
Nesta dan Jonathan kini berhadap hadapan di satu meja bundar , helaan napas beberapa kali lolos dari bibir Nesta dan itu membuat Jonathan mengerenyit .
dengan meminum just jeruknya lalu menyimpan dengan tenang Nesta memulai perbincangan .
"saya tidak hamil." to the point Nesta. sebelum jonathan menjawab Nesta kemudian menambahkan dengan tenang
"tadinya saya ingin membicarakan ini di apart saya atau di negara itu, tapi anda menyeret saya kemari tanpa mendengar ucapan saya lebih dulu ." .
hening .
Jonathan menatap Nesta lekat tidak ada kebohongan di mata nya, tapi ada banyak luka yang menyiratkan .
Nesta membuang pandangannya enggan menatap jonathan .
dengan menghela napas Jonathan mengeluarkan amplop coklat dan menggesernya secara perlahan .
"maaf," ujarnya penuh penyesalan.
"jangan merasa terhina , ini salah saya, di sini ada black card dan sejumlah uang, saya sudah merusak kamu dan untuk kelangsungan hidup kamu kedepannya .." dengan menggantung ucapannya , jonathan menahan napas dan menelisik ekpresi Nesta yang masih tenang .
"oprasi selaput dara lah, ." hati Nesta mencelos mendengar itu , apa dia bilang ? nesta mencoba mengendalikan dirinya dia tidak ingin berurusan lebih dengan orang ini , dia tersenyum lalu bangkit dan menepuk celananya .
"terimakasih , tapi saya tidak butuh , dan saya undur diri ." ucapnya dengan senyum getir yang kentara sekali , jonathan terpaku melihat senyum itu .
"Nesta ." seru jonathan membuat langkah Nesta berhenti, jonathan berjalan ke arah Nesta dia menepuk pundak Nesta , itu membuat Nesta sesak entahlah.
"aku akan membantu mu mencari kakamu ."
deg .
Mata Nesta memanas ada sedikit nyeri di ulu atinya , dia tersenyum tanpa memutar poros tubuhnya berkata .
"jangan campuri urusan saya ,tuan lebih baik jika kita tidak pernah terlibat dan bertemu lagi ." ujarnya lalu
dengan mata semakin berkabut Nesta menambahkan "dan akan lebih baik lagi, jika kita bertemu kembali anggaplah kita orang asing yang tak pernah salih tahu, dan berhenti mencari tahu tentang saya ." suara nya bergetar dan itu sampai di telinga jonathan, jonathan terpaku dengan ucapan Nesta , dia melihat punggung Nesta yang semakin menjauh dari hadapannya lalu menghembuskan napas berat .
"maaf, Nesta ." lirihnya
***
bulir keringat membasahi pelipis nya, matanya bergerak walau terpejam , tubuhnya bergetar hebat , entah apa yang ia rasakan. .
"tidak , jangan ." ucapnya berteriak mengusik seseorang yang tengah memeluknya
"jangan ku mo-mohon." pekik ya lagi, keringat mulai membanjiri dirinya , orang yang memeluknya mengeratkan pelukannya dan menenangkan . "ssst, i'm here ." ucap nya
tubuh wanita itu merespon dan kembali tenang , napas nya mulai teratur dan matanya kembali terpejam . orang yang memeluknya tanpa jijik menyeka keringatnya dan mengecup keningnya berkali kali. "maaf, Ara ." ujarnya .
ya dia arabella , sudah lama arabella tidak bermimpi buruk lagi, tapi kali ini ia memimpikan itu lagi dan Damian tahu perihal ini .
__ADS_1
Damian mengurai pelukannya dan menatap wajah lelah arabella. sejak pulang makan di restauran Bella menjadi murung , dia enggan bicara banyak dan bertanya , pernah terjadi pertengkaran antara dirinya dan Bella sore itu.
semenjak pertengkaran itu, kepala Bella sering sakit dan mimpi buruk itu kembali entahlah , Bella bahkan tidak mengerti dengan dirinya sendiri .
