belenggu mafia kejam.

belenggu mafia kejam.
bab-32. tangis Damian .!


__ADS_3

pria tua itu murka , mendengar sang cucu yang telah 17tahun ia cari, di culik anak bungsunya seorang kenward , ck, punya apa mereka hingga seberani itu .


siapa yang kenward miliki sehingga berani mendatangi negara yang di tinggali cucu nya, untuk menculiknya .


kenward adalah seorang mafia di bawah klan pak tua itu, tidak dapat di pungkiri bahwa ia bisa saja mendepak atau meratakan mereka tapi , hubungan yang selalu mereka jalin dengan baik membuat pak tua itu berfikir ulang, . dengan segala kemarahan dia pergi ke kediaman besar kenward.


mereka pikir, arabella itu siapa bisa mereka perlakukan sebegitu mudahnya .


dengan masih bersujud di kaki pria tua itu. tuan besar kenward memohon maaf .


"tuan, saya sungguh tidak mengetahui perbuatan berandal itu, dan saya pun tidak mengetahui bahwa arabella cucu perempuan anda ." ucapnya bergetar .


pria tua itu, masih mengeraskan rahangnya, dia marah pada semua orang, pada anak dari seorang kenward karna lancang menculik cucunya, pada klan Miller karna lalai menjaga cucunya , persetan dengan keinginan mendiang putrinya , mereka berani memantik api amarah di diri seorang tuan tua itu .


seorang pengawal mendekat membisikan sesuatu pada tuan tua , lalu mengangguk .


Trak .


tongkat di tangannya dia hentakan sangat kuat hingga membuat mereka yang berada di sana meringis takut.


"karna kebaikan ayahmu dan juga dirimu sendiri aku akan memaafkan perbuatan anak berandal mu itu, tapi jangan pernah meminta bantuan ku, jika Miller menyatakan perang padamu ." suara tegas dan mengintimidasi itu membuat mereka membeku .


pak tua itu pergi tanpa menoleh lagi , dia sudah mendapat informasi cucunya telah di temukan walau dalam keadaan buruk karna harus di larikan ke rumah sakit .


tuan kenward menghela napas lega , lalu duduk, mendial nomor seseorang lalu menempelkan di telinganya dengan rahang mengeras dan tatapan penuh amarah .


"bawa berandal itu, pulang . SEKARANG." bentaknya pada orang di sebrang sana, kenward benar benar tidak habis pikir dengan Alberto kenapa dia masih menginginkan gadis kecil itu,.


***


Dave terpaku saat tubuh Laura yang memeluk Delon terpental ke arahnya .


Laura penuh dengan luka di sekujur tubuh , nya ledakan itu berakibat sangat buruk pada tubuh Laura , jika saja Laura tidak melepas pelukan dan tubuhnya sedikit bergerak , mungkin Dave dan Marco akan menyangka Laura sudah mati .


sesegera mungkin Dave dan Marco juga tim Tiger membawa Laura dan Delon yang tak sadarkan diri ke rumah sakit yang sama dengan Bella .


.


.


.


.


.


lorong rumah sakit itu berubah mencekam , Damian berdiri di depan pintu ruang oprasi dan lampunya masih menyala merah . di dalam sana Bella tengah di tangani dengan tindakan oprasi , entah apa yang para dokter lakukan ini sudah 5jam mereka belum keluar .


dengan masih menampilkan ekpresi dingin, Damian bertanya pada Marco yang setia di sampingnya .


"Laura .?"


Marco berdehem lalu menjawab "sudah di pindah ke ruang rawat tuan, luka di sekujur tubuhnya cukup serius, tapi telah di tangani ." jelas Marco .


Damian berpikir Laura yang paling parah terluka saja sudah keluar dari ruang oprasi dan berada dalam ruang perawatan , tapi kenapa istrinya yang hanya terbatuk darah dan dahinya terluka begitu lama di dalam ruangan itu .


