Be My Husband

Be My Husband
Kondisi Tea


__ADS_3

Tea berlari menuju kamar mandi, ia menguncinya dan menyalakan krannya. sebenarnya sedari tadi kepalanya sudah sangat sakit namun hatinya jauh lebih sakit mendengar perkataan Tian.


Ia benar-benar tidak menyangka Tian bisa mengatakan hal seperti itu yang dalam artian lain Tian mentalak Tea secara tidak langsung.


Ia memukul dadanya untuk mengurangi rasa sesak di hatinya. kepalanya benar-benar sangat sakit. ia duduk di bawah shower dengan air dingin yang mengaliri tubuhnya.


Wajahnya sudah terlihat sangat pucat, badannya gemetaran dan tidak mampu untuk berdiri lagi seakan tidak mempunyai tulang. dalam setengah kesadarannya, ia masih berusaha untuk menjauh dari guyuran air dingin itu mengingat ada satu nyawa yang harus dia jaga.


Ia menangis sesenggukan ketika dalam sekejap ia melupakan kehadiran malaikat kecil yang sudah Allah percayakan padanya. namun tenaganya tak cukup mampu dan dalam hitungan detik Tea sudah terkapar tidak sadarkan diri di bawah guyuran air.


Saat itu Bianca yang memang sengaja ingin ke rumah Tea karena dia baru saja ke supermarket yang letaknya tak jauh dari rumah Tea cukup heran dengan kondisi rumah Tea yang sangat berantakan.


"Jangan-jangan." gumam Tea ketika melihat ponsel Tian yang sudah hancur berkeping-keping.


Ia masuk kedalam rumah dan langsung berlari mencari keberadaan Tea namun ia sama sekali tidak mendapati Tea sama sekali. Bianca semakin panik dan khawatir namun ia masuk terus mencari hingga ia mendengar suara percikan di kamar mandi yang membuatnya menghela nafasnya dengan lega.


"Ta kau didalam? kau baik-baik saja?" teriak Bianca namun ia berfikir positif jika sahabatnya itu tengah mandi dan tidak akan mendengar apapun karena kran yang menyala.


Ia pun membantu merapikan rumah tea. hampir satu jam setengah Tea tidak keluar dari kamar mandi yang membuat Bianca langsung berlari dari berusaha mendobrak pintu kamar mandi


"Ta kau baik-baik saja kan? ta jawab aku..." teriak Bianca dengan paniknya.


Di keadaan panik seperti sekarang ini pikiran Bianca pun blank ia tidak tahu harus berbuat apa dan pada akhirnya dia menelpon kakaknya Rendi agar datang dan membantunya.


Tak butuh waktu lama Rendi datang dengan tergesa-gesa dan dilihatnya adiknya tengah menangis sambil terus berusaha membuka pintunya.


"Dek kau minggir dulu." kata Rendi yang bersiap untuk mendobrak pintu

__ADS_1


Brakk.....


dalam sekejap pintu kamar mandi pun terbuka karena tendangan keras Rendi. keduanya pun berlari kedalam ketika melihat Tea sudah terkapar di lantai dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.


"Yaallah ta apa yang terjadi denganmu hiks..." kata Bianca dengan menangis sementara Rendi Langsung mengangkat tubuh Tea yang sudah sangat dingin.


"Sebenarnya apa yang terjadi dek? kenapa Tea bisa seperti itu?" tanya Rendi di tengah perjalanannya menuju rumah sakit


"Aku tidak tahu kak tapi yang jelas terjadi pertengkaran antara Tea dan dan si brengsek gila itu. aku takut jika tea sudah mengetahuinya." kata Bianca yang membuat Rendi bingung.


"Mengetahui apa? dan siapa yang kau maksud si brengsek gila itu? apakah itu Tian?" tanya Rendi


"Memang siapa lagi." kata Rendi.


Bianca pun menceritakan apa yang dia lihat dan sudah ia ketahui pada kakaknya. tentu saja Rendi terkejut dan tidak percaya sama sekali namun melihat apa yang di perlihatkan adiknya dia benar-benar mengeraskan rahangnya.


"Aku akan meneleponnya nanti jika sudah sampai di rumah sakit." jawab Bianca.


Sampai di rumah sakit Tea langsung di larikan ke UGD dan segera di tangani. mereka menunggu dengan cemasnya. Tak berselang lama orang tua Tea tiba dan langsung meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.


Mendengar jawaban Bianca membuat Karina terkejut bukan main apalagi tentang penyakit yang di derita putrinya itu.


Tanpa basa basi Hendrawan langsung menghubungi Tian namun tidak mendapatkan jawaban dan akhirnya dia menghubungi besannya.


"Pa itu Tian pa...." kata Lina ketika melihat Tian yang berada di tepi jalan raya bersama seorang wanita yang terlihat seperti tengah bertengkar.


Dirga pun langsung keluar dan menyeret Tian yang membuat pria itu terkejut namun melihat kemarahan di mata papanya akhirnya dia ikut kedalam mobil.

__ADS_1


"Apa yang papa lakukan?" tanya Tian dengan bingungnya.


"Kau jelaskan nanti disana. papa harap semuanya hanya salah paham." kata Dirga.


Di rumah sakit dokter keluar dan langsung menemui kedua orang tua Tea agar ikut ke ruangannya. Dokter pun memberitahu maksud tujuannya yang membuat mereka terkejut.


"Pa...hiks ...." ucap Karian dengan menangis.


"Lalu apa solusinya dok? tolong selamatkan putri saya." kata Hendrawan.


"Saat ini untuk melakukan operasi kanker otak sangat mustahil pak dan hanya ada dua pilihan " kata Dokter


"Apa dok?" tanya Karina.


"Menyelamatkan sang ibu dan bayinya meninggal atau menyelamatkan sang bayi dan ibunya yang tidak bisa di selamatkan." kata dokter yang membuat keduanya kembali terkejut.


"Apakah sekarang kami sudah bisa menemui putri kami?" tanya Hendrawan.


"Bisa pak tapi jangan mengajak pasien bicara terlebih dahulu karena kondisinya belum stabil." kata dokter.


Keduanya pun langsung masuk kedalam ruangan Tea dengan memakai pakaian khas rumah sakit. melihat kondisi anaknya seperti itu membuat mereka benar-benar tidak bisa menahan air matanya.


"Pa hikss...putri kita..." ucap Karina.


"Kita doakan yang terbaik ma. tidak ada yang tidak mungkin selagi Allah berkehendak. putri kita pasti bisa sembuh." ucap Hendrawan dengan menguatkan istrinya.


Rossa yang sedang melakukan perjalanan tour ke Singapura langsung bergegas kembali ketika mendengar jika adinya dalam kondisi kritis. ia tidak memperdulikan tentang skripsi dan tugas akhir semesternya.

__ADS_1


__ADS_2