Damian keluar dari kamar mandi , melihat ranjang istri nya masih tidur dengan nyenyak , tak berniat membangunkan setelah selesai berpakaian Damian keluar , untuk sarapan .
di meja makan formasi sudah lengkap , hanya menunggu Bella dan Damian , mereka mengernyitkan dahi kala hanya Damian yang turun .
"dam, dimana istrimu. ?" itu Dave ya 2sahabat Damian masih berada di sini .
tidak menanggapi Damian duduk dengan tenang , lalu melirik Laura yang duduk di sebelah Marco .
"setelah selesai, bawa sarapannya ke atas, dan jangan ganggu dia ." mereka meneguk ludah mereka secara kasar , Damian yang tak berperasaan kembali .
ada apa ini,? bukannya selama beberapa bulan ini Damian sedikit manusiawi .
Laura mengangguk "saya mengerti ,tuan ." mereka makan dengan tenang , saat ketenangan dan keheningan menyelimuti , pelayan wanita tergopoh gopoh berlari ke meja makan . mereka mengerenyit .
"katakan ." Damian kembali pada mode dimana dia memang kejam
"nona Clarisa sudah sadar tuan, dia ingin bertemu dengan nyonya ." dengan gemetar pelayan itu berucap .
"hmm, siang ." singkat dan ambigu itu Damian dulu . dan pelayan itu mengerti dia mengangguk lalu membungkuk dan pergi
mereka yang makan di sana, bingung bukannya akan sangat berbahaya jika Clarisa bertemu arabella.
berdiri dan menatap Laura yang kini ikut berdiri "jaga dia dari kejauhan. " lalu pergi diikuti Marco dan Dave juga Delon . Laura mengangguk lalu menghela napas.
'nyonya, kumohon jangan membuat kami tercekik setiap hari' teriak Laura dalam hati seraya melihat punggung 4laki laki itu menghilang di belokan .
"siapkan sarapan nyonya. " ujar Laura pada kepala pelayan yang datang bersama beberapa pelayan untuk membereskan meja makan .
"baik, nona ."
***
di bawah guyuran shower Bella melamun sudah 3hari Damian berubah , Damian kembali menjadi Damian yang pada awal Bella bertemu sangat menyebalkan dan tidak tahu malu . mematikan Ari shower memakai handuk dan keluar , memasuki walk in closet dan memakai baju lalu mengeringkan rambut.
keluar dari kamar di sambut Laura dan satu troli berisi makanan .
"nyonya sarapan Anda ." ujar Laura .
Bella mengangguk dan mengambil troli itu untuk di dorong tapi sebelum itu Laura kembali berujar "Clarisa ingin bertemu , tuan mengatur siang ini nyonya ."
Bella berpikir sejenak lalu menghembuskan napas , dan kembali mengangguk tanpa sepatah kata pun , lalu kembali masuk ke dalam kamar .
menyimpan troli tidak mengambil makanannya dia berjalan ke arah pintu balkon dan membukanya , melihat tembok gerbang yang makin hari makin tinggi Saja dia menghela napas lelah .
"Damian , aku tidak peduli siapapun kau, tapi kenapa kau membelengguku begini. !" lirihnya Bella duduk , rasanya dia ingin menangis jika teringat ucapan Damian waktu mereka bertengkar tapi rasanya , untuk apa juga menangis itu akan sia sia .
__ADS_1
siang pun datang , Bella di antar Laura untuk mendatangi clarisa di paviliun . saat masuk Bella melihat Clarisa tengah terbaring di ranjang dengan infus menghiasi sebelah tanganya .
dengan malas Bella duduk di sofa yang agak jauh dari Clarisa .
"ada apa .?" to the point Bella saat telah duduk , Clarisa tersenyum , wajahnya pucat oh iya, Clarisa mengalami infeksi pada *********** karna terlalu sering di pakai dan beramai ramai dia sakit , Bella sebenarnya tidak tahu tapi dia bodo amat mau Clarisa sakit atau tidak pun .
