
malam hari pun tiba , Bella yang masih memejamkan matanya sepertinya wanita muda ini enggan untuk bangun, Mungkin di sana lebih indah dan nyaman ya mungkin saja , Damian yang tetap setia menunggu di ruang rawat itu, terlihat mengerikan dengan kantung mata yang kian kentara sepertinya ketua mafia ini , pola tidurnya buruk , ya bagaimana mungkin dia akan tertidur nyenyak sedangkan istri kecilnya saja tidak mau bangun dan di luar sana , musuh yang menginginkan sesuatu dari istrinya gencar melakukan penyerangan secara diam diam dan terus terang .
helaan napas Lolos dari pria 25tahun itu, genggaman tangannya tidak pernah mengendur pada istri kecilnya yang setia dengan tidur nya.
ponselnya berdering menandakan ada yang menghubunginya. dengan malas dia menggeser tombol hijau itu dan menempelkannya pada sebelah kuping nya dengan masih menatap wajah damai istri kecilnya itu .
"....."
"hmm"
hanya itu lalu menutup panggilan itu,menyimpan kembali ponselnya dan mengecup punggung tangan istri kecilnya itu , lalu menyimpannya dengan lembut dan mengecup kening istrinya . lalu berjalan menuju pintu ruang rawat .
di sana sudah ada orang tua dan adiknya .
"masuk ." ujarnya tanpa basa basi .
***
sedangkan di negara lain, setelah mengetahui kondisi sang cucu perempuan satu-satunya pak tua itu membeku , cucunya koma, tapi dia tidak bisa menemui nya karna larangan Miller , apakah dia harus mengibarkan bendera perang pada klan Miller .
'jika barang yang di cari mereka berada di tangan anda , maka simpan itu, jangan pernah ingatkan istriku dan mencoba nya' kata itu terus terngiang di kepalanya , tadi dia menelpon Damian dan Damian mengangkatnya dia ingin bertemu , tapi ucapan Damian membuatnya membeku .
dengan pelan dia membuka tas yang pernah ia bawa dari kediaman Hernandez , haruskah ia hancurkan ini sekarang , tapi wasiat terakhir anaknya adalah memberikannya pada sang cucu yang tak lain adalah arabella.
kini ia di Landa kebingungan , kenapa menjadi rumit begini . andai saja cucunya bangun dia akan terbang ke negara cucunya berada sekarang, walau larangan Damian begitu keras , dia tidak peduli pak tua itu akan tetap menemui cucunya dan memberi tahu semuanya .
***
"kenapa kau tidak memberi tahu kami Damian .?" sentak sang ayah yang begitu kecewa pada sikap Damian kali ini .
Damian tidak menunjukan ekpresi takut atau penyesalan , dia tetap menatap sang istri yang begitu setia pada tidurnya .
"ini hari ke 10, kau baru memberi tahu kami, apa yang ada di pikiranmu itu ." lagi ayah Damian berteriak tapi tetap tidak membuat seorang damian Miller mengalihkan atensinya pada suara bentakan itu .
"jawab aku Damian Miller," geram sang ayah yang tak kunjung menerima respon dari Damian .
__ADS_1
"jika kau hanya ingin berteriak pergi ." semua orang membeku termasuk Marco yang baru saja membuka pintu dan masuk . suara Dingin milik seorang Damian Miller kembali menyeramkan , Kenapa bisa begitu ? bukankah kemarin suara dinginnya masih terasa biasa saja .
helaan napas Lolos dari bibir wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Damian .
"nak, kami khawatir pada menantu kamu, wajar bila ayahmu---"
"wajar bagi kalian tidak bagi ku." potong Damian , adik dari Damian akan membuka mulut jika saja tangan Damian tidak terangkat sebagai tanda untuk diam .
"Damian, setidaknya keluarga Hernandez harus tahu soal ini .!" ibu Damian kembali berucap .
"tidak perlu ." jawab Damian singkat .
"tapi Damian mereka keluarga be---"
"tidak ,ya tidak ." potong Damian kembali dengan suara dinginnya . mereka menghembuskan napas berat , sikap Damian kembali , bukan tidak mungkin dia akan kembali pada kekejamannya .
"Marco, siapkan mobil ." titah Damian , Marco mengangguk sebenarnya dia ingin protes untuk apa tapi tidak bisa melihat aura hitam mencekam di ruangan itu .
"Damian , Bella membutuhkan perawatan kau tidak bisa membawanya pulang begitu saja ." tegur sang ayah .
dengan masih tidak menatap lawan bicara dan dengan masih mempertahankan genggaman tangannya pada arabella Damian menjawab "dia butuh pulang ."
ibu Damian maju mengelus pundak anak sulungnya lalu rambutnya, tanpa kata apapun ibunya melakukan itu dan Damian tidak menolak .
