
Pagi hari gelap gulita membangunkan sang pemilik rumah yang hidup bermegahan. Tepat pada pukul 03:00 ia terbangun dari tidur nyeyaknya.
Bola matanya berputar untuk melihat seisi ruangan yang sangat gelap. Pria bertubuh tinggi nan tampan itu memiliki hati yang sangat lembut namun hanya saja egonya mengalahkan kelembut hati sang pria bermata elang.
Melangkahkan kakinya kedepan saklar lampu yang siap ia tekan. Sepasang mata menyipitkan pandangannya, bertujuan untuk memperkecil jumlah cahaya yang masuk pada matanya.
Berjalan seperti orang yang sedang kebingungan untuk melakukan apa. Duduk terdiam di atas nakas, sungguh tidak sopan bukan. Melamun karena keadaan yang cukup sunyi.
Seketika semua menjadi gelap, pandangannya tidak berfungsi dengan baik. Mati lampu, penyebab pandanganya menjadi gelap dan tidak berfungsi dengan baik.
Ia berjalan, meraba dinding untuk petunjuknya saat ini.
"Sial, kenapa mati lampu sepagi ini!?" dengusnya seraya mencari lilin. Lilin sudah ditemukan! ini hal yang bagus!.
Dengan segera, sumbu lilin di bakar dengan api yang berkobaran diatas korek api tersebut.
...****************...
"Kak, bangun. Kau ini kenapa bodoh kelewat batas sih?" Kesal Sya, meneriaki kakaknya yang sedang tertidur pulas menik mati mimpi indah, terancang dengan sendirinya dan Al sangat menikmatinya.
Bughhh...
Ia melempari Al dengan bantal, tapi Al yang memang dasarnya kebo, tidak akan mempan jika hanya dilempari dengan bantal ataupun guling.
"Ya! jika kau tak bangun akan ku bunuh kau!" umpat Sya hanya sekedar mengancam dang kakak yang tidur tidak beraturan di atas nakas kerna miliknya. Bodoh sekali.
Dengan sigap, Barak Aldiano notabene kakak dari Anasya Voctoria bergedik ngeri atas pengucapana adik kandungnya ini.
"Kau sangat mengerikan Sya!" Seru Al. Wajahnya lesu dan sayu. Matanya masih tertutup 100%, ia mengucaknya lalu membuka matanya.
"HAH! APA AKU SUDAH MATI!? JANGAN CABUT NYAEAKU SEKARANG!! DOSAKU MASIH BANYAK!!." terkejut dan tidak bisa mengembalikan penglihatannya seperti semula. Semua nampak gelap.
__ADS_1
"INI MATI LAMPU, BODOH!!" teriak Sya. memukul Al dengan amarah yang sudah berkobaran hampir membeludak.
"MATI LAMPU, PANTAT CICAK!! INI UDAH DI ALAM BARZAKH!!" teriak bodohnya membuat Sya ingin sekali mengantung Al pada tali yang tersangkut.
"CK, PINTER SEDIKIT, BISA?" decak Sya dengan penuh rasa malu, memiliki kakak yang bodoh seperti Al. Terlalu bodoh atau memang ingin membuat laeakan saja?.
Drrttttt Drrrtttt Drrrtttt
Sya menatap ponselnya dengan tajam, "Diam, ada yang menelfonku. Jangan seperti pria bodoh!."
Sya mengangkat telfonnya dengan seksama, mendengarkan apa yang diucapkan oleh pria yang berada di seberang sana. CEO Kin, seseorang yang sedang menghubunginya.
Sya menatap Al dengan sangat intens, sang empu yang ditatap hanya bisa membalas dengan senyuman lebar di bibirnya.
CEO Kin memperingati Sya, Jika Al masih saja berisik, usir saja dia agar kuping dan hidupnya lebih tenang dan damai dalam menjalani aktivitas sehari-hari tanpa adanya makhluk aneh yang menyerang dirinya lebih lanjut.
Sya hanya bisa mengucapkan kata maaf dan senyum tipis yang tak terlihat oleh Al. Sedari tadi Al sudah menaruh api di sumbu lilin tersebut.