"arabella , maafkan aku ." ucapnya pelan , tapi karna di dalam paviliun itu hanya ada dirinya dan Bella , Bella dapat mendengar nya .
"huum" balas Bella , clarisa kembali tersenyum melihat Bella tetap menjadi Bella yang bodo amat .
"arabella, aku hanya ingin memberi tahu mu satu hal ." ujar Clarisa dan itu membuat antensi Bella sepenuhnya pada Clarisa dengan mengangkat sebelah alisnya Bella memperhatikan Clarisa .
"tolong setelah ini, akhiri hidupku ." ujarnya lagi Bella mendengus malas lalu berkata dengan Santai . "akan ku usahakan ." dengan senyum tak luntur dari kedua sudut bibirnya Clarisa berkata .
"jika bisa pergilah arabella , keluarga mu mencarimu, bukan Hernandez , arabella masuklah kekamar ku di sana ada satu lukisan Monalisa , tekan itu dan masuk kedalam , itu adalah satu satunya jalan keluar dari tempat ini ." Bella mengernyit dengan ucapan Clarisa dia menatap Clarisa tanpa bertanya . Clarisa paham dia lalu kembali berkata .
"obsesi Damian mengerikan Bella, Damian bukan orang sembarang dia seorang mafia ."
deg
Bella terbelalak dengan ucapan Clarisa yang terakhir . "maksud mu." tanya Bella
"arabella aku mohon maaf padamu, tapi carilah keluargamu yang sesungguhnya , pergi dari hidup Damian ." ucap Clarisa lagi
wajah Bella pucat , mimpinya beberapa hari ini kembali teringat itu membuat kepalanya berdenyut, dia memegang kepalanya , Clarisa melihat itu lalu dia bicara lagi .
"percaya pada ucapanku arabella ." lalu brugh Bella pingsan di sofa itu, Clarisa menatap miris Bella , dia benar benar menyesal , mungkin setelah ini dia tidak akan melihat matahari lagi, tapi dia lega karna dia sudah memberi tahu arabella , percaya atau tidak itu tergantung Bella nantinya .
'semoga kau bahagia Bella, maafkan aku .' batin Clarisa . Clarisa menyuntikan obat pada pergelangan tangannya , tak lama mulutnya berbusa dan kejang , beberapa orang masuk ke dalam di sertai Laura , karna mendengar suara ribut di dalam , dan mereka terbelalak melihat clarisa yang terbujur dengan Busa di mulutnya juga nyonya mudanya yang terbaring pucat di sofa panjang
***
Bella belum sadarkan diri setelah di periksa , Jack berkata mungkin Clarisa menyinggung sesuatu dari mimpinya dan itu membuat alam bawah sadarnya terusik , Damian mengangguk saja , menatap Bella yang terpasang infus Damian menghela napas membelai pipi Bella . "jangan mempersulit dirimu , sayang ." gumam Damian .
pintu di ketuk membuat Damian beranjak dan membuka pintu di sana Marco sudah berdiri dan membungkuk .
"katakan .?" ujar Damian
"nona Clarisa, bunuh diri tuan , dugaan kami setelah berbicara dengan nyonya dia menyuntikan racun pada urat nadi tangannya ." jelas Marco singkat karna Damian tidak suka bertele tele .
"bakar paviliun beserta mayat wanita itu ." tanpa menunggu jawaban Marco, Damian kembali ke kamar .
Marco menghela napas, sepertinya pekerjaan extrim ini akan kembali pada orang orang Damian , melihat sikap tuannya yang sudah kembali pada mode kejam dan senggol bacok.
Bella menggeliat dia membuka matanya dan saat terlihat ada Damian di sana yang memasang wajah datar , mengecup tangan Bella . bersuara dingin "ada yang sakit ." tidak ada kelembutan yang beberapa bulan ini Damian tunjukan pada Bella . Bella mengangkat tanganya menyentuh pipi Damian yang di penuhi jambang tapi terurus.
"siapa kamu .?"
deg
__ADS_1