Be My Husband

Be My Husband
Menghirup Udara segar


__ADS_3

Beberapa saat kemudian pintu apartemen Tea pun di ketuk. ia sudah tau siapa yang datang dan langsung saja membukanya. tanpa permisi atau kata-kata Bianca langsung menyelonong masuk dan duduk.


"Jelasin semuanya Tea aku tidak mau kau merahasiakan apapun dariku. kau belum tahu jika aku marah bukan." kata Bianca yang membuat Tea hanya berdecak kesal saja.


"Baiklah dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya." kata Tea dengan menekankan kata-katanya.


....


"Gila!!!!kau serius te!!???" teriak Bianca setelah mendengar cerita Tea.


"Ya kenyataannya memang seperti itu. maafkan aku waktu itu aku tidak bercerita denganmu. aku mengalami banyak hal dan sangat sulit bagiku. bahkan aku hampir gila menjalaninya." ucap Tea yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Bianca.


"Jadi kau sudah menikah dengan Tian?? ahh ya aku ingat sesuatu, aku pernah melihat kau dan dia bertemu tapi sepertinya saat itu kalian sedang bertengkar." kata Bianca.


"Huffft begitulah Bi...entah aku bisa memaafkan atau tidak tapi aku akan berusaha." ucap Tea.


"Maafkan aku seharusnya aku sebagai sahabat mengerti dirimu. seharusnya aku ada di saat kau sulit." kata Bianca dengan menangis.


"Ck kenapa kau menangis Bi? sudahlah itu juga sudah berlalu aku tidak menyalahkan mu justru aku bersyukur bisa mempunyai sahabat sebaik dirimu." kata Tea dengan memeluk Bianca.


"Terus sekarang bajingan gila itu dimana? ingin sekali aku memukulnya." kata Bianca dengan kesalnya.


"Dia sudah berangkat. sudah lama aku tidak menghirup udara segar. bagaimana denganmu?" kata Tea dengan menatap Bianca.


"Ahhh terakhir kalinya kita ke pantai setelah itu kau jarang mengabariku. ayo pergi." kata Bianca dengan bersemangat.


"Ya aku ganti baju dulu." kata Tea


"Woahhh aku sangat merindukanmu. sudah lama sekali kita tidak pergi bersama." kata Tea dengan mengelus motornya.


Mereka berjalan jalan mengelilingi kota dan menikmati beberapa kuliner. mereka mengganti waktu-waktu yang terlewat begitu saja dengan bersenang-senang. rasanya dunia Tea benar-benar sangat menyenangkan tidak ada kesedihan beban ataupun yang lainnya. Memang benar jika bersama sahabat hanya akan ada kebahagiaan saja.


"Te ke mall." kata Bianca yang di angguki Bianca.


Ia langsung mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. menyalip banyak kendaraan dengan lincahnya sementara Bianca yang duduk di belakang berteriak ketakutan dengan memeluk Tea sangat erat.


"Kau gila Tea hentikan motormu aku bisa mati!" seru Bianca yang merasa ngeri.

__ADS_1


"Kenapa Bi sebentar lagi sampai jika tidak kita akan terjebak macet." kata Tea tanpa menghiraukan perkataan Bianca.


Setelah sampai mall mereka langsung berbelanja baju dan apapun itu yang membuat mereka tertarik setelah itu mereka makan sore.


"BI aku antar kau sampai ke rumah ya." kata Tea.


"Oke." kata Bianca.


Beberapa saat setelah mengendarai motor kini mereka sampai di depan rumah Bianca dengan membawa beberapa tas belanjaan. di luar kebetulan ada Rendi yang tengah duduk dan minum kopi.


"Wahh siapa itu yang datang?" kata Rendi


"Hai kak Rendi." kata Tea dengan tersenyum.


"Ohh kamu Tea. sudah lama tidak kesini. bagaimana kabarmu?" tanya Rendi.


"Alhamdulillah baik kak." jawab Tea.


"Masuk saja Tea atau mau menemaniku minum kopi? ah ya apa kau mau kopi nanti biar Bianca yang buatkan.' kata Rendi


"Heii kenapa aku!!" seru Bianca tidak terima.


"Wahhh parah kau Bi...." kata Rendi dengan menyalahkan adiknya.


"Baiklah kau hati-hati dijalan ya jangan dengarkan perkataan orang gila ini." ujar Bianca dengan melirik Rendi.


"Baiklah aku duluan bye...." kata Tea dengan menyalakan motornya dan berlalu pergi.


"Belanja apa kau?" tanya Rendi .


"Mau tau saja wleeeekk..."kata Bianca dengan menjulurkan lidahnya.


"Heii setidaknya belikan aku kaos sepatu atau celana." teriak Rendi.


Tea mengendarai motornya menuju rumah orangtuanya. dia berhenti sebentar dan menatap gerbang rumahnya sebelum akhirnya pergi.


Sesampainya di apartemennya dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya sebentar. ia melihat ke arah jam dinding yang ternyata sudah pukul 5 sore.

__ADS_1


"Lebih baik aku mandi saja." ucap Tea dengan berjalan ke kamar mandi.


Setelah itu dia pun memasak makanan untuk makan malam, ya tentu saja dia menunggu kepulangan Tian. entah bagaimana dia sangat marah dengan perbuatan Tian tapi tidak bisa di bohongi jika perasaannya benar-benar mencintai Tian.


Setelah semuanya siap, ia pun duduk di sofa dan menyalakan televisi Sambil menunggu kedatangan Tian. tidak seperti kemarin, pria itu datang lebih awal dan mereka menikmati makan malam bersama.


"Tea..." ucap Tian yang membuat wanita itu menoleh ke arahnya.


"Kemarilah sebentar.' kata Tian dengan tersenyum


"Kenapa?" tanya Tea dengan duduk di sebelah Tian.


Tian mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. sebuah liontin indah di pegang Tian. ia menatap Tea dengan hangatnya.


"Berbaliklah." kata Tian yang membuat Tea hanya menurut saja.


Dia memakaikan liontin itu ke leher Tea kemudian mengecup singkat leher mulus sehingga membuat tubuh Tea merinding dan langsung menjauh dari Tian.


"bagaimana kau suka?" tanya Tian .


"Lumayan. terimakasih." jawab Tea seadanya.


"Apa tidak ada jawaban lain selain itu?" tanya Tian yang terlihat kesal.


"Ya ini bagus aku menyukainya." kata Tea dengan memutar bola matanya malas.


"Hahh kau mengatakannya dengan terpaksa." kata Tian.


"Yasudah ambil kembali saja aku tidak menginginkannya." kata Tea yang membuat Tian terkejut.


"Ayolah sayang kita berdamai ya. bukankah kau bilang akan memaafkan ku ." kata Tian dengan lemasnya.


"Tapi bukan berarti sudah memaafkan mu. jadi berusahalah lebih keras lagi agar aku cepat memaafkan mu. dan aku belum memaafkan mu jadi jangan panggil aku dengan kata-kata. hah sangat menggelikan." kata Tea.


"Menggelikan katanya...dia terlihat suka dengan panggilan itu." cibir Tian


"Bicara apa kau?!!" kata Tea yang mendengar sekilas.

__ADS_1


"Aku akan mandi." kata Tian dengan beranjak pergi


__ADS_2