Ternyata pria bodoh ini juga ada gunanya, pikir Sya. Tercetaklah sebuah senyuman manis dari Al, lain kata pada Sya yang hanya menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibir sebelah kanan.
...****************...
"...uangku masih banyak. Tak ada salahnya libur satu hari." Ucap Kin, sembari menyebar kabar yang ia tentukan.
"Baiklah aku akan melanjutkan mimpiku yang sempat terpenggal" ucapnya seraya menaiki ranjang berukuran king size yang amat mewah.
Dibiasakan hidup mewah sejak kecil membuat dirinya angkuh dan gemar meremehkan kalangan menengah kebawah.
Ia tidak bisa tidur karena pemadaman listrik secara mendadak, "Sial, gerah sekali."
Kin beranjak dari kasurnya untuk melihat lilin yang sudah mengecil akibat api yang terus memanasi. Hari semakin terang, matahari muncul membawa cahaya penerang yang menyelusup di sela-sela kain yang tergantung untuk menutupi jendela.
__ADS_1
Kin menggeserkan hordengnya ke satu sisi, membuka jendelanya dan merasakan udara yang terasa sejuk membuatnya ingin kembali tertidur.
Kin mengarahkan dirinya tepat pada ranjang dan menjatuhkannya, sungguh sejuk bukan main. Penglihatannya kabur menandakan ia akan tertidur pulas.
...****************...
"Lo gak kerja, Sya?" tanya Al sembari menatap Sya dengan malas. Sya yang ditanya hanya mendengus kesal.
"..." Tidak ada jawaban dari Sya karena sudah terlalu malas dengan kakaknya, hang membuat banyak ulah.
Al berdecak pasal adiknya tidak menjawab pertanyaanya. Dengan kesal Al pergi ke luar untuk mengikis kekesalanannya yang berkobarann. Sama hal-nya dengan Sya, kesal dengan kakaknya.
Lebih baik tidur dari pada terus memendam amarah yang mendesak untuk dikeluarkan, pikir Sya untuk menenangkan dirinya.
Sya tertidur pulas hingga akhirnya Al pulang membawa kegaduhan, menganggu tidurnya membuat ia semakin kesal dan ingin menyuruh Al pergi dari mansion-nya.
Seorang yang diseberang rumah terdengar amat damai bahkan tidak ada suara kegaduhan sedikitpun, Sya mengerti bahwa Bos nya tidak menyukai kegaduhan. ia sangat takut jika kegaduhan yang dibuat oleh Al akan menciptakan pertengkara besar antara Kin dan Al.
Dan tentunya Al akan semakin kesal jika Kin membuka mulutnya. Sekali berucap tidak bertele-tele tetapi terlalu menyakitkan baginya.
Kin mudah meremehkan orang lain, mudah menganggap orang lain tidak berguna. Al mengira awalnya hanya sekedar gurauan belakang, tapi memang ia seperti itu dan memang terlihat seperti itu.
"Berisik!" seru Sya ketika Al memainkan panci di dapur. Sunggu, ia tidak tahan dengan kelakuan Al layaknya anak dibawah 7 tahun. Ingin rasanya mengumpat dan menuturkan kata kasar.
Tong...Tong...Tong..
Lagi-lagi suara itu masuk kegendang telinga Sya, ingin sekali menghantam kakaknya ini yang tidak mempunyai kesibukan dan membuat suara bising.
Sya beranjak dari ranjang untuk mendekati Al dengan amarah yang sudah amat membara. "Kau ini manusia atau setan sih!?," ucap Sya tidak bisa menahan dirinya untuk tetap membisu.
Sya merampas panci dari tangan Al, lalu memukul Al dengan panci yang ia pegang erat saat ini. "Kau ini bisa diam tidak sih. Jangan berlagak seperti anak ayam yang bsru saja menetas! Dewasalah! Umurmu semakin tua, bahkan lebih tua dariku!" Tutur Sya menyuarakan Al dengan suara yang menggelegar.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sudah tertular virus si manusia angkuh bin tengil," ucap Al memelas.
"Buka aku yang tertular, tetapi kakak yang tidak bisa di suarakan. Kakak akan diam jika aku bertindak kasar padamu. Jika kau ingat dan mengurutkannya satu persatu," ujar Kin panjang lebar.