belenggu mafia kejam.

belenggu mafia kejam.
bab-12. cemburu.


__ADS_3

pria berperawakan tinggi dengan rahang tegas itu kini tengah berada di bandara , entah penerbangan kemana tapi dia berjalan angkuh dengan dagu terangkat di sisi kanan nya ada seorang pria seumuran dengannya , yang mengikuti langkahnya .


brugh seorang wanita menubruk bahunya , lalu meringis . dan memegang bahunya Seraya berdiri dan membuka kaca mata nya dan memelototi dirinya yang menampilkan raut datar .


"hei kalau jalan pakai matamu ." ketus wanita itu pada pria itu .


pria itu hanya menatap datar wanita di hadapannya tanpa menampilkan raut apapun, wanita itu semakin kesal lalu menghentakkan kakinya dan kembali berbicara kali ini agak membentak .


"Selain tidak bisa melihat kau pun bisu ." lalu pergi dari sana meninggalkan pria itu , pria itu hanya mengedigkan bahunya acuh lalu kembali berjalan.


kini dia sudah duduk di atas pesawat , memilih duduk di dekat jendela pesawat dan pria yang bersamanya berada di sisi lain , dia terus menatap keluar jendela setelah pesawat lepas landas dia tersenyum tipis dan bergumam "arabella tunggu , aku akan menjemputmu.!"


***


sedangkan di belahan negara lain, seorang paruh baya tengah dalam keadaan hati baik , pasalnya cucu perempuan satu satunya akhirnya di temukan , setelah 17tahun menghilang cucu pemilik klan terbesar di negara itu di temukan dan menjelma menjadi sosok yang luar biasa , .


"siapkan penerbangan kita , kita akan terbang ke negara B." ucap paruh baya itu .


"ayah, apa ayah yakin dia adalah cucumu .?" ragu sang anak


"gen kita tidak pernah salah, setelah mendengar beberapa laporan terakhir dan bagaimana wajahnya yang mirip sekali dengan kakak Mu, aku yakin dia cucuku ." tegas paruh baya itu tanpa bisa di bantah .


"tapi ayah, ini mustahil setelah 17--"


"tutup mulutmu jika kau tidak percaya itu bukan urusanku ." potong paruh baya itu lalu memanggil asisten pribadinya untuk menyiapkan penerbangannya .


***


"tuan keberadaan nona sudah di ketahui oleh tuan muda , juga klan itu ." lapor seorang laki-laki kisaran umur 40 tahun pada tuan Hernandez yang kini tertegun , dia menghela napas lalu mengangguk.


"buka gerbang mansion selebarnya, persilahkan mereka masuk jika sudah sampai ." seakan tahu jika klan itu akan mendatanginya tuan Hernandez akan menyiapkan segalanya .


***


berita itu terdengar sampai telinga Damian, yang kini sering menggoda Bella dengan berbagai bualan atau tindakan, Damian tersenyum miring , silahkan saja sampai ke ujung dunia pun mereka tidak akan menemukan arabella nya , karna mansion ini jauh dari pemukiman warga .


"biarkan mereka mencari , ." ucap Damian tenang .


"bagaimana dam, jika mereka mencari sampai universitas .?" itu Dave yang menghawatirkan Bella juga Damian .


"coba saja, mereka tidak akan menemukan arabella Hernandez atau arabella Miller di universitas itu ." ujar Damian dingin


"jangan bilang kau, dasar licik ." umpat Dave Damian terkekeh sinis dengan umpatan itu .


"menurutmu aku akan rela. setelah menunggu lama , lalu mereka mengambil dengan mudah," Dave mengangguk memang siapa yang akan rela jika wanita yang menjadi obsesinya bertahun tahun telah berada di genggamannya di ambil oleh orang lain, sekalipun keluarganya sendiri , ck, pemikiran bodoh macam apa itu .


"aku akan membuat nya mencintai ku Sampai tahap tidak ingin meninggalkan dan ditinggalkan ." di sertai dengan smirk menakutkan Damian berbicara membuat Dave bergidik ngeri .

__ADS_1


drrrt drrrt drrrt .


"ada apa .?"


"tuan, nyonya pingsan ." Damian segera berlari setelah mendengar 3 kata yang keluar dari mulut Laura .


