belenggu mafia kejam.

belenggu mafia kejam.
bab-6. kau gadis yang membakar club'


__ADS_3

1bulan berlalu setelah kejadian itu, Bella menjadi sosok yang pendiam bahkan dia tidak mau meninggalkan kamarnya barang sedetik pun, dia akan mengusir orang orang yang berusaha memintanya untuk keluar , bahkan Damian pun tidak dapat membujuknya .


keras kepala .!


itu lah Bella saat ini, Laura dan perawat hanya bisa menghela napas pasrah, saat Bella akan menulikan telinganya . seperti saat ini , dokter datang untuk melihat progres Bella dan mengajukan beberapa pertanyaan pada bella tapi Bella hanya mengangguk tanda itu benar dan menggeleng tanda itu tidak . semua orang frustasi dengan kebungkaman nyonya muda mereka.


Damian datang ke kamar itu , membuat mereka menghela napas lega, Damian mengisyaratkan pada mereka untuk keluar biar Damian yang mengurus Bella kali ini .


semua orang segera pergi dan menutup pintu itu , Damian menyibak selimut Bella, dan membawa Bella ke dalam gendongannya , bagaimana dengan Bella ? dia hanya diam tidak bereaksi atau berontak . Damian membawa Bella ke balkon karna ini masih pagi dia mendudukan Bella di sofa yang sudah ia ubah posisinya jadi menghadap pintu balkon , agar sinar matahari menyengat tubuh Bella . Damian duduk di sofa single dan menghadap Bella yang masih bungkam .


sampai beberapa saat hanya keheningan yang ada , baik Bella maupun Damian mereka diam , Damian hanya sesekali membenarkan rambut Bella .. Sampai terdengar helaan napas Lolos dari bibir Bella .


"kenapa .?" tanya Bella memecah keheningan . Damian menatap Bella lekat ..


Bella tertawa kecil matanya berkaca kaca . "kenapa kau menerima gadis yang sudah di buang ini dengan suka rela, dan kenapa kau repot repot mengurusinya .! kenapa .?" tanya Bella dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"kenapa kau mau saja dengan gadis yang telah berkali kali hidup hancur,." air mata Bella luruh juga sekuat tenaga Bella menahan akhirnya tumpah juga, satu bulan ini Bella merenungi semuanya , di benaknya yang berkecamuk ada pertanyaan itu kenapa Damian dengan sukarela menerimanya , jika orang tuanya menyerahkannya dengan suka rela Bella mengerti ..


sesak !


sakit ..!


itu yang Bella rasakan saat ini, sesak karna teringat akan semua kekecewaan pada orangtuanya , sakit karna dia tidak paham dengan semua yang menimpanya . Bella terisak pilu di hadapan Damian , Bella juga tidak mengerti mengapa dia jadi secengeng ini dia adalah gadis cuek, sudah biasa rasanya dia seperti ini. tapi kenapa sekarang dirinya menjadi cengeng , apa mungkin karena pernikahan ini ? atau karna belenggu Damian .!..


"karna kau gadis yang mengalahkan ku di sirkuit 3tahun lalu ." jawab Damian datar membuat Bella mengangkat wajahnya , mata mereka saling menatap Bella menatap Damian karna terkejut .


"a-aku ." beo Bella sambil menunjuk dirinya sendiri .


Damian mengangguk mantap lalu kembali berbicara. "saat itu aku mengira , yang mengalahkan ku adalah laki-laki , tapi saat namamu di sebutkan aku tahu itu perempuan, awalnya aku tidak merasa harus malu karna seorang perempuan berumur 15tahun mengalahkanku di sirkuit, tapi saat gadis itu membuka helm full face nya , aku tersihir oleh senyum yang memiliki lesung Pipit itu yang tidak tulus."


Bella membekap mulutnya sendiri , maksudnya apa ini, Bella memang sering melakukan balapan di sirkuit bahkan saat umurnya masih belum legal , dia memanipulasi semuanya agar dirinya bisa terjun ke dunia malam.

__ADS_1


"bukan hanya itu , karna kau gadis yang membakar club' milik keluarga Miller di negara B diumur ,16tahun " Bella semakin terperangah dengan jawaban Damian.


"jadi kenapa kau sekarang sering menangis , kau bahkan tidak menangis saat kau berkelahi ." Damian menaikan sebelah alisnya , Bella masih terkejut dengan semua yang Damian katakan .


"bagaimana kau tahu .?"


"aku lebih dulu terjun kedunia malam jika kau lupa, aku tidak seberani dirimu dulu , makanya aku terpesona, dan saat orangtuamu ingin aku menikahimu , aku menerima nya dengan senang hati ." ucap Damian dengan seringai


"ja-jadi kau akan balas dendam padaku .?"


Damian tertawa mendengar pikiran Bella , kenapa sempit sekali pikiran gadis kecil ini, Damian menggeleng pelan membenarkan rambut Bella yang kembali menjuntai ke depan.


