Be My Husband

Be My Husband
Dua Tahun Telah Berlalu END


__ADS_3

Rendi memeluk Rossa dan berusaha menenangkannya. sementara di ruangan Tea, Bianca menangis tersedu-sedu melihat bagaimana wajah sahabatnya untuk terakhir kalinya. ia tidak menyangka jika sahabat baiknya itu pergi begitu cepat.


Saat ini Tian berada di luar sebuah ruangan dimana banyak sekali bayi yang ada didalamnya namun ia hanya terpaku pada salah satu bayi yang memakai banyak sekali selang di tubuhnya dengan tubuh yang terlihat sangat mungil dan kecil.


Melihat hal itu hati kecil Tian benar-benar merasa sangat sakit. karena kelakuannya, istrinya meninggalnya dan dia harus merawa bayi kecil itu sebagai single parents.


"Kenapa kau menangis?" tanya Dirga namun Tian tidak menoleh sama sekali.


"Kau harus minta ampun pada Allah Tian. kau tahu apa yang kau lakukan ini benar-benar salah. sedari awal semua yang kau lakukan sudah salah. papa berharap kau berubah tapi tidak papa sangka kau malah seperti itu. kau benar-benar di luar kendali papa Tian. tidak sekalipun papa mengajarkanmu hal seperti itu, papa menyekolahkan mu, mengirimmu ke ponses untuk belajar agama tapi sikapmu bahkan seperti manusia yang tidak mempunyai agama sama sekali. minta ampunlah pada Allah dan renungkan kesalahanmu. minta maaf pada mertuamu terutama Karina, dia sangat terpukul dengan kepergian anaknya." kata Dirga kemudian pergi.


Mendengar ucapan papanya air mata Tian kembali mengalir dengan derasnya. ia pun bergegas menuju mushola yang ada di rumah sakit dan melakukan solat taubat. dia benar-benar menyesali perbuatannya dan apa yang sudah terjadi karenanya.


.


.


.


.


Dua tahun telah berlalu setelah kepergian Tea. Tian menjadi single parents yang selalu ada untuk putri kecilnya. panggil saja Michela, ia tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan sangat aktif. walaupun Tian mengurusnya sendiri namun gadis itu tidak pernah kekurangan kasih sayang sama sekali.


Setahun sebelumnya, hubungan Tian dan keluarga mendiang istrinya cukup buruk, mungkin karena kejadian itu mereka belum bisa memaafkan Tian namun setelah lama kelamaan, Michela si gadis kecil yang pintar itu seakan menjadi perantara untuk hubungan baik mereka kembali.


"Papa..." teriak Michela dengan berlari menuruni anak tangga dari lantai atas.


Tian yang sedang sibuk dengan laptopnya pun berlari dengan kencangnya ketika melihat putri semata wayangnya berlari. ia dengan sigap langsung menangkapnya dan menyentil hidungnya.


"Bocah nakal. sudah berapa kali papa bilang, jangan berlari jika menuruni tangga, jika kau terluka papa yang akan di marahi nenekmu." kata Tian yang membuat Michela tertawa.


"Tidak terluka papa. kan ada papa. " ucap Michela dengan tersenyum menunjukkan giginya.


Tian hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah anaknya itu. ia tidak bisa memarahi sama sekali namun ia tetap tegas pada putri dan selalu mengajari hal baik apa saja begitupun juga hal buruk yang harus di jauhi.


"Pa..." ucap Michela dengan mengunyah stroberi kesukaannya hingga mulutnya penuh.


"Apa...." kata Tian ..

__ADS_1


"......" suaranya hampir tidak bisa di pahami karena mulutnya penuh dengan stroberi.


"Ck habiskan dulu baru bicara. tidak ada siapa yang mau mengambilnya." kata Tian.


"Hmm sudah." ucap Michela dengan menelan stoberinya lalu mengambil makanan lainnya. sungguh sifatnya benar-benar seperti ibunya yang sangat suka makanan.


"Apa? kau mau beli mainan? tidak akan papa belikan. mainanmu sudah sangat banyak." kata Tian yang membuat Michela mengerucutkan bibirnya.


"Apa lagi? camilan? es krim? stroberi?" tanya Tian yang membuat Michela langsung memukulnya.


"Papa!!! dengarkan cecel dulu." seru Michela


"Yaya baiklah papa mendengarkanmu." ujar Tian dengan menatap putrinya.


"Papa hari ini hari apa?" tanya Michela yang membuat Tian berfikir.


"Jum'at. kenapa?" tanya Tian.