***


arabella yang tengah melukis di ruang pribadinya di temani Laura , mendadak sesak dan nyeri di ulu Ati , dia bahkan melepaskan kuas di tanganya dengan napas tersenggal , entah apa yang terjadi dia pingsan seketika , Laura panik segera menelpon Damian


Laura menepuk nepuk pipi Bella pelan berharap Bella bangun , namun saat dia mendapati tangan arabella dingin Laura segera menjadi makin panik. Damian datang dengan napas memburu , merangkul Bella lalu membawanya ke kamar mereka .


"panggil dokter Jack, Marco ." teriak Damian menggelegar Marco segera menelpon dokter Jack yang tak lain adalah dokter pribadinya .


Damian menidurkan Bella secara hati hati di ranjang mereka . Damian membelai pipi Bella yang dingin .


"Ara, hei bangun sayang ini aku ." ucap Damian mengecup pipi Bella lembut .


"Ara sayang hei .." Damian frustasi Bella tak kunjung membuka matanya juga tubuhnya mendadak dingin . dokter Jack datang dan buru buru memeriksanya .


"Marco ambil oksigen dan tabungnya cepat ." ucap dokter Jack , Marco segera berlari untuk mengambil oksigen .


"dia baik-baik saja kan .?" tanya Damian khawatir .


"tuan, tenang lah saya akan memeriksanya ." ucap dokter Jack . Damian menggeram , dia Marah tapi dia mengamuk pun hanya akan memperkeruh suasana . dia hanya memendam kemarahannya membuat wajah Damian terlihat menakutkan sekarang .


"nyonya baik baik saja. dia hanya terkena panik attack, nyonya memiliki riwayat gerd jadi itu penyebabnya , sekarang kita hanya perlu menunggunya sadar Saja ." Damian menghela napas lega setelah mendengar penjelasan dokter Jack , dia mengangguk .


"oh iya, tuan biarkan infusnya habis." Damian lagi lagi mengangguk dan berjalan ke arah ranjang


"tinggalkan kami ." itu Damian dengan suara rendah dia memberi intrupsi , mereka menunduk dan pergi dari kamar itu meninggalkan Damian dan Bella di sana .


untuk beberapa saat hening, Damian hanya menatap Bella dengan intens, tangannya terangkat untuk membenahi rambut Bella, lalu berpindah ketangan Bella yang tidak terhias infus mengecupnya lama .


"jangan membuatku khawatir , sayang ." ucapnya lalu membuka kemejanya dan baju polosnya , membuat dirinya bertelanjang dada , dan naik ke ranjang sebelahnya memeluk Bella dari samping mengecupnya berkali kali dan tidur .


***


pagi ini Bella sudah fresh kembali , dia berjalan menuju ruang makan lalu duduk di sisi kanan dan ada Clarisa di sana . tapi damian belum ada. dia mengerenyit lalu bertanya .


"kemana Damian .?" tanya nya pada Laura .


"aku disini .!" jawab Damian saat datang bersama Marco dan 2sahabatnya dia duduk dan mereka pun duduk di kursi masing masing .


Bella mengangguk dan duduk ,lalu mengambil makanannya, Delon dan Dave menatap Damian yang menatap Bella mereka memberi kode pada Damian untuk segera menjalankan misi , Damian ragu tapi karna Damian pun ingin segera melihat perasaan istrinya dia menjalankan misinya dengan cara seperti ini .


"Clarisa , setelah makan bisa temani aku." ucapan lembut Damian membuat mereka melotot kecuali 3laki laki yang sekarang tengah menahan geli pada ucapan Damian . bagaimana dengan clarisa dia terkejut bukan main .

__ADS_1


"u-untuk apa .?'" tanya clarisa terbata karna baru pertama kali ini dia mendengar Damian bicara lembut padanya .


"aku ingin, kau menemaniku di---" Damian sengaja menjeda ucapannya lalu melirik Bella yang sepertinya tengah menahan geram dengan cara memakan makanannya dengan brutal . "ruang kerja ku. " lanjutnya lalu tersenyum tapi mata itu masih tertuju pada Bella yang kini masih menunduk .


"emm, baik da---"


"tuan maaf , bukankah sebaiknya nyonya yang anda ." sela Laura yang menahan amarah sedari tadi karna , tuannya ini kenapa sih .!


