
perempuan dengan sorot mata datar itu melangkahkan kakinya di salah satu gedung tinggi di negara itu, dengan mengenakan dress putih yang membuatnya sedikit feminim rambutnya ia gerai dan sedikit polesan tipis di wajahnya membuat dirinya layak di sebut wanita, tidak seperti biasanya yang akan memakai baju hitam .
dia Laura , sejujurnya Laura akan pergi dengan stelan biasanya tapi arabella mengomelinya .
"kau itu, akan bertemu adikmu bukan musuhmu"
"cobalah menjadi sedikit lebih fresh, bukan hanya di hadapan Delon ." begitulah katanya .
Laura menghela napas , suara tap dari flatshoes nya membuat beberapa orang yang berlalu lalang di sana menoleh dan terkesima , sudah pernah di katakan Laura cantik dengan rahang tegas dan lebih dominan dewasa dan sexy.
Laura berdiri di depan pintu itu , menghela napas perlahan , tangannya terangkat mengetuk pintu di hadapanya dengan sedikit keraguan , ya hanya sedikit Karna ucapan Bella terus menjadi motivasi nya .
"jangan gunakan ototmu , gunakan otak dan sedikit kewarasan , menghadapi dia ." kata itu yang terngiang di benak Laura .
tak lama pintu terbuka menampilkan sosok perempuan yang sama cantiknya dengan dia ,terpaku . Mata mereka untuk sejenak saling pandang hingga .
"Nesta eliesh." ucapan Laura membuat tatapan perempuan itu teralihkan . mengangguk dengan wajah bingung dia mempersilahkan masuk Laura.
.
.
.
dua wanita yang terlihat mirip itu kini tengah berhadapan mata mereka beradu.
hening .!
belum ada yang memulai pembicaraan selama mereka duduk di sana . hanya terdengar detak jarum jam dinding yang berada di ruangan itu Saja .
baik Laura maupun Nesta sama sama bungkam dan saling tatap, terlihat tatapan datar Laura yang menyimpan banyak emosi disana dan Nesta yang justru kebingungan .
hingga akhirnya Laura menghela napas dan memutus pandangan pada Nesta, merogoh tas yang ia bawa lalu mengeluarkan beberapa lembar Poto dan satu kotak merah .
Nesta heran dan belum tahu apapun hingga suara Laura yang datar memecah keheningan .
"lihat,." sesingkat itu, tapi dapat menggerakkan tangan Nesta untuk membuka kotak merah dan Poto yang ada.
napas Nesta memburu kala melihat di dalam kotak itu adalah sebuah kalung yang sama dengan milik dirinya yang bertuliskan 'eliesh' dalam bahasa Yunani kuno . dan Poto itu adalah Poto kedua orang tua nya juga kakak yang selama ia cari .
air mata Nesta tidak dapat di bendung lagi, dia menangis menatap Laura yang hanya menatap datar dirinya . walaupun pandangannya berkabut Nesta tetap menatap Laura .
__ADS_1
"kau Laura eliesh.?" tanya nya lirih .
hanya dengan satu anggukan membuat Nesta berhambur memeluk Laura dengan tangisan yang kian mengencang.
untuk beberapa saat Nesta memeluk Laura dan Laura tidak membalasnya, hingga perkataan Bella lagi terang untuk menggunakan sedikit kewarasannya .
tangan Laura mulai terangkat dan membalas pelukan adiknya , apakah ia tapi memang mereka sedarah .
"kenapa kau tidak mencariku kak .!" pertanyaan itu yang keluar pertama dari Nesta membuat Laura mendengus , keturunan eilish tetap lah begitu .!
***
Bella tengah menatap Damian yang fokus pada laptop di hadapannya , Bella bertopang dagu menatap Damian . mengangumi ? memuja ? entahlah Bella hanya senang melihat ekpresi serius Damian .
bukan nya tidak menyadari damian tahu Bella menatapnya, hanya saja Damian membiarkan nya , hingga Bella berjalan ke arahnya dan merentangkan tangannya , Damian menaikan satu alisnya dan terkekeh .
"kenapa .?" tanya Damian lembut lalu membawa Bella ke pangkuannya dengan Bella yang memeluk Damian, dan membenamkan wajahnya di dada bidang Damian .
"Damian , apa Laura sudah bertemu adiknya .?" pertanyaan macam apa itu . Damian berdecak tapi tangannya mengelus surai Bella .
"maybe ." jawabnya seadanya .
