
Bella menatap wanita yang berkisar seumuran dengan Damian ini dari atas Sampai bawah.
"kau siapa .?" tanya nya
"selamat pagi nyonya saya Laura, saya akan menjadi teman anda mulai hari ini ." ujar Laura ramah
Bella mengerenyit ,"ck, aku tidak suka memiliki teman ."
Laura berdehem lalu tersenyum manis kepada Bella "terserah anda ingin menanggapi saya apa, yang pasti mulai hari ini saya yang akan menemani anda ." tegas Laura
Bella hanya mendengus lalu pergi melewati Laura, masuk lift dan Laura mengkorinya.
mereka sampai di ruang makan , Bella heran ternyata kala melihat seorang wanita di meja makan itu duduk di sebelah Damian , Damian menyadari ekpresi penasaran Bella tapi tidak berniat memberitahu dia hanya meminta pelayan menyiapkan piring Bella , lalu Bella duduk di sebelah kanan Damian sedangkan wanita itu di sebelah kiri Damian .
"hei kau, kenapa tidak duduk .?" tanya Bella saat melihat Laura hanya berdiri di belakangnya dengan tertunduk .
"dia hanya pelayan, jadi tidak pantas duduk di meja makan ini ." jawab wanita itu membuat Bella menatap Damian tajam , Damian menghela napas belum juga dia sarapan keributan kecil sudah terjadi .
"Laura duduk dan sarapanlah bersama ." ajak Damian membuat Laura menggeser kursi dan duduk di sana
"Damian apa yang kau lakukan .?" protes wanita itu
"diam, dan sarapan dengan tenang ." bentak Damian membuat Bella terkejut dan menatap Damian ragu, dia lalu menunduk dan makan dengan mata berkaca kaca , dia bukan tidak pernah di bentak hanya saja Damian ini baru pertama kali dia mendengar suara menggelar Damian .
Laura yang menyadari hal itu menatap Damian sebagai kode 'kau membuat istri kecilmu takut' Damian menghela napas dia tidak pernah bisa lembut pada siapapun maka dari itu dia lebih banyak diam .
Bella menggeser kursinya lalu berdiri , padahal makanya belum habis . "a-ku selesai ." ucapnya terbata lalu pergi dari sana, Laura menghela napas panjang lalu bangkit.
"kendalikan dirimu tuan, aku tidak yakin nyonya setelah ini akan betah ." ujar Laura sebelum benar benar pergi . dari ruang makan itu .
Damian berhenti makan dan memejamkan matanya sejenak lalu menatap wanita yang ada di sebelah kirinya dengan tatapan tajam dan pergi dari sana .
***
"tuan, ada masalah di distrik 3." adu Marco
"ku harap itu serius .!"
"seseorang membakar markas kita di sana dan beberapa senjata pesanan hangus , beberapa pekerja pun keracunan dan ada penyerangan sebelum kebakaran itu terjadi " Damian mengangguk lalu meminta Marco menyiapkan keberangkatannya dia akan turun tangan .
dia menelpon Laura sebentar memberi tahu bahwa Damian akan pergi mungkin selama 4hari .
"ck, seharusnya dia tidak boleh membentak orang di depan orang lain ." gerutu Bella saat dia telah sampai di kamarnya dia kesal dan terkejut oleh sikap Damian .
"eh, tapi wanita itu siapa .?" tanya Bella pada dirinya sendiri .
"ck, dia terlihat akrab dengan manusia menyebalkan itu, tapi bodo amat ah , gue mau tidur ." Laura yang mendengar gerutuan Bella hanya menggelengkan kepalanya .
"apa dia tidak pernah jatuh cinta .?" gumam Laura dalam hati .
***
__ADS_1
3hari telah berlalu , Bella mulai bosan dan jengah dengan kehidupannya , dia hanya makan tidur berjalan jalan sekitar mansion , dia merindukan kebebasannya dia merindukan alkoholnya merindukan balapan dan lainnya .
"ck, aku bosan sekali ."
"sialan , manusia menyebalkan itu benar benar mengurung gue, kenapa gue baru ngeh ya ." Bella misuh misuh tidak jelas di dalam kamar .
