
"siapa kamu.?" Bella bertanya pada Damian yang memandangnya datar .
deg
Damian terpaku dengan pertanyaan itu, tapi ekpresinya tetap tenang .! kini dia mengerti mengapa Clarisa bunuh diri dan mimpi buruk itu kembali pada Bella .
tersenyum tipis lalu mengecup , punggung tangan Bella Damian berucap tenang "suami mu yang menyebalkan ."
Bella mengerenyit sorot matanya sayu, dia lelah sebenarnya entahlah rasanya setiap hari dia semakin lelah entah apa pemicunya , hari hari indah dirinya hanya sampai makan di restauran terakhir , Damian lembut dan manis hanya sampai sana, kini Damian yang di hadapannya Damian yang menyebalkan dan dingin juga sedikit tidak tahu malu .
mendengus pelan Bella memejamkan matanya lalu menghela napas dan kembali membuka mata .
"bolehkah aku istirahat disini , sendirian ." ujarnya tenang , Damian mengangguk lalu membungkuk dan mengecup kening Bella .
pergi dari ranjang itu dan keluar kamarnya , di balik pintu Damian menghela napas lagi, dan pergi ke samping menuju ruang kerjanya .
di dalam kamar Bella merenungi ucapan Clarisa , dia harus bertemu lagi dengan Clarisa perihal itu semua , Bella belum tahu Clarisa telah mati dan mayatnya di bakar bersama paviliun itu , saat dia hendak duduk kepala ya kembali berdenyut dia kembali berbaring dan memejamkan matanya sejenak , tangannya yang bebas memegang pelipis nya lalu memijatnya sebentar .
***
1hari setelah pulang dari restauran .
Damian tengah sibuk di ruang kerjanya dengan Marco, kesibukan itu berlanjut hingga malam hari saat itu Damian telah selesai dia keluar hendak ke kamarnya tapi urung melihat Bella ada di tangga dengan satu amplop coklat dan paper bag hitam di tangannya , Bella seperti orang yang tengah kebingungan dia membulak balik amplop itu dengan duduk di undakan tangga , pandangannya bingung.
Damian berniat menyapanya tapi ujung mata Damian melihat isi di dalam paperbag itu matanya membola , lalu dengan cepat merebut amplop coklat di tangan Bella , dan melihat nya matanya semakin melebar , napasnya memburu , sorot matanya tersirat kemarahan .
"Damian kembalikan , aku belum membacanya ." ucap Bella tenang , Damian menatap Bella tajam .
"dari mana kau menemukan ini .?" tanya Damian dengan dingin, Bella mengerenyit dengan aura dingin Damian tapi dia mencoba tenang .
"dari ruangan itu .!" tunjuknya ke arah sudut Damian mengikuti arah tunjuk Bella dan semakin terbakar amarah .
menarik tangan Bella, Damian menyeret Bella masuk kamar , Bella berjalan terseok di undakan tangga karna tarikan kasar Damian .
"Damian pelan , asssh sakit ." ujar Bella , Damian abai tetap menarik Bella .
brugh .
asssh,. !
Bella meringis kala Damian melemparnya ke ranjang besar itu , Damian berjalan maju .
"siapa yang memberi akses kau masuk ke sana .?" tanya Damian sarat akan kemarahan di nada suaranya .
Bella menatap Damian dengan bingung .
__ADS_1
"kenapa kau marah sekali .?" tanya Bella
"aku tanya, jawab Ara .?" tekan Damian dengan membentak .
"ya, aku pun tanya kau juga harus menjawab .!" kekeh Bella tak kalah membentak ,
Damian benar benar marah dia maju menyengkram rahang Bella , hingga Bella meringis kala rahangnya tercekik sakit .
membelai pipi Bella dengan pipi Damian , dengan gigi bergemelatuk Damian kembali bertanya. "dari siapa arabella .?"
"lepa-sh ." teriak Bella dengan terbata .
"JAWAB ARABELLA." teriak Damian , Bella membola rasanya seperti Dejavu , dia pernah mangalami ini, tak lama ingatannya di tarik pada beberapa tahun silam saat dirinya di culik , tubuhnya mulai gemetar , air matanya jatuh dengan teriakan Damian yang terus di lontarkan padanya, kuping Bella berdengung, tidak dapat lagi mendengar apa yang Damian ucapkan , bayangan beberapa tahun silam , berputar terus bagai kaset rusak .
matanya berkunang kunang , tangannya memegang kupingnya repleks , bersamaan dengan cengkraman Damian yang terlepas , bella beringsut mundur dengan tubuh gemetar .
