
Sesuatu berbentuk seperti seekor kecebong berukuran kecil tergeletak di lantai. Tea menutup wajahnya dengan air matanya yang sudah menetes. ia syok benar-benar sangat syok. ia memang tidak menginginkan janin itu tapi ia tidak berharap kejadian ini akan begitu cepat terjadi.
"Aku tidak sengaja. aku tidak sengaja meminum minuman itu. aku tidak bersalah." gumam Tea kemudian langsung berdiri dan mengambil ponselnya.
Ia akan memberitahu Tian tentang hal ini walaupun ia sangat yakin jika laki-laki itu akan biasa biasa saja ketika melihatnya. namun itu tidak masalah bagi Tea, ia tetap akan memberitahu Tian .
Ia memfotonya kemudian meletakkan ponselnya di lantai. ia mengambilnya dengan penuh hati-hati dan menatapnya dengan seksama. entah usianya sudah berapa Minggu Tea tidak tahu. ia merasa bersalah namun juga ada rasa lega didalm hatinya.
"Mungkin memang dia belum di takdirkan untuk ada di dunia ini." gumam Tea dengan mengusap air matanya.
Ia mengambil tisu dan membungkusnya kemudian keluar dari kamarnya menuju ke bawah. saat ini ia berada di taman belakang rumahnya dia menggali tanah dan menguburkannya disana. Ia menghela nafasnya beberapa kali setelah itu ia kembali masuk.
__________
Satu Minggu sudah berlalu setelah kejadian yang tidak di sangka-sangka. namun setelah kejadian itu juga Tea berubah menjadi pribadi yang dingin dan cuek. wajahnya tidak pernah mengeluarkan senyuman bahkan hanya sedikit saja ia tidak pernah tersenyum.
Semua orang yang mengenal Tea tentu merasa bingung dengan perbulan sikap Tea apalagi kedua orangtuanya. mereka bertanya-tanya mengapa putri mereka menjadi pribadi dingin dan tidak tersentuh dengan orang lain.
Bahkan sekarang Tea jarang sekali berada di rumah dan berkomunikasi dengan orang tuanya. ia hanya mau berbicara dengan kakaknya itupun hanya 1 sampai 2 kata kata.
__ADS_1
Entah mengapa setelah kejadian itu, Tea selalu memimpikan hal hal aneh yang membuatnya hampir setiap malam tidak bisa tidur. ia ingin menangis namun air matanya seperti tidak bisa keluar. ia memendam semuanya seorang diri bahkan sampai sekarang ia belum memberitahu semuanya pada Tian.
Pagi ini Tea mengikuti sarapan pagi bersama kedua orangtuanya. ini adalah sarapan Tea dengan orangtuanya setelah satu Minggu dia tidak pernah turun saat pagi hari.
Suasana di meja makan pun tampak hening dan hanya ada suara dentingan sendok saja. tatapan kedua orang tuanya tidak pernah lepas dari Tea. mereka bertanya-tanya ada apa dengan putri mereka.
"Apakah kau baik-baik saja sayang?" tanya mama Karina yang hanya mendapatkan anggukan kepala dari Tea.
"Ada apa dengan putri kita pa. akhir-akhir sifatnya sangat jauh berbeda dari yang kita kenal?" bisik mama Karina di telinga suaminya.
"Apakah kau tidak ingin ikut papa ke kantor sekalian belajar mengurus perusahaan." kata papa Hendrawan yang membuat Tea mendongak kemudian hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
"Yasudah ayo. ma papa berangkat dulu ya." kata papa Hendrawan ketika sudah menyelesaikan sarapannya.
"Papa terus awasi dia. cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya." bisik mama Karina yang di angguki oleh papa Hendrawan.
Mereka berdua pun menuju perusahaan dengan kendaraan yang berbeda. Tea tetap mengendarai motornya sendirian menuju ke sana sedangkan papanya mengendarai mobilnya.
penampilan Tea saat ini seperti bukan seorang pegawai kantor. karena dia hanya memakai celana jeans ketat dengan sedikit sobekan di bagian kakinya serta kaus putih polos dan rambut yang di biarkan tergerai.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, para pegawai langsung memberikan hormat pada papa Hendrawan pemilik perusahaan HD Corp sedangkan mereka semua di buat geram dengan seorang gadis yang berjalan di belakang CEO mereka yang terlihat begitu cuek bebek apalagi melihat penampilan gadis itu membuat mereka langsung saja bergosip.
Tea yang mendengar bisik-bisik tentang dirinya pun menghentikan langkahnya dan berbalik. ia berjalan menuju kerumunan para wanita wanita tadi dengan ekspresi datarnya.
Ia berdiri di belakang mereka yang membuat mereka semua langsung terkejut dan membubarkan diri dengan ketakutan. Tea memang tidak berbicara sama sekali namun tatapan matanya dan wajah datarnya sudah mewakili dirinya jika saat ini dia sedang marah pada semua pegawai itu.
Ia pun segera menuju lift. disana papa Hendrawan hanya memperhatikan saja apa yang di lakukan Tea. sesampainya di ruangan CEO, papa Hendrawan menyuruh sekretarisnya untuk menunjukkan ruangan Tea agar gadis itu bisa belajar.
"Kau tunjukkan ruangan untuk putriku. dan jelaskan semuanya padanya agar dia bisa cepat mempelajarinya." kata papa Hendrawan pada sekretarisnya Rudi.
Setelah menuju ke ruangannya Tea pun langsung berkutat dengan laptopnya. sekretaris rudi masih berdiri di sana dan hanya memperhatikan Tea saja. karena merasa ada yang memperhatikannya membuat Tea mendongak dan menatap sekretaris rudi dengan datar.
"a ada apa nona . kenapa menatap saya seperti itu?" tanya sekretaris rudi yang merasa sedikit takut dengan tatapan Tea.
"Keluar." kata Tea dengan suara dinginnya yang memberikan laki laki itu hanya bisa mengangguk saja kemudian keluar.
Ia menghela nafasnya beberapa kali setelah sampai di luar ruangan. sungguh ia tidak menyangka jika anak dari pimpinannya menyeramkan seperti itu. ia belum mengenal Tea karena ini adalah kali keduanya dia menginjakkan kakinya di perusahaan papanya setelah dia berumur 3 tahun..
"Kenapa nona Tea sangat menakutkan. ah bagaimana aku harus menjelaskan semuanya kalau melihat tatapannya saja sudah membuatku bergidik." ucap sekretaris rudi.
__ADS_1