
Pukul 8 malam, Tea duduk di sofa dengan beberapa kali melihat ke arah pintu. ya rupanya dia tengah menunggu kepulangan suaminya namun sosok tersebut masih belum menunjukkan batang hidungnya.
"Kau mau pulang atau tidak. jika tidak pintunya akan aku kunci." pesan yang di kirim Tea pada suaminya.
Cukup lama dia menunggu balasannya, hingga setelah menunggu hampir satu jam lamanya Tian pun membalas. ia sudah menghabiskan beberapa makanan ringan dan akhirnya tak sadar jika dia sudah tertidur.
Tea mengerjapkan matanya ketika merasakan getaran ponselnya. ia pun membuka ponselnya dan ternyata pesan dari Tian
"Ck yang benar saja aku ketiduran disini. apa ini? sebenarnya dia sedang dimana?" gumam Tea ketika membaca pesan Tian
"Aku segera pulang." pesan Tian
"Hoaammm...."
Tea mengambil beberapa camilan lagi dan mulai memakannya. matanya sudah tidak bisa menahan Kantuk yang sangat luar biasa dan ia pun tertidur dengan posisi duduk di sofa.
pukul setengah 12 malam, Tian baru saja pulang. dia membuka pintu apartemennya dengan perlahan-lahan. semua lampu masih menyala itu berarti Tea belum tidur pikirnya.
"Dia tidur disini?" gumam Tian dengan terkejut.
"Apakah dia menungguku?" lanjutnya lagi dengan tersenyum.
ia pun melihat banyaknya bungkus makanan ringan dan membereskan semuanya. ia mematikan lampu terlebih dahulu sebelum akhirnya ia membopong tubuh Tea perlahan menuju kamarnya.
Rasanya damai sekali melihat wajah Tea yang tengah tertidur seperti itu. Tian memperhatikan terus dan merapikan anak rambut yang berada di wajahnya. tanpa dia sadari, ia mencium kening Tea dengan lembutnya menyalurkan kasih sayang dan rasa penyesalan yang teramat dalam.
"Entah dari kapan aku benar-benar sangat menyayangimu Tea dan aku tidak bisa jauh darimu. aku minta maaf telah membuat mu kesulitan." ucap Tian dengan menyelimuti Tea dan memeluknya.
Pagi harinya, tea mengerjapkan matanya dan terbangun. ia heran kenapa dia tiba-tiba bisa tidur di kamarnya karena seingat dirinya tadi malam ia ketiduran di sofa.
__ADS_1
Ia bangun dan mencuci muka setelah itu menuju dapur untuk mengambil air minum. di lihatnya Tian tengah bergulat dengan bahan-bahan dapurnya. saat ini tian hanya memakai celana oblong bewarna hitam dan kaos putih polos. rambut berantakannya membuat Tian terlihat begitu kharismatik serta celemek yang dia pakai benar-benar melengkapi jika Tian adalah pria idaman.
"Kau sudah bangun?" kata Tian yang membuat Tea terlonjak kaget karena kepergok melihat suaminya diam-diam.
"Ah i iya..." ucap Tea dengan gugupnya.
"Duduklah sebentar lagi matang. kau mau minum kopi atau air putih atau yang lainnya akan aku buatkan." kata Tian
"Aku akan mengambilnya sendiri." kata Tea namun buru-buru di cegah Tian.
"Duduk saja aku akan menyiapkan semuanya." kata Tian dengan mendorong Tea agar wanita itu duduk.
Tea hanya menurut saja dan tak berselang lama nasi goreng yang Tian buat pun jadi. mereka menikmati sarapan pagi itu dengan tenangnya.
"Maaf tadi malam membuatmu menunggu. ada banyak hal yang harus aku selesaikan di kantor. aku juga masih harus banyak belajar untuk mengelola perusahaan." kata Tian di sela-sela makannya.
"Baiklah lain kali aku akan pulang lebih awal." ujar tian dengan tersenyum.
"Bagaimana masakanku?" tanya Tian.
"lumayan." jawab Tea.
"Setelah ini aku ada kelas pagi. ah ya aku lupa memberitahumu, seminggu lagi aku akan ada tour ke kota B sekitar 5 hari. " kata Tian.
"Ya berhati-hatilah." kata Tea yang membuat Tian tersenyum kecut saja.
"Baiklah aku berangkat dulu. jika ada apa-apa kau langsung hubungi aku." kata Tian dengan memakai sepatunya.
"Hmm...apa ini?" tanya Tea ketika tiba-tiba Tian mengulurkan tangannya
__ADS_1
"kau tidak mau menyalami suamimu?" tanya Tian yang membuat tea berdecak kesal.
"Ck... walaikumsalam." ucap Tea yang mencium tangan Tian kemudian langsung masuk.
Tian hanya tersenyum saja melihat itu. dia yakin kedepannya hubungan mereka akan menjadi lebih mudah lagi dan ia selalu berdoa agar hubungan yang ia bangun lagi akan tetap terjalin rapi.
Setelah Tian berangkat, tea pun mulai membereskan apartemennya. sebelumnya dia jarang melakukannya karena itu setelah menyelesaikan semuanya badannya terasa sangat pegal dan sekarang dia tengah bersandar di tembok.
"Ahhh ternyata sangat melelahkan...dan aku harus melakukannya setiap hari sekarang.." ucap Tea dengan menghela nafasnya kasar.
"Kenapa sih papa menikahkanku secepat ini bahkan aku belum puas dengan masa remajaku. aishhh aku kesal sendiri." ucap Tea.
dering telepon membuat Tea langsung beranjak dan mengangkatnya. itu telepon dari sahabatnya Bianca. ia langsung menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara melengking dari Bianca.
"Kau dimana hah kenapa tidak memberitahu ku jika kau sudah tinggal sendiri!!"
"Ahhh aku bukan bermaksud tidak memberitahumu. sebenarnya setelah ini aku ingin menelpon mu tapi ternyata kau sudah menelepon lebih dulu hehe. sorry...."
"Katakan padaku kau dimana aku akan kesana menyusulmu."
"Ah a apa kenapa kau ingin kesini?"
"Apa?? tidak boleh???!!! setelah ini aku benar-benar tidak akan berteman atau menemuimu lagi."
"Apa yang kau katakan bodoh!! baiklah ku kirim alamatnya." ucap Tea dengan mengakhiri teleponnya.
Ya memang masalahnya dengan tian tidak ada Yang tahu bahkan Bianca sahabat baiknya saja tidak tahu. ia benar-benar menyembunyikannya dengan pintar. namun begitulah sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai pada akhirnya akan tetap tercium baunya.
"Mungkin aku harus menceritakan semuanya pada Bianca. aku juga akan meminta maaf karena tidak memberitahunya lebih awal ." gumam Tea dengan menghembuskan nafasnya kasar
__ADS_1