Be My Husband

Be My Husband
Luluh


__ADS_3

Pagi harinya di meja makan suasananya nampak hening dan sedikit canggung bagi tian karena Tea tidak menyapa atau berbicara sedikit pun dengannya. ia hanya beberapa kali melihat ke arah Tea yang bahkan wanita itu tidak menoleh sekalipun ke arahnya.


"Kau masih marah?" tanya Tian dengan suara pelannya.


Pertanyaan bodoh apa itu? tentu saja wanita manapun marah jika suaminya bermain di belakang bersama wanita lain.


"Segeralah berangkat kau akan telat." ucap Tea dengan memberesi meja makannya.


Wanita itu berharap jika Tian akan memberikan penjelasan yang tidak membuatnya salah paham lagi namun pemikirannya salah. ia semakin kecewa dengan sikap Tian.


Dering telepon berbunyi yang membuat Tea segera menyudahi aktivitasnya. ia menuju meja makan dan melihat siapa yang menelpon, ya ternyata wanita itu lagi. ia pun langsung mengangkatnya dan terdengar suara dari balik telepon tersebut.


"Kenapa kau tidak menjawab hah? ahhh aku tahu hahaha baiklah sampai bertemu di cafe xxx ya aku mempunyai kejutan untukmu."


"Ternyata mereka masih berhubungan...." gumam Tea dengan tersenyum kecutnya


Tian yang melihat jika ponselnya ada di tangan Tea pun langsung panik dan segera merebutnya membuat Tea hanya bisa menatap pria itu tanpa berkata-kata namun sorot matanya wanita itu ingin penjelasan dari Tian.


"Aku harus berangkat sekarang." kata Tian yang langsung berlalu pergi.


Setelah Tian berangkat tea pun bergegas menyusul suaminya di cafe tempat yang di katakan Alin. ia ingin tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. beberapa saat kemudian ia sampai di cafe dan menunggu cukup lama sebelum akhirnya ia melihat Alin datang dengan membawa satu totebag dan duduk di tempat yang letaknya tidak terlalu jauh darinya.


Tea sengaja memakai kacamata hitam agar Tian tidak mengenalinya. beberapa saat kemudian Tian pun datang dengan langkah tergesa-gesa. Alin berdiri dengan bahagianya dan mencium pipi Tian.


"Kau sudah lama?" tanya Tian dengan duduk.


"Tidak terlalu. aku sangat merindukanmu....oh ya aku punya sesuatu untukmu." kata Alin dengan memberikan totebag itu ada Tian.

__ADS_1


Tian menerimanya dan membukanya. Tian tersenyum manis ketika melihat isinya.


"Kenapa kau membelikan ini?" tanya Tian.


"karena aku tahu kau menyukainya." jawab Alin dengan tersenyum.


Tea memperhatikan mereka dengan seksama dengan hati bergemuruh. ia pun memfoto mereka berdua sebelum akhirnya dia menelpon Tian dan menanyakan dimana keberadaannya namun Tian menjawab jika dia sedang di kantor.


Sakit hati? tentu saja itu yang Tea rasakan. ia akhirnya memutuskan untuk pergi melewati mereka. ia membuka kacamatanya tepat di depan mereka dan berlalu pergi.


Melihat jika tea lewat di depannya membuat Tian terkejut dan langsung berdiri. tanpa mengatakan apapun Tian berlalu begitu saja mengejar Tea. sampai di parkiran, Tian memegang tangan tea namun segera di hempasan oleh Tea.


"Tea aku bisa jelaskan." kata Tian.


"Tolong lepaskan aku. semuanya sudah jelas bukan." kata Tea.


"Lalu aku harus bagaimana? lanjutkan saja pembicaraan kalian." kata Tea dengan masuk kedalam mobil.


Tian kembali kedalam cafe dan mengambil tasnya kemudian pergi lagi tanpa menghiraukan teriakan Alin yang terus memanggil namanya. Tian mengebut dan mengikuti Tea menuju rumahnya. sesampainya di rumah mereka langsung terlibat dalam perdebatan.


"Lalu apa yang ingin kau jelaskan? kau ingin mengatakan jika dia rekan bisnis? rekan bisnis yang berciuman di tempat umum begitu? apa lagi yang ingin kau katakan. Tian, setelah kejadian itu aku mempercayai mu sepenuhnya tapi kenapa kau melakukan ini lagi padaku." kata Tea dengan mata memerah menahan tangis.


"kau pikir aku tidak tau apa saja yang kau lakukan selama ini di belakang ku. aku hanya diam karena aku tidak mau berdebat denganmu .tapi kau malah semakin tidak tahu diri. jika kau sudah malas denganku ceraikan aku dan nikahi wanita itu." kata Tea .


"Apa yang kau katakan hah!!!" kata Tian dengan tidak sukanya.


"Lalu aku harus bagaimana? membiarkanmu melakukannya lagi dan lagi? aku juga punya hati Tian aku hanya manusia biasa." ucap Tea yang kemudian menuju kamarnya.

__ADS_1


"Buka pintunya Tea, kita perlu bicara. kau hanya salah paham saja." kata Tian dengan mengetuk pintu kamar Tea.


Setelah sekian lama Tian terus mengetuk pintu akhirnya tea pun keluar dan langsung duduk di ruang tengah.


"Jelaskan." kata Tea.


"Baiklah aku minta maaf, aku memang salah tapi percayalah aku sangat menyayangimu. aku tidak ada maksud untuk itu, aku hanya...." ucap Tian terhenti.


"Hanya apa? kau bosan denganku dan mencari pelarian begitu? atau karena aku belum memberikan mu anak." kata Tea


"TI tidak bukan seperti itu..." ucap Tian


"Lalu apa? aku ingin penjelasan darimu." kata Tea.


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang padamu. maaf." ucap Tian dengan menunduk.


"Apakah aku penting bagimu atau justru wanita itu yang lebih penting untukmu?" tanya Tea yang benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya itu.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan itu Tian?" kata Tea namun Tian hanya menunduk saja.


"Baiklah keputusan ku sudah bulat, sekarang kita hidup sendiri-sendiri saja dan urus hidup sendiri." kata Tea yang membuat Tian terkejut.


"Apa yang kau katakan? aku tidak mau. aku berjanji ini yang terakhir kalinya dan aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengannya. kau lihat ini..." kata Tian yang tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan memblokir serta menghapus apapun itu yang berhubungan dengan Alin.


"Bukankah dia sekretaris mu di kantor?" ucap Tea.


"Aku akan memecatnya untukmu tapi ku mohon jangan katakan hal itu lagi. aku menyayangimu Tea ku mohon." ucap Tian yang membuat Tea terdiam dan akhirnya luluh karena ia memang benar-benar mencintai Tian.

__ADS_1


"Huffftt aku pegang kata-kata mu..." ujar tea


__ADS_2