
Setelah beberapa hari kemudian kakaknya pulang ke kediamannya. Sya dan Kin sedang berada disebuah tempat untuk makan siang.
'Kenapa dia? Apa dia memiliki gangguan mental jika berkencan dengan wanita. Ah, bukan berkencan ini hanya makan siang, ingat!!' Pikir panjangnya menciptakan kerutan di dahinya, seakan menyuruh lawannya untuk tidak memandanginya.
CEO Kin merasa malu ketika dirinya dikode untuk tidak memandangi sang sekretaris. Memalingkan penglihatannya dan tetap dengan raut wajah yang tidak memiliki ekspresi.
Setelah kejadian itu. Bermunculanlah rasa canggung, yang menciptakan suasana yang hening. Menghabiskan makanan masing-masing dari mereka, lalu berencana untuk kembali ke kantor. Perjalanan terasa lama ketika mereka saling canggung seperti ini.
"Kin/Sya" Panggil mereka dengan waktu yang bersamaan.
"Kamu duluan saja yang berbicara" Ujar tuan tampan yang fokus pada jalan yang akan mereka lewati.
"Saya ingin mengetahui sesuatu, Kin" Sya berbicara dengan tatapan penasaran.
"Apa itu?" Tanya Kin sebab ia juga ikut penasaran. Apa yang ingin ditanyakan oleh sekretarisnya, apakah alasan kenapa selalu memandanginya tadi? Kin terlihat gugup karena takut akan pertanyaannya.
"Apa sekretaris lama mu perempuan?" Sya bertanya dengan raut wajah penasaran.
"Ah, tidak. Hanya kau yang perempuan" Ucapnya mencoba untuk tetap tenang.
"Ingin berbicara apa tadi?" Sya bertanya pada atasannya.
"Tidak ada" CEO Kin menjawab dengan jawaban yang sangat singkat.
Suasana hening tercipta kembali saat mereka bingung akan topik apa yang akan dipakai untuk melelehkan suasana hening ini.
Sesudah melewati perjalanan yang hening dan terasa amat jauh. Kini Sya sedang memeriksa dokumen yang diberikan oleh atasannya, sedangkan CEO Kin mencari beberapa pulpennya yang hilang.
'Ceroboh sekali' batin Kin mengumpati dirinya sendiri.
Sya sangat risih melihat Kin yang terlihat sedikut kebingungan mencari sesuatu di atas meja.
"Pak, kenapa?" Tanya Sya kepada Kin yang tengah sibuk memerhatikan atas mejanya.
"E-em, pulpen saya sepertinya terjatuh" Jawab Kin ragu. ia tidak mau jika dirinya terlihat buruk didepan sekretarisnya.
"Saya membawa banyak pulpen, bapak bisa menggunakannya" Sya berkata dengan wajah datarnya.
"Ah, iya terimakasih. Akan saya gunakan" Ucapan terimakasih itu spontan keluar dari bibirnya. Selama dia dikantor, ia tidak pernah mengucapkan kata terimakasih Sekalipun.
Mereka se-ruangan hanya saja berbeda meja. Kin memerhatikan Sya yang kembali pada mejanya, ia memalingkan wajahnya saat ia tau bahwa Sya juga menatap matanya dengan tatapan yang susah diartikan.
__ADS_1
Waktu sudah memasuki jam pulang kerja. Sya dan Kin pulang dengan satu mobil yang sama.
"Sya, kau tinggal dirumah sendiri?" Tanya Kin yang mulai penasaran.
"Iya, saya tinggal dirumah sendiri. Ada apa?" Ujar Sya yang ikut terbawa rasa penasaran.
"Rumah mu sendiri?" Kin bertanya lagi dengan raut wajah yang tidak menandakan adanya rasa penasaran.
"Bukan, saya menyewa kos" Jawab Sya membuat Kin menganggukan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Tinggal-lah disebelah apartemen saya, saya akan membelinya untukmu" Kin berkata dengan mudah.
"T..tidak perlu, pak" Sya terkejut dengan rangkaian kata yang disusun oleh atasannya.
"Tidak apa" senyum tipis Kin tercetak dengan manisnya.
"Barang-barang mu besok akan dipindahkan" Lanjutnya yang belum selesau berbicara.
"Baik, saya menerima tawaran bapak"
"Terimakasih, pak" Senyum manisnya tercetak di bibirnya.
'Kenapa sangat manis?' Batin Kin yang sedang melihat Sya.
