Be My Husband

Be My Husband
Kesedihan Dan Kebahagiaan


__ADS_3

"Sebenarnya saya tidak ingin merusak kebahagiaan nona sekarang namun saya tetap harus mengatakannya." kata dokter yang membuat kedua wanita itu saling bertatapan.


"Ada apa dok?" tanya Tea dengan penasarannya.


"Saya ingin berbicara dengan wali nona." kata dokter.


"Katakan saja sekarang dok." kata Tea.


"Hufffttt....apa yang nona rasakan tadi itu bukan hanya sakit kepala biasa. apakah sebelumnya nona juga sering sakit kepala seperti itu?" tanya dokter.


"Iya dok. saya sakit apa?" tanya tea yang langsung pada intinya.


"maaf nona saya harus mengatakan ini di hari bahagia nona...nona terkena kanker otak stadium akhir." kata dokter


Bagai di sambar petir ketika mendengar ucapan dokter. ia masih mencerna apa yang dia dengar, ia juga menyuruh dokter mengulang satu kali lagi namun jawabnya ternyata sama.


"Dokter tolong jangan bercanda." kata Bianca dengan tidak sukanya.


"Saya tidak bercanda nona. hasil pemeriksaan medis nona Tea terkena kanker otak stadium akhir. jika memeriksanya lebih awal mungkin saya kami masih bisa mencegah terjadinya itu." kata dokter yang membuat Tea masih diam mematung dengan pandangan kosong.


"Ta kau baik-baik saja?" tanya Bianca dengan memegang tangan Tea yang sudah terasa dingin.


"Apakah saya bisa bertahan sampai dia lahir?" tanya Tea dengan mata yang memerah menahan tangisnya.


"Nona harus menjalani radioterapi untuk meringankan gejalanya. namun untuk melakukannya nona harus dalam kondisi baik-baik dulu." kata dokter.


"Saya bertanya dok, berapa lama saya bisa bertahan. saya harus melahirkannya dulu bukan." ucap Tea dengan menghapus air matanya.

__ADS_1


"Tentu saja nona." ucap dokter dengan tersenyum kecil.


"Saya bisa sembuh kan dok." ucap Tea lagi


"Kami akan berusaha nona." kata dokter lagi.


"Bi....." ucap Tea dengan menatap Bianca.


"Ta tenanglah aku ada untukmu." kata Bianca dengan memeluk Tea.


Ia juga tak kuasa menahan air matanya mendengar hal itu. mereka baru saja berbahagia dengan kehamilan Tea namun kabar lain mengatakan jika tea tidak akan bertahan lama.


Bianca juga tahu jika penyakit itu tidak semua obat bisa menyembuhkannya. dan yang dia bisa lakukan hanyalah menenangkan Tea saja walaupun dia juga merasa sedih namun ia tetap harus menguatkan Tea.


"Kita hadapi ini bersama-sama ya. jangan menangis, kau harus kuat, ingat ada malaikat kecil disini." ucap Bianca.


"Ya aku berjanji. tapi kau juga harus berjanji kau harus kuat demi anakmu." kata Bianca


Tea memutuskan untuk melakukan terapi radiasi setelah dia melahirkan buah hatinya. untuk waktu yang singkat itu dia benar-benar akan rutin melakukan pemeriksaan agar setelah bayinya lahir dia bisa merawat dengan sepenuh hatinya seperti ibu pada umumnya.


Ia juga tidak akan memberitahu siapapun tentang masalah ini sekalipun pada Tian atau kakaknya. yang mengetahui tentang penyakitnya hanyalah Bianca saja dan mereka akan merahasiakannya.


Raut wajah keduanya benar-benar terlihat sedih dan tidak bersemangat sama sekali tapi walaupun begitu Tea mencoba untuk tidak memikirkannya dan mengajak Bianca bercanda.


Sepanjang perjalanan pulang Tea terus berbicara dengan buah hatinya dengan membayangkan masa depan yang begitu indahnya. ia tidak tahu berapa lama waktu yang tersisa tapi dia akan berusaha untuk bertahan demi anaknya.


"Aku baik-baik saja Bi." kata Tea dengan menolak ketika tubuhnya di pegangi oleh Bianca.

__ADS_1


"Kau baru saja membaik ta jangan keras kepala." kata Bianca yang membuat Tea hanya pasrah saja.


Sesampai di rumahnya, tak henti-hentinya dia memandangi foto USG yang memperlihatkan buah hatinya. Bianca yang melihat itupun hanya bisa tersenyum saja walupun tengah bersedih tapi Tea terlihat begitu bahagia.


"Ta jika ada sesuatu yang terjadi kau hubungi aku ya aku pasti akan langsung datang." kata Bianca.


"Yayaya aku tahu " ujar Tea tanpa menoleh ke arah Bianca.


"Kapan kau akan memberitahu orang tuamu tentang kehamilan mu?" tanya Bianca.


"Secepatnya...." jawab Tea


"Ta aku harus pulang sekarang, kau tidak masalah di rumah sendirian?" ucap Bianca setelah memeriksa ponselnya.


Sebenarnya ia juga tidak tega meninggalkan Tea seorang diri tapi sesuatu memaksanya harus tetap pergi.


"Tentu saja tidak. sering-seringlah main kesini Bi, aku rasa aku tidak akan kesepian lagi sekarang Karena ada dia." ucap Tea dengan memegangi perutnya.


"Kau harus ingat hubungi aku jika terjadi apa-apa atau jika kau merasakan sakit lagi. jangan lupa minum obatmu dan jaga kesehatanmu." kata Bianca


Setelah Bianca pergi, Tiba-tiba tatapan Tea berubah. ia menghela nafasnya dengan kasar sambil memeriksa ponselnya yang masih belum mendapat balasan apapun dari suaminya.


Ia mencoba menelponnya lagi namun masih tetap sama tidak ada jawaban. entahlah mungkin bawaan bayinya kenapa dia ingin selalu bertemu dengan Tian dan harus bermanja dengannya walaupun ia tahu jika pria itu sudah menyakitinya.


"Kita Hadapi ini bersama ya nak...mama yakin papau… akan berubah." ucap Tea dengan menghela nafasnya.


Disisi lain, Tian tengah berada di sebuah cafe bersama dengan seorang wanita cantik dan seksi. mereka mengobrol dengan akrabnya sering kali adegan mesra layaknya sepasang kekasih mereka lakukan, ya memang mereka menjalin hubungan.

__ADS_1


Panggil saja wanita itu Lili. dia tidak tahu jika Tian sudah menikah. mereka adalah rekan bisnis dan tentunya sering bertemu untuk suatu pekerjaan karena itulah hubungan itu terjalin.


__ADS_2