"sekarang kau tahu kenapa aku menerimamu, kau menerima atau tidak pernikahan ini sudah terjadi , mulai sekarang bersikap lah baik, jangan berniat kabur lagi." Bella masih terkejut dengan semua yang ia dengar hari ini, entah dorongan dari mana dia mengangguk .


***


setelah perbincangan antara dirinya dan Damian Bella, mau keluar kamar tapi masih enggan banyak bicara pada orang lain , seperti saat ini mereka tengah makan malam bersama , dengan formasi yang sama seperti biasa hanya saja yang berbeda adalah , wanita yang bernama Clarisa lebih banyak diam , bila di bandingkan dengan pertama kali Bella ke sini , entahlah itu hanya perasaan Bella atau memang benar begitu Adanya .


Marco dan Laura saling tukar pandangan pada sang tuan dan nyonya Dimana nyonya mudanya hanya fokus pada makanan di hadapannya , sedangkan sang tuan tatapan nya tak putus dari pada sang nyonya , mereka mengulum senyum , karna pada akhirnya memang hanya arabella Hernandez yang bisa meluluhkan hati sekeras Damian , ya walau pun memang masih jauh dari kata pasutri sesungguhnya tapi setidaknya , mereka tidak lagi mementingkan egonya .


Clarisa yang merasa di abaikan hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, tatapannya jatuh pada Bella yang di tatap oleh damian sedalam itu .


"aku selesai ." ujar Bella mengintrupsi , berniat mendorong kursi rodanya untuk pergi dari sana tapi suara seseorang menghentikan niatnya itu .


"tunggu, kami belum selesai ." itu suara Clarisa , mereka menoleh ke arah Clarisa dan menatap Clarisa dengan pandangan malas , ck wanita ini ! apa tidak kapok hukuman kemarin .? dasar ..


Bella menghela napas lalu mengangguk patuh, Bella sedang malas adu jotos dengan siapapun itu .


Clarisa berdiri dan menghampiri Bella yang tengah duduk menatap ke bawah.


"arabella ." ucap Clarisa , Bella spontan mendongak menatap Clarisa yang kini berdiri di sampingnya , lalu kursi roda Bella di tarik untuk berhadapan dengan clarisa yang berdiri di hadapannya . Bella hanya menatap heran.

__ADS_1


"ada apa .?" tanya Bella , Laura,Marco dan Damian sudah menatap Clarisa dengan mata memicing , dan bersiaga kalau - kalau Clarisa menyakiti Bella lagi, bukan mereka bukan meremehkan kemampuan Bella , hanya saja Bella sedang duduk di kursi roda dan dalam keadaan tidak baik , saat Bella bertanya dengan menatap Clarisa dengan wajah heran . dan .


brukkk


kedua lutut Clarisa tertekuk sedetik kemudian dia bersujud di hadapan arabella , membuat Bella membulatkan matanya terkejut , Laura dan Marco yang paling cepat bereaksi mereka , menghela napas lalu menatap Clarisa dan Bella , ingin melihat apa reaksi Bella sebenarnya, sedangkan Damian setelah melihat Clarisa bersujud dia melanjutkan santap malamnya tanpa beban .


menyebalkan .! , iya itu Damian di mata arabella Hernandez


setelah bersujud tanpa suara, Clarisa mengangkat wajahnya dan menyatukan kedua tangannya memohon pada Bella.


"aku minta maaf padamu arabella ." ujar Clarisa , Bella mengerenyit tidak paham .


"maaf untuk apa .?" tanya Bella .


Clarisa menoleh spontan pada Bella , apa dia bertanya padanya , berarti arabella tidak tahu bahwa yang menembaknya dirinya .! dia melirik Damian yang acuh tak acuh menyantap makanannya , lalu melirik Marco dan Laura yang menggelengkan kepala Saja.


"untuk apa .?" Bella kembali bertanya , Clarisa menoleh ke arah Bella lagi .


"un-untuk pe----"


"untuk sikapnya yang tidak baik selama nyonya berada di sini ." potong Laura , yang sudah di beri kode oleh Damian , Damian tahu jika Bella mengetahui siapa yang menembaknya bukan tidak mungkin Bella akan mengamuk , dan membakar seluruh penjuru mansion , maybe .


Clarisa membeku dengan ucapan Laura dia menunduk , terdengar suara helaan napas dari arabella .


"jika hanya karna itu, tidak apa apa .! karna kita pun tidak dekat dan saling mengenal ." ucap Bella membuat mereka menganga , bahkan Damian berhenti mengunyah dan menoleh ke arah Bella .


"ck, jangan lebay , bangunlah, aku permisi ." tambah Bella , Laura dan Marco rasanya ingin meledakan tawa mereka , jika saja sang tuan tidak berada di sini .


"Laura bisa kau bantu aku ." tanya Bella , Laura mengangguk dan mendorong kursi roda Bella menjauh dari ruang makan .


Clarisa merasa malu dengan jawaban Bella, ck harusnya dia tidak merendahkan diri seperti itu niatnya ingin terlihat baik di hadapan Damian tapi malah gagal total, arabella memang tidak punya hati .

__ADS_1


__ADS_2