Damian terpaku , dia menatap bella yang kini gemetar dengan wajah ketakutan juga air mata yang tak berhenti mengalir .
meraup wajahnya kasar Damian mendekat membawa Bella dalam pelukannya, Bella tidak merespon dia tetap gemetar sambil terus bergumam tidak jelas , hati Damian mencelos mendengar itu , dia meminta maaf tapi sayang Bella benar benar dalam keadaan buruk .
napas nya tersenggal, pandangannya kosong.
"jangan ku-mo-hon." racaunya terus seperti itu , Damian makin mengeratkan pelukannya . tak lama bella lemas , pingsan dalam dekapan erat Damian , menghela napas mengecup kepala Bella , membaringkannya dan menyelimutinya , menyeka bekas air mata , mengecup kedua matanya yang terpejam .
arrghh .
Damian menyesal, Damian membangunkan sisi trauma Bella , yang susah payah Bella sembuhkan .
memungut amplop dan paper bag Damian keluar di sambut Laura , Marco yang tadi sempat mendengar Bella berteriak di undakan tangga .
dengan raut datar Damian melewati mereka , bersuara sebelum benar benar hilang .
"panggil dokter Jack ." lalu benar benar hilang di belokan.
Laura dan Marco saling pandang lalu helaan napas dari keduanya lolos .
"ini tidak baik untuk nyonya dan tuan ." ujar Laura pelan dan Marco mendengar lalu mengangguk
off
***
Bella memikirkan ucapan Clarisa , lalu saat tengah malam , Bella melihat Damian tidur memeluknya , dengan hati hati Bella memindahkan tangan Damian ke sampingnya dan bringsut pelan menjauh dari ranjang , dengan hati hati Bella berjalan di sana dan keluar dari kamar.
di balik pintu bella mentralkan degup jantungnya dahulu , lalu pergi ke lorong yang akan membawanya ke kamar bekas Clarisa , Bella melihat ada pintu berwarna coklat di sana, dia yakin ini kamar bekas Clarisa karna dulu Clarisa selalu keluar dari sini.
__ADS_1
Bella memutar kenop pintu tapi di kunci , Bella mencoba mencari kunci di laci yang ada di nakas sebelah pintu itu, ada satu kunci dia mencobanya dan berhasil , membuka pintu itu lalu melihat ke dalam .
kamar biasa .
rapih .!
tidak lebih luas dari kamar nya .!
lalu mencari lukisan Monalisa yang Clarisa maksud , masuk ke dalam walk in closet dan tepat di sana di sebuah rak sepatu milik Clarisa , menekannya perlahan dan benar itu terbuka ada pintu di sana , Bella mematung di tempat menimbang terlebih dahulu lalu kembali menekan lukisan itu dan tertutup kembali , berjalan keluar kamar dan menguncinya , membawa kunci nya bersamanya , di sepanjang jalan Bella berpikir .
apa harus pergi . ?
kebebasan di sana menanti .?
tapi ucapan terakhir Clarisa sungguh mengusik sisi lain Bella, jika benar Damian mafia .? apa kedua orang tuanya tahu .?
jika benar tahu .? kenapa mereka menikahkan nya .? dan terburu buru .?
kini banyak sekali pertanyaan dalam benak Bella , Bella berpikir hingga dia tidak sadar dia telah masuk kamar dan duduk di ranjang dengan Damian yang menatapnya intens , Bella tidak sadar karna terus melamun hingga.
"dari mana .?"
suara bariton Damian mengejutkan Bella , Bella melotot kala Damian ada di sampingnya tengah menatapnya intens .
"kau, sejak kapan di sana. ?"
"dari mana .?" ulang Damian mengabaikan ucapan Bella sebelumnya .
dengan terbata dan gelagapan Bella manjawab "dari, mm dari , dari pantry ya dari pantry ." ucapnya .
damian mendekat dan Bella mundur lalu tangan Damian memegang pinggang ramping bella , membuat jantung Bella berdegup kencang .
"tidur lagi ini masih malam ." bisik Damian membawa Bella berbaring dan memeluknya erat , menenggelamkan wajahnya di leher Bella .
Bella melirik jam , ya memang masih malam , Bella lalu mencoba tidur kembali .
saat mendengar napas bella telah teratur Damian bangkit melirik Bella yang sudah pulas kembali.
melihat kepalan pada tangannya membuka nya perlahan, kunci dia membawa kunci lalu menilik , itu kunci kamar Clarisa .
membawanya dan menyimpannya , karna Damian tidak tahu kenapa Bella membawa kunci kamar Clarisa.
berjalan ke arah pintu balkon membukanya dan menghidupkan cerutu , lalu menyesapnya . dengan bertelanjang dada Damian menikmati angin malam yang berembus .
***
__ADS_1