
setelah mendengar penjelasan Hernandez dan membawa pulang kotak bludru itu, tuan tua mengurung diri di kamarnya, sudah 2hari setelah itu , dia benar benar mengisolasi diri sendiri di kamar nya, anaknya bahkan sampai frustasi rasa ingin menyerang kediaman Hernandez menggebu tapi satu kalimat yang membuat mereka urung dari mulut tuan tua sendiri "lindungi Hernandez." kalimat itu yang membuat mereka gereget, sebenarnya ada apa ini .? sebelum berangkat tuan tua amat semangat dan setelah dari sana , amat murung ada apa .? semua anak anaknya bingung .
"jangan biarkan putriku menjadi penerus klan, nikahkan dia dengan keluarga Miller ."
"hanya mereka yang akan menyelamatakan putriku ."
kalimat itu terus terngiang di kepala tuan tua, dia shock benar benar shock , kemana saja dirinya selama ini hingga menutup mata atas penderitaan dan kebenaran anak dan menantunya , sungguh rasa bersalah menggerayangi hati dan pikirannya saat ini ,
egois .!
kekuasaan .!
itu yang selalu dia pikirkan selama ini, apa yang harus dia lakukan sekarang .? egonya ingin mengambil cucunya dan hatinya amat bersalah , dengan mengurung diri dia rasa akan mengurangi semuanya tapi , tidak dia malah semakin teringat semuanya .
mengambil satu lembar foto usang berjumlah 3orang tuan tua menatap sendu dan jemarinya mengelus gambar itu .
"maafkan ayah nak ." kata itu terus terucap kala dia melihat foto itu . sungguh penyesalan dan rasa bersalah menghantam dadanya saat ini .
***
Damian dan Marco telah pergi selama 2hari untuk urusan pekerjaan yang Bella tidak tahu itu apa , Bella sangat bosan , ada sedikit kerinduan terhadap Damian , sudah 2malam dia tidur tanpa pelukan hangat pria menyebalkan itu , kini Bella tengah bermalas malasan di ruang baca , tidak membaca dia hanya rebahan di sofa panjang dan Laura senantiasa menjadi teman terbaiknya .
"Laura , kapan mereka kembali .?" tanya Bella lesu , Laura tersenyum tipis pertanyaan ini yang Laura tunggu .
"mungkin sekitar 3hari lagi nyonya ." ujar Laura
Bella berdecak kesal ."kenapa lama sekali .!" keluhnya , Laura tersenyum mendengar keluhan sang nyonya .
"apa nyonya merindukan tuan .?"
"hum." jawab Bella tanpa sadar "sedikit." tambahnya di ujung kalimat dengan tetap lesu .
Laura benar benar senang dengan jawaban itu dia bergegas memberi pesan pada tuannya bahwa nyonya nya merindukan nya tak lupa dia memotret posisi sang nyonya yang tengah lesu , seperti kehilangan gairah hidup .
"apa anda ingin menghubunginya nyonya .?" tawar Laura , Bella menggeleng lesu .
dan tak lama dari itu Damian menelpon pada ponsel Laura , Laura dengan sigap mengangkatnya .
"iya tuan .?"
"...."
dengan menjauhkan handphone nya Laura berbicara pada Bella bahwa Damian ingin bicara , Bella dengan malas mengambil handphone itu .
"hmmm."
__ADS_1
"apa kau baik baik saja .?" tanya Damian dari sebrang
"ya aku baik, ada apa .?" Bella masih gengsi mengungkap dirinya rindu tapi ada riak di hatinya kala mendengar suara damian .
"tidak, aku hanya merindukan mu .!" goda Damian , terdengar suara decakan dari Bella di sana Damian tersenyum lebar
"aku tidak merindukan mu." ungkap Bella tapi terdengar seperti merajuk
"apa kau tengah merajuk HM? karna aku tak pamit padamu .?" goda Damian lagi
"siapa yang merajuk, mau kau tidak pulang lagi pun aku tidak apa apa .?" suara Bella mulai sewot Damian tau istri kecilnya itu tengah merajuk .
"hmm, baiklah mungkin aku yang terlalu percaya diri ."
"iya , kau terlalu percaya diri.!" balas Bella sengit .
"hhm , baiklah jaga dirimu baik baik, aku akan menyelesaikan pekerjaan di sini dengan cepat, " ujar Damian serius
"ck, iya iya ." Bella masih sewot pada Damian .
"baiklah aku tutup telponnya Ara , aku benar benar merindukan mu ." ucap Damian lalu menutup telponnya , Bella mengerucutkan bibirnya lalu menyimpan handphone nya di nakas .
"aku juga merindukanmu ." lirih Bella tanpa sadar , Laura makin melebar kan senyumnya melihat itu . ck, jiwa muda jika jatuh cinta memang menyiksa .
***
"kita perlu bicara .!" ujar Jonathan gadis itu menghela napas lalu mengangguk membuka pintu mempersilahkan jonathan masuk dan kembali menutupnya .
mereka duduk di sofa yang berhadapan suasana hening menyelimuti mereka , gadis itu membuang muka , pandangannya tidak terarah pada jonathan yang di hadapannya , jonathan sendiri menatap gadis itu , ada rasa bersalah pada dirinya .
setelah 30menit berlalu Jonathan memecah keheningan dengan bertanya .