"tuan Dave dan Delon, pun sudah ditangani dan dalam ruang perawatan ." tambah Marco karna tidak mendapat atensi dan jawaban dari Damian .

__ADS_1


***


sedangkan di salah satu apartemen seorang wanita tengah gelisah, dadanya berubah sesak airmatanya lolos , dia tidak tahu kenapa tapi mengapa begitu sesak rasanya .


seorang pria yang menemaninya pun tak mengerti .


"sebenarnya kau kenapa .?" tanya pria itu .


"Jo, aku cemas , entahlah apa penyebabnya ." jujur Nesta ya mereka Jonathan dan Nesta .


Jonathan menepati janjinya untuk bertemu Nesta setelah Sampai di negara ini .


Jonathan menyodorkan segelas air putih pada Nesta "minumlah , tenanglah ." ujar Jonathan.


Nesta meminum air putih itu lalu mencoba tenang .


Jonathan menarik Nesta kedalam pelukannya ."jangan berpikir yang lain, aku hanya ingin kau tenang ." ujar Jonathan saat merasakan Nesta akan memberontak .


Nesta pun membalas pelukan jonathan dan mengatur napas nya di dalam dekapan laki-laki yang telah merenggut masa depannya itu .


'ka, apa kau baik baik saja .?'jerit hati Nesta , karna entahlah dia teringat kepada sang kakak yang ia cari selama ini dan belum menemukan titik terang .


'apa, aku harus bicara sekarang .? tapi Nesta tengah gelisah .' batin Jonathan berkecamuk dia akan memberi informasi bahwa kakanya selama ini berada di sekitarnya dan selalu memantaunya , bahkan akan memberi tahu namanya tapi melihat Nesta yang gelisah Jonathan urung, biarlah dia akan bicara pada saat yang tepat, mungkin ini bukan waktunya .


***


Damian terus mondar mandir di depan pintu oprasi itu, dia sudah tidak bisa menahan lagi sekarang. dia benar benar ingin tahu apa yang mereka lakukan pada istri kecilnya itu.


setelah 5jam lebih 3dokter keluar dengan helaan napas Lolos dari bibir ketiganya.


dokter Jack saling pandang lalu mengangguk , menghela napas lebih dulu dokter jack memberanikan dirinya untuk


bicara .


"tuan bisa kita bicara di ruangan saya .?" ujar dokter Jack


Damian menatap Jack sepertinya memang ada sesuatu yang serius . saat mereka tengah berbicara brankar Bella di dorong dengan satu kantong infus dan kantong darah juga satu kantong berwarna kuning menggantung disana .


leher Bella di pasang penyangga dan dahinya di perban juga sudut bibir Bella yang membiru membuat amarah Damian kembali akan meledak . para perawat menghentikan dorongan pada brankar itu saat melihat Damian .


Damian mengecup kening Bella, lalu mendorong brankar itu di sertai perawat .


Jack di abaikan dia hanya menghela napas .


"ikuti saja Tuan . " saran Marco lalu bergegas mengikuti sang tuan yang akan membawa Bella ke ruang VVIP yang telah mereka siapkan .


.


.


.


.


rahang Damian masih mengeras ketika mereka sampai di lantai atas itu. seorang perawat membuka pintu dan mendorong brankar Bella , lalu memindahkan Bella pada ranjang yang lebih besar di sana , Damian terus memperhatikan itu .


Jack datang di belakang , lalu menempel beberapa alat pada tubuh Bella , suara monitor dan jantung Bella terdengar . Jack menatap Damian yang masih menatap Bella intens .

__ADS_1


"tuan bisa kita bicara .?" tanya Jack pada akhirnya .


"disini saja ." balas Damian dingin tanpa mengalihkan pandangannya pada Bella , entah apa yang Damian pikirkan .


Jack menghela napas lalu memerintah perawat untuk keluar .


