Be My Husband

Be My Husband
Perkembangan


__ADS_3

Jauh di lubuk hati Tea, ia merasa senang dengan sikap Tian namun untuk sekarang dia tidak akan luluh begitu saja, dia ingin memberikan pelajaran pada pria yang kini sudah berstatus menjadi suaminya itu.


Tea membereskan meja makan dan kembali ke kamarnya. ia menuju meja riasnya dan mencari sesuatu namun ia tak menemukannya. ia mencari di lain tempat namun masih tetap tidak ada.


"Aku yakin tadi aku meletakannya disini." ucap Tea yang terus mencari krim wajahnya.


Tian keluar dengan rambut yang masih basah dan handuk yang berada di lehernya. ia melihat jik Tea tengah sibuk mencari sesuatu. dengan santainya ia menuju meja rias dan meletakkan sesuatu disana.


"Kamu mencari apa?" tanya Tian.


"Kau lihat krim disi.....lahh ini....tadi tidak disini. kau!!!" kata Tea dengan menatap Tian nyalang


"Aku hanya memakainya sedikit saja." kata Tian dengan santainya.


"Kau bilang sedikit!!! lihat ini sudah berkurang sangat banyak. aihhh Tian kau benar-benar membuatku marah." kata Tea dengan kesalnya.


"Sebelum aku memakainya memang sudah seperti itu." kata Tian.


"Aahhh aku berkata benar kenapa kau memukulku." seru Tian ketika mendapatkan beberapa pukulan keras dari Tea


"Kau sangat menyebalkan." kata Tea dengan menghentakkan kakinya dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Apa kau marah? tanya Tian dengan mendekati Tea.


"Jangan dekat-dekat denganku. pergi sana." teriak Tea.


Tian tidak mendengarkan ucapan Tea dan tetap ikut berbaring di samping Tea dengan tangan yang melingkar di perut istrinya. tentu saja Tea memberontak tapi Tian sebisa mungkin menahan gerakan Tea dan alhasil tea hanya bisa diam saja.


"Kenapa kau marah hanya soal itu saja. baiklah aku minta maaf karena tidak bilang padamu dulu. itu karena aku merasa penasaran jadi aku memakainya." ucap Tian.

__ADS_1


"Singkirkan tanganmu dan jangan dekat-dekat denganku." kata Tea.


"Bagaimanapun juga kita sudah menjadi suami istri Tea. apa kau ingin menjadi istri durhaka." kata Tian.


"Ahhh diamlah kau berisik sekali aku tidak bisa tidur." kata Tea dengan kesalnya.


Akhirnya Tea pun membiarkan Tian tetap memeluknya sampai dia tidak sadar jika sudah tertidur. mendengarkan dengkuran halus dari Tea membuat Tian hanya tersenyum saja. tiba-tiba Tea merengkuh dan berbalik badan menghadap Tian


Melihat wajah damai Tea membuat Tian juga ikut damai. ia memperhatikan wajah tersebut dan membayangkan bagaimana sulitnya dia menjadi hidupnya hanya karena kebodohannya.


"Maafkan aku sayang aku sangat bodoh. jika saja aku berfikir lebih dalam lagi pasti di antara kita sudah ada malaikat kecil. aku benar-benar minta maaf aku menyayangimu..." gumam Tian dengan mengecup kening Tea penuh kasih sayang.


Mereka tidur dengan Tea yang berbantalkan lengan Tian sementara tangannya dan kakinya memeluk Tian dengan eratnya.


Pagi harinya Tian terbangun dan merasakan keram di bagian tangannya. ia melihat ke arah tangannya yang terasa berat. dilihatnya Tea masih tertidur dengan nyenyaknya. ia pun memberikan kecupan selamat pagi di bibir Tea membuat wanita itu mengerjapkan matanya.


"Tanganku keram." kata Tian yang membuat Tea menatapnya dengan malas namun bukannya beranjak justru Tea semakin erat memeluk Tian dan tidak ingin melepaskannya.


"Kenapa?" tanya Tian namun tidak mendapatkan jawaban dari istrinya.


tidak bohong jika Aroma tubuh tian sangat memanjakan hidung tea. ia tidak benar-benar tidak ingin kehilangan aroma ini. ia juga merasakan beberapa kali Tian menciumi kepalanya dan terus mengajak berbicara namun karena dia selalu malas berbicara jika bangun tidur ia pun hanya mendengarkan saja.


"Kau berisik sekali sih!!" seru Tea dengan menatap Tian kesal.


"Tangan ku keram." kata Tian.


"Ck lemah sekali." kata Tea dengan berdecak kesal namun masih belum bangun.


"Kau butuh sesuatu?" tanya Tian yang membuat Tea menatapnya namun sedikit kemudian ia terkejut dengan serangan Tian yang tiba-tiba yang mengecup bibirnya.

__ADS_1


"Masih tidak mau bangun? ingin lebih atau kau bangun." kata Tian yang membuat Tea segera bangun.


Tian meregangkan otot-ototnya tangannya yang terasa pegal dan sakit kemudian ia beranjak menuju kamar mandi.


"Dasar gila." umpat Tea dengan mengusap bibirnya.


Ia pun kembali tidur lagi karena tiba-tiba merasa tidak enak badan dan sangat lemas. melihat Tea yang kembali tidur membuat Tian merasa heran kemudian dia menghampiri Tea.


"Kau baik-baik saja?" tanya Tian dengan duduk di samping Tea.


"Aku baik-baik saja. aku akan tidur sebentar lagi. kau berangkatlah." jawab Tea.


Tian pun bersiap-siap untuk kuliah. sebelum dia berangkat dia menyempatkan masak seadanya dulu untuk dia dan istrinya sarapan. setelah semuanya siap dia sarapan dan sebelum berangkat di ke kamar dulu untuk memeriksa tea.


"Aku berangkat dulu. aku sudah menyiapkan sarapan." kata Tian namun tidak mendapatkan jawaban dari Tea. Ia pun mencium kening Tea dan pipinya sebelum akhirnya dia berangkat.


Sebelum ke kampus, Tian menuju ke perusahaan papanya lebih dulu untuk menyelesaikan beberapa berkas yang kemarin belum selesai.


"Pak anda di panggil pak Dirga." kata Brian sekretaris Dirga pada Tian.


"Ya." jawab Tian yang langsung beranjak.


"Ya pa..." tanya Tian ketika sudah berada di ruangan Dirga


Dirga memberikan beberapa lembar kertas pada Tian dan menyuruh Tian mempelajarinya sebentar.


"Papa ada projek dengan rekan papa. papa mau kau yang menanganinya. anggap saja kau sedang magang di perusahaan papa dan jika kau berhasil dalam projek ini papa akan memberikan jabatan baru untukmu." kata Dirga yang membuat Tian terkejut.


"Papa serius? ini projek besar loh papa. aku masih belajar dan belum menguasainya. " kata Tian.

__ADS_1


"Ya intinya tangani saja dulu. papa percaya padamu. jangan mengecewakan papa." kata Dirga dengan menepuk bahu Tian.


__ADS_2