Damian memejamkan matanya, sentuhan lembut ibunya memang menenangkan Damian tidak munafik beban di pundaknya sedikit terangkat dengan usapan lembut ibunya .
"ibu, akan tetap Disini sampai menantu ibu bangun ." bisik sang ibu Damian mengangguk dan kembali membuka matanya, lalu dia mengalihkan pandangannya pada sang ibu . "Ara akan bangun secepatnya ." ujar Damian tiba tiba , ibu Damian mengangguk dan tersenyum hangat .
"iya, dia akan cepat bangun." balas sang ibu lalu tangannya terulur untuk menangkup wajah putra sulungnya itu .
"bersihkan dirimu , berapa hari kau tidak tidur,?HM" ujar sang ibu , Damian tersenyum tipis lalu memeluk ibunya dengan satu tangan dan membenamkan kepalanya di perut sang ibuk , dengan satu tangan yang masih menggenggam tangan istrinya.
sekejam dan sedingin apapun Damian tetap membutuhkan bahu ibunya , sedewasa apapun Damian tetap dia membutuhkan kedua orang tuanya.
"Bu, aku kehilangan dia , Ara keguguran gara gara aku Bu ." adu Damian dengan isakan yang lolos , orang tua dan adiknya terpaku mendengar itu , mereka sungguh tidak tahu ini .
__ADS_1
tatapan ibu Damian tertuju pada sang suami yang menatap sendu anak sulungnya itu . dengan memberi senyuman dan anggukan , ayah dan adik Damian keluar meninggalkan mereka bertiga .
setelah keluar ibu Damian mengurai pelukan itu lalu menangkup wajah anaknya lagi yang kini berderai air mata .
"tidak apa apa menangislah , biarkan beban itu mengalir bersama air matamu nak ." ujar sang ibu yang kini sudah berkaca kaca .
Damian menangis di hadapan sang ibu dengan tangan yang masih menggenggam tangan dingin Bella .
"dengarkan ibu nak, seberapa berat masalah yang kau hadapi , ibu akan menunggu mu untuk datang , bahu ibu akan selalu kuat untuk mu nak, jangan pernah malu dan ragu untuk datang berkeluh kesal pada ibu ." air mata ibunya mengalir seraya menyeka air mata Damian .
"yang telah pergi biarkan dia pergi, hidup akan terus berjalan nak, jangan sakiti dirimu dengan seperti ini , lihat dia yang tengah berjuang bangun , jangan menutup diri seperti ini , karna hal ini akan sangat menyakiti dirimu nak ."
dengan masih menyeka air mata Damian ibunya melanjutkan "bukankah arabella adalah tumpuan hidupmu sedari dulu, kau tahu hidupnya bagaimana sedari dulu, dia wanita kuat , hebat dalam segala kesakitan, ibu yakin dia hanya ingin beristirahat sebentar , dia pasti kembali pada Damian nya , ibu yakin dia pasti kembali ."
Damian mengangguk tanganya terulur untuk menyeka air mata sang ibu yang mengalir membasahi pipi nya .
Damian memeluk ibunya "terimakasih ibu ." ucap Damian , ibunya hanya mengangguk dan mengelus rambut Damian .
"tidak ada terimakasih, untuk kasih seorang ibu pada anaknya sayang ."
ibu Damian menatap Bella yang berbaring dengan air mata yang mengalir .
'tolong bangun nak, tolong jangan menyiksa putraku dengan sakitnya kerinduan dan ketakutan , anakku hancur nak melihat mu seperti ini, jangan biarkan anakku menjadi monster lagi nak .' jerit ibu Damian dalam hati .
.
.
.
.
"saya sudah menyiapkan segalanya di mansion tuan ." ujar Marco , dia baru kembali setelah menyiapkan mobil untuk mengangkut Bella dan Damian pulang .
"nyonya pun sudah masuk di dalam mobil bersama dokter Jack dan 2perawat pilihan ibu anda ." Damian mengangguk dia berjalan menuju mobil yang di dalamnya ada Bella .
__ADS_1
tadi setelah berbicara bersama ibunya Damian membersihkan diri dan makan di taman di temani adiknya , yang baru saja pergi untuk menemui temannya .
mereka kini perjalanan kembali ke mansion, dengan keputusan Damian , Bella akhirnya akan di rawat di mansion dengan segala alat rumah sakit yang telah Damian pindahkan ke mansion ya .