rasa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Beberapa saat kemudian Tian menyuruh Tea untuk berhenti dan kemudian dia yang mengambil alih. nafas keduanya sama sama tidak beraturan, posisi mereka saat ini masih sama seperti tadi yaitu Tea berada di atas pangkuan Tian.
"Argghhh..." tubuh Tian menegang beberapa saat sebelum akhirnya terkulai lemas di atas sofa.
Seketika Tea merasakan ada sebuah cairan hangat yang menyembur di dalam rahimnya. tatapan gadis itu pun beralih pada Tian yang tengah memejamkan matanya dengan nafas yang tidak beraturan.
"Kau mengeluarkannya di dalam?!" tanya Tea yang juga masih mengatur nafasnya.
"Maaf sayang aku tidak bisa menahannya lagi." jawab Tian dengan pelannya.
"Bagaimana jika...." ucap Tea terhenti ketika bibir Tian sudah menyambarnya kembali.
"Itu tidak akan terjadi. percayalah padaku." ujar Tian dengan mengelap keringat yang ada di kening Tea.
"Sekali lagi ya." kata Tian dengan tersenyum kecil.
"Ahh apa-apaan kau ini. aku sangat lelah." jawab Tea.
"Tapi dia sudah bangun lagi apa kau tidak merasakannya." ujar Tian .
Memang benar jika miliknya sudah terasa sesak kembali. dan gadis itu juga bisa Merasakan jika milik Tian sudah bangun lagi.
"Kau gila ya." seru Tea dengan melototkan matanya tidak percaya.
"Hehehe aku belum pernah merasakan seperti ini asal kau tau." ujar Tian dengan bangganya.
__ADS_1
"Kau pikir aku sudah pernah begitu? hah kau benar-benar ya." ucap Tea dengan memukul kepala Tian.
Tian hanya tersenyum saja menanggapi hal itu kemudian mengangkat tubuh Tea tanpa melepaskannya. ia pun menyuruh Tea untuk berdiri membelakanginya sedangkan tangan gadis itu bertumpu pada meja. kemudian Tian memulai gerakannya dengan ritme pelan, pelan dan semakin cepat.
"Yaa kenapa kau sangat cepat. setidaknya biarkan aku mengambil nafas sebentar." kata Tea dengan menahan rasa nikmat yang di berikan laki-laki itu.
"Nikmati saja permainan ini. aku sudah lama menginginkan mu asal kau tahu tapi aku menahannya sampai sekarang." ujar Tian di sela-sela gerakannya.
Gerakan Tian semakin cepat dan cepat. ia mendorongnya dengan begitu keras dan lagi-lagi Tea merasakan cairan hangat masuk kedalam rahimnya. Tidak sampai di situ saja, Tian kembali mengangkat tubuh Tea dan membawanya ke dalam kamarnya.
"Bagaimana jika orang tuamu tiba-tiba saja pulang dan melihat kita seperti ini?" kata Tea.
"Sssttt diamlah." ucap Tian dengan mencium bibir lembut gadis itu.
Baru saja ingin memasukannya kembali sebuah suara membuatnya harus menghentikannya. ia hanya berdecak malas saja dan berusaha untuk menenangkan adik kecilnya yang sudah bangun dengan gagahnya.
"Ck awas saja jika brandal kecil itu yang datang." kata Tian dengan mengambil handuk.
"Kau disini dulu aku akan segera mengusirnya." ucap Tian dengan mencium kening Tea kemudian berlalu keluar.
"Tiannnn Hei Tiannnn." teriak Ilsan dengan mengetuk pintu rumah Tian dengan kerasnya.
"Aihh kemana orang itu, motornya ada di rumah tapi kenapa dia tidak keluar-keluar. Ti..." baru saja dia ingin memanggil nama Tian namun tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan seorang laki-laki tampan dengan rambut berantakan serta handuk putih di perutnya.
"Ada apa kau kemari?" tanya Tian dengan datarnya.
"Hei hei ada apa denganmu. apa aku membuat kesalahan?" tanya Ilsan dengan bingungnya.
"Ya kesalahan mu adalah datang kesini. sudahlah kau pulang saja aku mengusirmu." kata Tian dengan mendorong tubuh Ilsan.
"Yaaaa aku kesini untuk mengambil powerbank ku." ujar Ilsan yang membuat Tian langsung mengambilnya.
__ADS_1
"Ini. cepatlah pergi. aku ingin mandi." ujar Tian.
"Hahaha ya ya aku paham. ternyata kau jauh dari penilaian ku hahaha sangat agresif hahahaha. ingat jangan rusak masa depan anak orang ya hahaha aku pamit pulang." kata Ilsan dengan meledek Tian.
Laki-laki itu hanya menaikkan alisnya saja mendengar ucapan Tian. namun sesaat pun dia sadar ketika melihat di dadanya ada satu tanda merah yang membuat dia tersenyum kecil.
"Pintar juga hahaha. aku tidak akan menghapusnya." kata Tian dengan berlari menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Tian melihat Tea yang tengah membalut semua tubuhnya dengan selimut dan itu membuatnya terlihat sangat lucu. dengan segera ia langsung melempari tubuhnya dan menindih gadis itu.
"Apa?" tanya Tea.
"Satu kali lagi." jawab Tian dengan tersenyum manis.
"Ahhh aku sangat lelah." ucap Tea dengan menyembunyikan wajahnya.
"Ternyata kau sangat agresif. kau lihat ini." kata Tian dengan menunjukkan tanda merah di dadanya.
"Hah ma mana ada." seru Tea dengan memalingkan wajahnya.
Tian hanya terkekeh saja melihat itu kemudian melepaskan selimut dari tubuh Tea dan kini ia bisa dengan jelas melihat seluruh inci tubuh Tea yang polos tanpa sehelai benangpun.
Glekkk...
Ia menelan ludahnya dengan susah payah. miliknya juga sudah menegang keras melihat pemandangan itu. Tea yang tak sengaja melihat aset laki-laki yang ada di depannya itupun langsung memerah dan memalingkan wajahnya.
"Apa yang ku lihat. i itu be besar sekali." batin Tea dengan menelan ludahnya.
Merekapun kembali melakukannya dengan dua pencapaian yang di lakukan Tian. setelah itu mereka sama-sama terkulai lemas di atas ranjang.
"Aku belum siap menjadi seorang ayah." ucap Tian yang membuat Tea langsung membuka matanya dan bangun.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Tea.
"Ahhh Tidak ada hahahaha kemarilah aku ingin memelukku." ucap Tian dengan menarik Tea dan memeluknya dengan penuh kasih.