"Ayo bertemu mama." kata Michela yang membuat Tian terkejut pasalnya dia lupa.


"Astaga papa lupa sayang. ayo ganti bajumu dulu." kata Tian dengan menggendong Michela.


"Baiklah nanti kita beli bunga yang banyak ya." jawab Tian dengan mencium pipi anaknya dengan gemas.


Setelah berganti baju, mereka langsung saja pergi menuju toko bunga terlebih dahulu. namun sebelum itu, Tian menjemput Rachel karena tiba-tiba gadis itu memaksa ingin ikut.


"Halo cantiknya aunty, sini sini. apa kau tidak merindukan auntymu yang cantik ini." kata rachel ketika membuka mobil dan melihat gadis kecil duduk sendirian di belakang.


"Tidak cantik. cecel lebih cantik, iya kan papa." kata Michela.


"Ya putri papa paling cantik sedunia." kata Tian dengan tersenyum yang membuat Michela menjulurkan lidahnya ke arah Rachel.


"Baiklah baiklah." ucap Rachel mengalah dan duduk di samping Michela.


Mereka membeli banyak bunga jare Michela yang meminta. gadis kecil itu duduk dengan tenangnya sambil memegang satu buket bunga mawar.


"Cel hati-hati." kata Tian ketika anaknya sudah berjalan lebih dulu.

__ADS_1


"Assalamualaikum mama. cecel punya bunga banyaak sekali untuk mama. mama disana pasti seneng ya. kenapa sih tidak pulang dan berkumpul lagi sama cecel sama papa sama aunty sama kakek nenek. seru tau ma, cecel bisa makan stroberi banyak, eskrim." ucap Michela yang membuat keduanya kakak adik itu hanya tersenyum saja walaupun sebenarnya Tian sudah menahan air matanya namun ia tetap berusaha kuat di depan anaknya.


"Berdoa dulu untuk mama sayang." kata Tian yang membuat Michela mengangguk.


Sejak umur satu tahun, Michela kerap kali di ajak Tian ke makam ibunya karena agar Michela tahu dan terbiasa tanpa ibu. walaupun begitu Michale paham dan mengerti. tidak sekalipun dia menanyakan ibu saat bersama Tian.


"Kak, andai kakak masih disini pasti kakak sangat bahagia mempunyai anak seperti cecel. dia sangat gendut karena suka makan." kata rachel yang membuat Michela protes


"Tidak ma. cecel makan hanya satu hari sekali kadang cecel puasa." kata Michela dengan membanggakan dirinya.


Walaupun tengah bersedih, Michela selalu bisa membuat sekitarnya bisa tersenyum dengan kepolosan dan tingkah lucunya.


"Sudah sayang salam dulu untuk mama." kata Tian.


Setelah dari makam Tea, Tian pun mampir lagi ke toko roti karena Michela merengek ingin di belikan roti. ia hanya bisa menurut saja yang terpenting anaknya bisa bahagia.


Malam ini michela tidur dengan memeluk foto ayah dan ibunya. Tian yang memang selalu memeriksa anaknya sebelum dia tidur pun cukup heran karena ini pertama kalinya anaknya melakukannya.


ia mengelus lembut kepala Michela dan menciumnya, namun gadis kecil itu terbangun yang membuat Tian tersenyum lembut.


"Pa...tadi cecel liat mama disini." kata Michela yang membuat Tian terkejut.


"Sudah-sudah itu hanya mimpi. putri papa tidur ya." ucap Tian .


"Tidak mimpi pa. mama duduk disini." kata Michela yang bersikeras.


"Tadi kamu tidak sungguh-sungguh baca doa untuk mama?" tanya Tian.


"Emmm...." ucap gadis kecil itu berfikir.


"Sekarang baca doa lagi untuk mama ya. setelah itu tidur." kata Tian.


"Cecel ingin tidur dengan papa." kata Michela yang membuat Tian mengangguk.


"Sekarang baca doa dulu." kata Tian.


Ini pertama kalinya Michela membicarakan ibunya di depan Tian. sebenarnya ia terkejut mendengar ucapan anaknya namun ia juga tak heran karena anak seusia Michela memang tak jarang ada yang seperti itu.

__ADS_1


Tian tidur memeluk anaknya. ingatan masalalunya kembali menghantuinya. jika saja waktu bisa di putar kembali ia benar-benar akan memulai semuanya dengan hubungan normal, tapi semuanya sudah terjadi, hanya lembaran baru saja yang harus ia buka dengan semua hal baik yang ia punya bersama putri kecilnya.


__ADS_2