"aku ingin Clarisa ." ujar Damian dingin . Bella bereaksi mengangkat wajahnya lalu menghembuskan napas kesal .


"aku selesai,." ketusnya lalu pergi dengan menghentak hentakkan kakinya . Laura menatap Clarisa dan Damian sinis . 3laki laki itu memberi jempol pada Damian , sedangkan Damian mendesah gusar , dan Clarisa mengerenyit tidak mengerti .


***


Bella berguling guling di kasurnya , setelah dia menyelesaikan kelasnya dia mengurung dirinya di kamar bahkan Laura pun tidak di biarkan masuk , dia mencak mencak di kamar .


"ck, manusia menyebalkan, menciumku tiap pagi dan malam tapi meminta wanita lain menemaninya dasar playboy cap ****** ." gerutu Bella .


"hah kenapa panas sekali rasanya dada ini , ck kenapa sih ." Bella terus menggerutu di dalam kamar .


tok tok tok .


"nyonya tuan meminta anda untuk bergabung di paviliun Utara ." itu Laura dia mengetuk lalu menekan interkom agar nyonyanya dapat mendengar . Bella menghembuskan napas kasar lalu membuka pintu dan mengangguk pada Laura yang memasang ekpresi khawatir pada nyonya mudanya ini .


"ayok ." ajak Bella lalu berjalan menuju paviliun Utara , di sana ternyata sahabat Damian masih ada dan yang membuat Bella menahan panas di dadanya adalah Clarisa duduk di sebelah Damian dengan sedikit manja , dan Damian meladeni itu , ck tidak seperti biasanya bukan , biasanya Clarisa menjumpai Damian saja dia akan ketus dan pergi tapi sekarang damian malah meladeninya dan meminta Clarisa bersamanya , sungguh menyebalkan .


Bella dan Laura datang , Bella memasang ekpresi tak suka terang terangan dia melipat tangannya di dada menatap Damian .


"ada apa .?" tanya nya ketus Damian menatap balik Bella lalu memintanya untuk duduk di sana , karna malas berdebat Bella duduk di ikuti Laura di samping nya .


"arabella maafkan aku ya, ini Damian yang minta aku duduk di sini ." ujar Clarisa manja Damian sebenarnya sudah merasa kesal tapi demi misinya berhasil dia harus kuat .


"bodo amat ." sewot Bella mereka mengangkat sudut bibirnya ke atas melihat reaksi Bella .


"Clarisa, bisa ambil aku minum itu ." pinta Damian lembut pada Clarisa seraya menunjuk minuman di sampingnya , Clarisa mengambilnya lalu menyerahkan pada Damian .


"terimakasih ." ucap Damian dengan senyum manis nya , Clarisa tersipu di sana .


Bella meremas bantal sofa yang ia pegang melihat interaksi mereka berdua, Clarisa memakan bolu yang ada di hadapannya dan entah di sengaja atau tidak coklat nya melebar ke sisi bibirnya dengan sigap Damian mengambil tissue lalu mengelapnya dan berkata . "selalu saja kau itu jika makan bolu belepotan ." Clarisa memerah karna tersipu sedangkan Bella sudah menggeram , dia berdiri dan melempar bantal itu pada Dave yang tengah menahan tawa bersama Delon dengan cara menunduk.


"dasar playboy cap ****** ." teriak Bella lalu pergi dari sana dengan menghentak hentak kan kakinya. Laura mengejarnya saat Laura memegang bahunya tangan Laura di tarik lalu di banting mereka melotot karna gerakan repleks itu, Laura meringis.


"jangan dekati aku bangs't." geram Bella. iya Bella di Liputi oleh cemburu dan Amarah yang entah karna apa , dia melangkah lebar .


sedangkan Damian mendengus kesal karna respon Bella yang terlalu mengerikan , Damian senang Bella cemburu dengan makian tadi padanya tapi tidak senang juga karna Bella akhirnya marah dan bisa di pastikan jika kemarahan Bella tidak segera di redakan , mansion ini akan hangus terbakar .


"ck, kalian harus bertanggung jawab ." ujar Damian kesal pada 2sahabatnya lalu menyusul Bella ke dalam .

__ADS_1


__ADS_2