Be My Husband

Be My Husband
Gara Gara Mas Agus


__ADS_3

Sudah tiga hari setelah percakapan mereka di telepon yang membuat T PPian marah besar dan tidak mengabarinya sampai sekarang membuat Tea agak khawatir jika terjadi sesuatu dengan Tian. ia juga kerap kali menelpon atau mengirimkan pesan namun tidak mendapatkan jawaban sama sekali


Ia pun berinisiatif menelpon menggunakan nomor barunya dan benar saja Tian mengangkatnya. samar-samar terdengar suara air dan angin di sekitar Tian yang membuat Tea yakin jika suaminya tengah berada di dermaga.


"Tian kau baik-baik saja?"


Setelah Tea mengatakan hal itu tiba-tiba Tian memutuskan panggilannya yang membuat Tea bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Ia pun kembali menelponnya namun mendadak ponsel Tian tidak aktif.


"Aiisshh sebenarnya ada apa dengannya. apakah karena aku mengatakan aku menginginkan mas Agus. ya tentu saja kau menginginkannya dia kaya pintar aset negara mendunia, siapa yang tidak menginginkannya. jangan bilang jika dia salah paham padaku." gumam Tea dengan berdecak kesal.


Ia kembali menelpon dan mengirimkan banyak pesan namun hanya di baca. dan berulang kali tea menelpon tidak mendapatkan jawaban apapun.


"Baiklah terserah kau saja aku tidak peduli." kata Tea dengan kesalnya.


Malam harinya seperti sebelumnya Tea tidak bisa tidur karena terus memikirkan Tian. semakin memikirkannya semakin membuatnya seperti orang gila. walaupun dia berkata tidak peduli tapi di dalam hatinya berbeda lagi justru ia sangat mengkhawatirkan Tian.


Ia kembali menelpon lagi dan hanya berdering saja. walaupun sudah tengah malam ia tetap mencobanya lagi hingga akhirnya panggilan itupun di jawab dan terdengar suara serak Tian yang berarti pria itu sudah tertidur.


"Kenapa kau tidak menjawab telponku hah. ada apa denganmu!!"


"Aku mengantuk. besok saja lah kita bicara."


"Kau baik-baik saja kan?"


"Ya sangat baik. besok aku pulang."


"Bukankah ini masih tiga hari."

__ADS_1


"Tugas kuliahku selesai lebih awal dari pada dugaan sebelumnya."


"Ahh begitu rupanya. belikan aku oleh-oleh."


"Minta si agus. sudahlah aku ingin tidur."


Tea yang mendengar itupun akhirnya paham jika Tian benar-benar marah padanya karena dia menyebut nama laki-laki lain. tanpa sadar wanita itu tersenyum kecil.


Tak terasa pagi sudah datang, semua mahasiswa tengah membenahi semuanya karena mereka akan segera pulang. tak lupa salsa mengabsen terlebih dahulu jangan sampai ada yang tertinggal di Bali.


Setelah semuanya selesai mereka pun menaiki bus dan menuju pusat oleh-oleh. disana mereka membeli apapun yang membuat mereka tertarik. setelah itu mereka berkendara beberapa menit dan akhirnya sampai di pelabuhan. dengan langkah yang bersemangat mereka masuk kedalam perahu. mereka sungguh tak sabar ingin segera pulang kerumah masing-masing.


"Yan kau kenapa? ku lihat sedari tadi wajahnya tidak sedap di pandang." tanya Putra yang di setujui oleh Wendi.


"Memang wajahku seperti ini apakah kalian baru menyadarinya." jawab Tian.


"Yakali untuk mu." ujar Tian.


"Sudahlah jangan menekuk wajahmu terus. seharusnya kita bersenang-senang sekarang. hanya tinggal satu tahap lagi kita lulus." kata putra dengan tersenyum senang.


"Akhhh aku sungguh tidak sabar." kata Wendi.


Saat ini pikiran Tian di penuhi dengan Tea Tea dan Tea. setelah berbicara tadi malam ia tidak bisa tidur sama sekali. ia merasa jika ia sangat merindukan wanita yang sekarang sudah berstatus menjadi istrinya itu. tapi mengingat pria yang bernama Agus itu langsung membuat Tian benar-benar ingin membunuh pria itu.


Di sisi lain, Tea dengan begitu antusiasnya memasak beberapa makanan dan membuat kue sederhana untuk menyambut kepulangan Tian. 3 hari tanpa Tian rasanya harinya begitu sepi walaupun Bianca selalu datang setiap harinya dan mereka menghabiskan waktu bersama namun rasanya tetap kurang.


Rencananya Tea akan menjemput dengan mobilnya menuju kampus Tian walaupun Tian tidak menyuruhnya tapi ia tahu jika Tian lelah jadi dia berinisiatif untuk menjemputnya tanpa sepengetahuan Tian.

__ADS_1


lagi lagi Tea di buat kesal oleh tian karena laki-laki itu tak kunjung mengangkat panggilannya. ia berulang kali menghubungi Tian namun tetap tidak mendapatkan jawaban.


Akhirnya pukul 3 sore Tea pun berangkat dari rumahnya menuju kampus Tian. ia menunggu hampir satu jam lamanya hingga pada akhirnya bus yang sama persis seperti yang di naiki Tian pun datang. tea memperhatikan dari kejauhan dan terus mencoba menghubungi Tian namun tetap tidak mendapatkan jawaban.


Ia pun terus memperhatikan ke arah dimana tian sudah turun lebih dulu dan mulai mengabsen kemudian di susul dengan salsa yang berdiri di samping tian membuat Tea bertanya-tanya siapakah gadis itu karena terlihat begitu dekat dan sangat akrab dengan Tian.


Tea keluar ketika melihat Tian yang sepertinya kerepotan membawa beberapa tas belanjaan. melihat kehadiran Tea membuat Tian terkejut namun buru-buru merubah ekspresinya menjadi datar.


"Kau itu kenapa? aku menelponmu berrrrrulang kali tapi kau tidak menjawabnya." kata Tea dengan merebut tas yang di bawa Tian.


"Tidak ada. kenapa kau disini." tanya Tian.


"Ohh aku ada janji dengan mas Agus dan tidak sengaja lewat depan kampusmu." jawab Tea dengan sengaja. Dan benar saja reaksi Tian langsung berubah total membuat Tea harus menahan tawanya.


Tian berjalan dulu tanpa menghiraukan Tea. sepanjang perjalanan pulang pun Tian benar-benar terlihat marah dengan Tea karena tidak berbicara sama sekali walaupun Tea sudah mengajaknya berbicara.


"Kau marah?" tanya Tea.


"Diamlah aku sedang menyetir." kata Tian dengan datarnya.


"kau menyetir menggunakan tangan bukan mulut. setidaknya jawab aku. sebenarnya ada apa denganmu sejak kemarin kau tidak mengabariku dan menjawab telponku." kata Tea.


"Bukankah aku sudah bilang." kata Tian tanpa menoleh.


"Kau marah karena mas Agus?" tanya Tea.


"Terserah kau mau Agus Dimas Reyhan aku tidak peduli." kata Tian yang membuat Tea terkekeh.

__ADS_1


"Kau benar-benar marah?" ucap Tea dengan menggoda Tian.


__ADS_2