
Manuel yang hendak memarahi Bella setelah terlepas dari amukan Wanita itu , urung saat mendengar Bella jatuh pingsan karna kelelahan .
ck, semenjak bangun dari koma Bella menjadi sedikit lemah, tubuhnya gampang kelelahan.
Manuel belum mau pulang sebelum mendengar kata maaf dan kompensasi dari Damian atas kematian Clarisa putri satusatunya . !
apa Damian bilang, Clarisa hanya alat untuk kelangsungan hidup Manuel dan kekayaannya .
dengan malas Damian memberikan map biru berisi sertifikat tanah dan hotel di negara yang Manuel tempati berpindah nama menjadi nama Manuel .!
padahal Damian sudah tahu ini akan terjadi tapi dirinya masih saja menggelengkan kepalanya kesal.
"baiklah Damian, aku rasa urusan kita telah selesai, ah aku berharap tidak berjumpa lagi dengan istrimu, dia barbar sekali walaupun menggemaskan ." Damian menatap tajam Manuel lalu mengibaskan tangannya untuk segera pergi .
setelah kepergian Manuel, Damian memijit pelipisnya yang berdenyut urusannya dengan Manuel selesai tapi dengan Bella belum, setelah bangun nanti Bella pasti akan mereog kembali gara gara vas bunga biru itu .
.
.
.
"benarkah, aku sudah boleh kembali. ?" tanya Laura hati-hati pada Delon .
tersenyum manis, Delon membelai wajah Laura . "senang, HM?" gurau Delon, membuat Laura terkekeh .
"kalo begitu ayok." semangat Laura , Delon menggelengkan kepalanya cepat .
"kita kesana nanti malam ." putus Delon, Laura mengangguk dan memeluk Delon spontan .
.
.
.
__ADS_1
.
"morning Damian ." ujar Bella lalu mengecup pipi Damian , membuat Damian menaikan sebelah alisnya .
tumben sekali wanitanya ini manis, dengan senyum mengembang di wajahnya Bella duduk di sebelah Damian yang tengah melihat ipadnya .
bergelayut manja pada tangan Damian, sungguh ini bukan arabella nya . Damian meletakan ipadnya dan mengecup kepala Bella perlahan lalu mengelus paha Bella yang terekspos karna Bella hanya mengenakan hotpants dan kaos overseze milik Damian berwarna hitam yang kontras sekali dengan kulit Bella yang putih .
"Damian ih ." rengek Bella karna Damian berulang kali mengelus pahanya dan membuatnya sedikit geli .
melepas pelukan pada tangan Damian, Bella memeluk kedua kakinya dan memasukannya ke dalam baju membuat Damian terkekeh geli . sungguh gadis yang sudah tidak gadis lagi ini memang sangat muda dan kekanakan dalam segala hal . contohnya berpakaian .
"ara, i love you ." bisik Damian lalu menjauhkan wajahnya membuat Bella memalingkan wajahnya , ck hanya dengan begitu pipi nya memerah .
"Damian ." rengek Bella , Damian terkekeh lalu memangku Bella agar duduk di pangkuannya yang spontan membuat Bella mengalungkan lengannya pada leher Damian .
menghujami Bella dengan kecupan kecupan basah di lehernya Damian mengunci manik Bella membuat Bella tertegun dan menatap mata tajam itu .
Damian menyatukan kening mereka hingga hidung mancung mereka bergesekan satu sama lain .
"love you to Damian ." balas Bella membuat jantung Damian berdetak kencang , pernyataannya di balas oleh Bella .
"one more, please." ucap Damian lirih .
Bella tersenyum lalu menempelkan bibir nya pada bibir Damian sekejap lalu mengecup pipi Damian . dan menyatukan keningnya kembali . "love you Damian Miller, "
jantung Damian semakin berdetak kencang dia mencium bibir Bella lalu ********** secara lembut menyalurkan perasaan senang di hatinya, akhirnya cintanya terbalas .
Damian menyudahi ciuman itu lalu memberi kecupan basah di seluruh wajah Bella .
"mine." seraya terus mengucapkan itu .
***
"temui dia , ini saatnya ." suara tegas bernada perintah memasuki kuping Laura .
__ADS_1
"ta-pi tuan , ba---"
sentuhan di bahu Laura membuat ucapannya terpotong, Delon memberikan senyum manisnya membuat kegugupan Laura yang baru bertemu dengan Damian kembali sedikit hilang .
"waktunya sudah Marco atur ." ucap Damian lagi .
"selesaikan semuanya , setelah itu menikahlah dengan Delon ." putus Damian lalu pergi meninggalkan sepasang insan itu di ruang kerja Damian.
Laura menatap Delon dengan berkaca kaca , membuat Delon membawa Laura kedekapannya .
"aku akan menemani mu ." ujar Delon . di balas gelengan oleh Laura .
"why ?" tanya Delon, Laura membawa Delon untuk duduk di sofa dan menggenggam tangan Delon erat meminta ketenangan dan kekuatan .
"dia adikku, aku akan bicara dari hati ke hati dan kau harus percaya padaku ." ujar Laura yakin .
ya itu benar , jika Delon ada di sana Laura bukan tidak mungkin bisa meluapkan perasaanya pada sang adik yang telah lama menghilang itu .
Delon tersenyum lalu mengelus bahu Laura, sejujurnya ada rasa tidak rela jika harus melihat Laura berinteraksi dengan orang baru, ya walau itu adalah adiknya sendiri tapi rasanya , Delon tidak bisa .. entahlah .
"apapun yang kau mau, aku akan mendukung mu." berbanding terbalik dengan hatinya kalimat itu yang terucap dari bibir Delon , membuat senyum Laura mengembang .
"terimakasih sayang ." ucap Laura lalu naik ke pangkuan Delon dan memeluknya erat .
Delon tersenyum lalu membalas pelukan Laura erat .
"astaga , maafkan aku ku kira ada Damian di sini ." pekikan Dave membuat laura ingin melepas pelukannya tapi Delon menahannya.
menatap malas Dave Delon bertanya dengan gerakan mulutnya .
menggaruk tengkuknya yang tak gatal Dave tersenyum lalu berdehem pelan .
"Bella menunggu Laura di ruang lukisnya ." spontan Laura melompat dari pangkuan delon membuat Dave terkejut dan Delon menghela napas .
"aku kesana ." ujar Laura seraya berlari .
__ADS_1
Dave tersenyum kikuk pada Delon lalu berjalan mundur . "em, aku akan menyusulnya ." ucapnya setelah mendapat tatapan tajam Dari Delon .