"Sampai kapan kau akan memanggilku pak saat diluar kantor?" Sedikit melirik yang terlihat seperti mata yang sinis.
"Kin" Kin memegaskan.
"Ah, iya Kin" Sya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Keadaan hening kembali ketika sekretaris Sya tertidur di mobil. Sangat damai ketika ia tertidur, bulu matanya yang lentik terlihat jelas saat ia tertidur.
'Tidak mungkin aku memiliki perasaan lebih dalam satu hari untuk wanita satu ini' Guman Kin seraya memerhatikan wajah sang sekretaris lalu tersenyum tipis.
"Sya" Kin membangunkan Sya.
"Sya, bangun kita sudah sampai"
"Sya?"
"eugh" Lenguh sang empu saat baru membuka matanya. Secara otomatis Kin memundurkan wajahnya.
"M-Maaf saya ketiduran, hehe" Sya merasa tidak enak kepada atasannya itu. Terlihat dari raut wajah Sya.
__ADS_1
"Bukan masalah yang besar, Sya" Kin sedikin menenangkan Sya dengan senyuman tipisnya.
'Kenapa dia sekarang sering tersenyum?' Sya semakin bingung dengan keadaan ini.
Kini Kin sedang mengurus administrasi pembelian apartemen yang berada disebelah mansion-nya. Kin membelinya untuk Sya. Kin memang gemar membeli sesuatu untuk sekretaris atau direktur bawahnya, sedangkan karyawan lainnya akan diberikan bonus setiap 4 bulan sekali. CEO yang baik hati walaupun bersikap seperti es.
Mereka sudah berada di mansion-ya masing masing. Sya sudah bersiap-siap untuk tidur dan sudah siap untuk melihat mimpi indahnya, lain halnya dengan CEO Kin yang tengah sibuk membersihkan kamar tidurnya. Kin tidak bisa tidur dengan nyenyak jika ruangan yang ia tempati terdapat debu walaupun sedikit.
Setelah kegiatan Kin membersihkan Kamar tidurnya, ia meraih ponselnya lalu mengetik pesan untuk seseorang yang ia tuju.
"Kirim tidak ya?" Kin berbicara kepada dirinya sendiri.
"Tidak-tidak" pikirannya selalu menolak tetapi hatinya mengiginkannya.
"Kirim saja tidak masalah bukan"
"Tapi ini baru sehari"
"Aku langsung memindahkannya ke sebelah"
"Kenapa aku aneh seperti ini" Guman Kin, tidak mengerti akan situasi hatinya saat ini.
"Tidak ada masalahkan jika CEO memastikan sekretarisnya" Ujarnya nampak yakin, ia akan mengirim pesan.
"Semoga dia belum tidur"
"Baiklah yakinkan dirimu Kin"
Kin diam menatap layar ponselnya, ia tak yakin jika pesannya akan di balas dengan cepat oleh Sya. Tiba-tiba, tangan Kin bergetar.
"Apa aku gugup?" Kin mengangkat tangannya.
"Tapi kenapa?" Ujarnya sembari memandangi tangannya yang terus bergetar.
Tangan Kin semakin gemeta, dengan tidak sengaja Tangan Kin menyentuh lambang kirim pesan dikanan bawah.
"Sya, apa kau sudah tidur?" Itulah isi dari pesan ang dikirim oleh sang Direktur utama Kin.
'Kenapa jantungku berdetak lebih cepat?' Batin Kin karena terlalu panik.
'Aku akan memeriksanya kedokter, besok' Ucap kin yang bingung atau memang tidak mengetahui jika ini adalah buih buih cinta.
Sya tidak menjawab pesan Kin karena sudah tertidur pulas. Kin mengira Sya akan membalasnya beberapa menit lagi, ia menunggu sampai 27 menit lamanya. Dan belum ada balasan hingga saat ini.
__ADS_1
Akhirnya Kin ikut tertidur pulas, ia lelah menunggu dan matanya sudah tidak mendukung lagi untuk tetap terbuka. Mereka tertidur pulas hingga sinar matahari menyelusup lewat sela-sela hordeng yang sedikit terbuka, membuat sang empu menggeliat tidak nyaman.
Maaf banget ya guys. Gatau kenapa Episode Hari Pertama ke ulang lagi. Ini ada sedikit kekeliruan dan aku gak tau gimana cara ngatasinnya. Semoga kalian memaklumu ya. Semua episode terhapus jadi aku gak bisa revisi maaf ya ;). Terimakasih atas pengertian kalian.