"Damian jika mereka sudah kembali bersama, apa Laura akan meninggalkanku .?" Bella sedikit mengurai pelukannya dan menatap Damian dengan bibir mengerucut membuat Damian menempelkan bibirnya dengan lembut .
"memang boleh request.?" tanya Bella
"apapun untuk Ara .!" sahut Damian cepat membuat Bella berbinar dan mengecup rahang Damian . membuat Damian memejamkan matanya , kecupan dan sentuhan Bella mengapa begitu membuat Damian nyaman dan menenangkan entahlah .!
"aku ingin, bersama Laura hingga kita memiliki anak dan anak kita menjadi sahabat, lalu kita menjadi ibu rumah tangga yang tangguh ." ungkap Bella dengan keinginannya .
Damian menatap Bella yang mendongak menatapnya , merasa tidak nyaman Damian menggendong Bella ala koala lalu mendudukannya di atas meja rias . mengecup puncak kepala Bella lalu bertanya dengan serius .
"bukankah keinginan Ara, menjadi pemimpin mafia ?" goda Damian
"siapa bilang .?" Bella menaikan satu alisnya . membuat Damian mengerenyit tidak mengerti .
"ah, tentang aku yang keturunan dan pewaris itu ya ." Damian mengangguk lalu mengecup kembali kepala Bella dengan lembut .
"aku tidak mau, ." putus Bella membuat Damian tersenyum tipis .
"emm, ingin berapa anak .?" Damian mengalihkan pembicaraan, sekedar agar Bella tidak berubah pikiran nantinya , jika Bella memang tidak mau menjadi pemimpin klan peninggalan kedua orang tuanya , itu lebih bagus , bukan lebih lagi malah bagus sekali .
__ADS_1
Damian tidak perlu pusing memikirkan cara untuk Bella menolak dan keluar .!
"banyak boleh ." gurau Bella membuat Damian mengeratkan pelukannya .
"satu saja ya .," ucap Damian , Bella menggelang cepat.
"5 atau 7 itu bagus ." ucapnya bersemangat tidak tahu saja dirinya mengalami keguguran dan itu sedikit membuat Damian trauma .
tentang keguguran itu Damian memutuskan tidak memberi tahu Bella dan menutup rapat rapat tentang itu, Damian tidak ingin kehilangan senyum istri kecilnya ini .
"kenapa banyak sekali .?" heran Damian .
Bella memukul dada Damian pelan laku terkekeh "aku kan anak tunggal, sedangkan kamu hanya memiliki satu adik, jadi kita harus memilki banyak anak ."
Damian menghela napas lalu mengangguk, biarlah nanti dia pikirkan caranya untuk menutup rahim Bella setelah melahirkan anak pertama mereka , damian tidak ingin melihat Bella kesakitan lagi, dan ya hanya satu karna Damian tahu mengurus anak itu bukan hal mudah dan hamil juga melahirkan bukan perkara gampang .
biarlah Bella berangan angan dahulu setelah nanti mereka mendapatkan anak pertama , Damian akan melakukan segala hal untuk menutup kehamilan selanjutnya, !
katakanlah Damian g*lak, tapi ini Damian dia tidak akan pernah mau arabellanya kesakitan , bukan perihal Bella akan berubah bentuk tubuh atau yang lain tapi Damian tidak ingin Bella kesakitan hanya itu saja .!
.
.
.
.
dalam perjalanan menuju mansion Damian, Laura hanya termenung dan tatapan nya tertuju pada jendela , ucapan Nesta terngiang di kepalanya .
beberapa panggilan Laura abaikan hingga satu pesan ia dapatkan dan membuka , lalu menelpon si pelaku pengirim pesan .
berdehem sebentar Laura mulai menyapa orang di sebrang sana .
"aku dalam perjalanan pulang ." ucapnya lalu menutup panggilan telpon dan kembali memusatkan pandangan pada luar jendela .
Delon si pelaku pengirim pesan yang berisi sedikit mengancam , membuat Laura sedikit lega , setidaknya Delon memang benar benar menghargai dan mencintainya , Laura tidak peduli itu obsesi Delon atau cinta yang ia tahu , kini hanya ada 3orang yang menginginkannya Pertama Damian , lalu Bella dan yang ketiga Delon tunangan nya .
"mengapa kalian sekejam itu padaku ." gumamnya tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
Nesta .! ck, wanita itu benar benar membuat hatinya bimbang sekarang .
__ADS_1
apa Laura harus merutuki tuannya karna membuat nya bertemu secepat itu dengan adiknya . ah tidak cepat juga hanya saja . memang Laura belum mau sebenarnya .!