"tuan, nyonya sudah melewati masa kritis nya , dan alasan kami lama di ruang oprasi ada pergeseran pada organ dalam nyonya , tulang rusuknya sedikit retak akibat beberapa kali benturan dan tengkoraknya mengalami beberapa keretakan entah nyonya terbentur apa . tulang nyonya banyak mengalami pergeseran dan ----"


Jack menggantung ucapanya entah dia harus mengatakan atau tidak tapi ini, point penting mereka berada di dalam ruang oprasi itu .


"dan ." ucap Damian dingin tanpa mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari Bella yang terlihat sangat buruk dengan beberapa alat di tubuhnya .


"nyonya mengalami keguguran, usianya kami perkirakan 7mgg, dan nyonya mengalami KOMA."


deg .


tubuh damian membeku tatapannya terpaku pada Bella., dia menyingkap selimut Bella di sana di bagian perutnya ada bekas operasi yang masih terbalut perban .


"itu bukan bekas oprasi Caesar tuan, kami mengeluarkan satu peluru dari perut nyonya . " jelas Jack .


Damian semakin membeku, bagaimana bisa peluru itu bersarang di sana , sedangkan saat dirinya membawa Bella dia tidak mendapati perut Bella terluka sama sekali tidak .


kerah baju Jack Damian renggut amarahnya memuncak "darimana peluru itu , istriku tidak tertembak s'alan ." bentak Damian .


Jack mencoba tenang "tuan pelurunya Sudah saya berikan pada tangan kanan anda ." ujar Jack .


Damian melepas Jack dia menatap Bella lagi , dia duduk di kursi itu .


"pergi." ujar Damian sarat akan perintah pada Jack di sana .


Jack menghela napas lalu berjalan keluar ruangan itu .


Damian terpaku sekali lagi, dia membenarkan selimut Bella lalu mencium pipi bella .


"maaf, aku terlambat ." lirihnya.


"harusnya aku tahu, kau begitu sensitif akhir akhir ini Ara ." tambah Damian dengan suara tercekat .


Damian dalam kehancuran sekarang , arabella nya yang bar bar koma dan anak yang belum Damian temui sudah pergi lebih dulu . apa ini karma atau tuhan balas dendam pada Damian .?


tapi kenapa harus pada arabellanya. Damian benar benar hancur sekarang . Damian lebih baik menghadapi puluhan senjata dan musuh dari pada melihat dan mengetahui kenyataan yang benar Benar menampar dirinya .


hatinya sesak bagai ada ribuan belati yang menancap disana . untuk pertama kalinya Damian menangis tergugu di hadapan Bella yang tidak sadarkan diri .


amarahnya menggebu berubah jadi air mata yang tak terbendung.


di luar sana delon dan Dave yang berada di kursi roda juga Marco yang berdiri di balik pintu , terpaku dengan suara pilu seorang laki laki yang selama ini terkenal kejam dan bengis .


hari ini Damian Miller menangis di sisi tubuh istrinya yang tak sadarkan diri . apakah sahabat Damian dan Marco harus memberi hormat dan terimakasih pada Alberto kenward , yang sudah membuat monster seperti Damian hancur dan menangis pilu .


helaan napas berat lolos dari bibir Marco , matanya ikut berkaca kaca , begitupun dengan. Dave dan Delon, Dave yang paling terpukul . Dave tahu tentang peluru itu . Bella sangat berjasa bagi kelangsungan hidupnya sekarang .


"maafkan aku Damian , aku tidak menjaga istrimu dengan baik ." lirih Dave , dia disana sebagai satu satunya laki laki tapi yang berkorban malah Laura yang sekarang , belum sadarkan diri .


Delon menepuk bahu Dave "jangan menyalahkan dirimu sendiri, takdir seorang arabella tidak mudah ." ujar Delon dave menunduk dalam penyesalan sungguh kentara di wajahnya .


Marco melihat itu , persahabatan mereka memang sungguh luar biasa .

__ADS_1


__ADS_2