"siapa namamu .?" gadis itu tetap diam , dia masih enggan menatap Jonathan pria bren''ek yang menghancurkan dirinya .
Jonathan menghela napas "maaf, aku benar benar minta maaf untuk malam itu, aku dan kau sudah sangat terpengaruh alkohol ." jelas Jonathan .
bulir bening jatuh di pipi gadis itu dia segera mengusapnya . "tidak perlu minta maaf, aku yang salah ." ujar gadis itu
Jonathan menggeleng cepat , "ini salahku, jika saja aku tidak membawamu ke apart ku , mung---"
"sudahlah tuan, mari lupakan ini , kita tidak saling mengenal , mungkin takdir ku harus seperti ini ." potong gadis itu . Jonathan menatap dalam gadis itu ada rasa sakit di matanya dan ada sebersit ketakutan di sana .
"tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskan mu ." ujar Jonathan .
gadis itu menghela napas dalam ."aku tidak akan meminta pertanggung jawaban mu tuan jika itu yang anda takutkan ." jelas gadis itu .
__ADS_1
"tidak aku tetap akan bertanggung jawab jika benihku sampai tumbuh di rahimmu ." tekad Jonathan .
"itu tidak perlu tuan, say-----"
"aku bilang akan ." bentak jonathan gadis itu memejamkan matanya dengan bentakan itu dia menunduk "maaf ." lirihnya tubuhnya gemetar ketakutan , Jonathan menyadari itu dia mengusap wajahnya frustasi lalu beralih ke sofa yang wanita itu duduki dan membawa gadis itu ke pelukannya "maaf, aku terlalu kasar ." ujar nya
gadis itu tidak membalas pelukan jonathan dia beringsut melepaskan pelukan itu , "aku tidak apa apa ." ujarnya seraya menyeka air matanya , tubunya masih bergetar hanya saja tidak sehebat tadi , jonathan menatap iba gadis di sampingnya .
gadis itu menghela napas berat, lalu memberanikan diri menatap jonathan .
"aku setuju, tapi sekarang kau boleh pergi, jika memang aku hamil, aku akan menghubungimu ." gadis itu mengumpulkan keberaniannya saat mengatakan itu .
Jonathan mengangguk seraya meraih dompetnya dan menyimpan kartu namanya di atas meja di hadapannya , dia tau gadis ini tengah ketakutan sekarang , karna bentakan Jonathan tadi . tanpa kata Jonathan berdiri dan beranjak dari sana , tapi langkah jonathan terhenti kala gadis itu berucap .
"Nesta ." Jonathan memutar poros tubuhnya melihat gadis tadi yang kini tengah menunduk dan memilin jarinya. "apa .?" tanya Jonathan dengan suara rendah .
dengan masih menunduk gadis itu kembali berucap "namaku Nesta ." Jonathan mengangguk walau tidak terlihat oleh gadis yang mengaku namanya Nesta .
"aku Jonathan , aku permisi , cepat hubungi aku jika terjadi sesuatu ." ujarnya lalu benar benar pergi dari apart gadis itu .
***
arabella meringkuk di atas kasurnya , Laura tengah mengambil kompresan , badan arabella mendadak panas tinggi setelah mendapat telpon dari Damian , entahlah Bella menjadi demam tinggi .
Laura datang dengan sebaskom air dan handuk kecil di tangannya , dia mengompres Bella dengan hati hati .
"nyonya ku mohon , ini tinggi sekali , biarkan aku memanggil dokter Jack ." bujuk Laura entah sudah berapa kali .
"aku tidak apa apa Laura , jika kau memanggilnya aku akan marah padamu , lihat saja, dan awas kau menghubungi Damian ." Laura menghela napas , ck dia kesal sekali dengan tingkah nyonya mudanya ini. Laura hanya bisa pasrah dan mengirim kode pada pada salah satu pengawal untuk mengirim rekaman cctv pada sang tuan .
malam pun tiba Laura benar benar panik, demam Bella tidak juga reda dia meracau , keringat nya begitu banyak , Bella seperti mimpi buruk beberapa kali Laura menepuk pipi Bella tapi Bella tidak tenang , Laura sudah berkaca kaca karna ini, dia tidak ada pilihan selain menelpon dokter Jack dan menghubungi tuannya .
"dokter , nyonya demam tinggi , datang lah ." ujar Laura lalu memutus panggilan itu lalu dia mendial no sang tuan yang sialnya tidak aktip dia mendial nomer Marco tapi sama nomernya juga tidak aktip , Laura mengumpat kesal .
selang beberapa menit dokter Jack datang , dia mengecek kondisi nyonya mudanya ini .
"Laura , aku memiliki firasat buruk tentang kesehatan nyonya, telpon Tuan , minta ijin aku akan membawanya ke rumah sakit ." ucap dokter Jack Laura mengangguk , Laura mencoba menghubungi Damian tapi nomernya tidak aktip Laura frustasi .
"apa tidak bisa menunggu besok Jack,?" tanya Laura , dokter Jack adalah teman dari Laura Dan Marco mereka akan saling memanggil seperti teman jika Damian tidak ada .
"kita tunggu hingga tengah malam jika demamnya tak kunjung turun, terpaksa kita bawa ke rumah sakit .," final dokter Jack , Laura mengangguk dia mencoba lagi menelpon Marco dan Damian .
masih tidak aktip .
ck , sial .!
__ADS_1
'apa disana begitu genting' jerit Laura dalam hati .