"eh, tapi gue ga liat manusia itu, beberapa hari ini .?" dumelnya lagi
"ck, bodo amat lah ." tambahnya lalu keluar dari kamar Laura segera mengekori dari belakang .
"Laura apa disini ada semacam mini bar .?" tanya Bella tiba tiba .
"emm, kenapa nyonya apa anda perlu sesuatu ?"
"aku bosan, aku ingin minum sedikit, tenang saja aku peminum ." Laura hanya mengangguk lalu dia menekan tombol di earphone nya dan mulai bicara saat Bella sudah beberapa meter jauh dari dirinya.
"istri anda menginginkan alkohol," adu Laura .
"tidak boleh ." tegas Damian
Bella berjalan ke arah ruang tamu dan berselonjor di sofa itu , dia seperti cacing kepanasan terlentang lalu tengkurap lalu terlentang dan tengkurap lagi .
Laura datang membawa minuman kaleng dan meletakkannya di meja, Bella yang melihat itu berdecak malas tapi karna dia menginginkan sekali minum jadi mau tak mau dia harus meminumnya .
"Laura duduklah disini ." pinta Bella lalu menggeser memberikan Laura space untuk duduk .
"ok baiklah, karna kau ingin berteman denganku , aku terima " ucap Bella , Laura hanya mengangguk dan tersenyum .
"iya, apakah bisa keluar ?" tanyanya antusias
"emm, maksud saya di sekitar mansion nyonya ." Bella mendengus kesal .
"aku rindu kebebasanku, kau tahu aku ini pemain bukan princess yang , ahh sudahlah " celoteh Bella membuat Laura mangut mangut.
***
"katakan ."
"tuan nyonya tengah kesal, karna ia rindu kebebasanya, saya menyuruh nyonya untuk melukis di ruang kerja anda tuan ." lapor Laura pada Damian yang baru tiba , posisi mereka berada di dekat kolam renang .
"apa wanita itu mengganggu nya" tanya Damian
"tidak tuan , tapi gerak gerik nyonya ada yang mengawasi ." Damian mengangguk .
"Marco , ubah keamanan mansion pasang CCTV di setiap sudut mansion juga taman jangan ada yang terlewat, dan hubungkan semuanya pada ipadku ." setelah memberi perintah Damian pergi memasuki ruang kerjanya yang katanya ada istri kecilnya .
ceklek . pintu di buka, tapi tidak ada yang terusik di dalam Damian mengerenyit dia masuk dan mencari ke sekitar tapi tidak menemukan siapapun di sana , lalu pandangannya jatuh pada secarik kertas dengan gambar wajah pria tampan dan gagah, itu . Damian lalu di balik kertas itu ada pesan.
jangan mencari ku, aku ingin bebas .
bye manusia menyebalkan .
__ADS_1
tangan Damian mengepal kuat, napasnya memburu wajahnya memerah menahan amarah , Bella kabur .
"Marco tutup semua gerbang dan arahkan semua anak buah mencari istriku . " teriak Damian menggelegar membuat Marco terkejut dan segera mengintruksi semua pengawal yang ada .
damian mengecek cctv semua gerbang, tidak ada tanda tanda Bella kesana , tak lama kepala pengawal dan Marco juga Laura menghadap .
"maaf tuan, kami tidak menemukan nyonya di area mansion." ucap kepala pengawal
"tuan, pelayan yang bertugas membeli kebutuhan pokok di temukan tergeletak di gerbang timur ." lapor Laura . Damian menatap tajam mereka .
"beberapa pengawal tengah mengikuti nyonya tuan, nyonya mengendarai motor salah satu pengawal kita ." Damian menatap dingin mereka semua .
"perintahkan pada mereka bawa istriku kembali kurang dari 2jam ."
***
setelah meminta Laura untuk meninggalkannya sendirian di ruang kerja Damian , Bella melihat keluar jendela di sana ada beberapa pengawal yang tengah mengobrol , sebenarnya dia sudah berniat kabur dari kemarin , hanya saja dia baru mendengar seorang pelayan yang akan pergi untuk membeli kebutuhan pokok bersama beberapa pengawal dan pelayan lain . Bella mengendap menuju gerbang Utara dia bertemu dengan pelayan yang akan pergi membeli kebutuhan poko di sana .
"nyonya ." sapa pelayan itu Bella mengangguk dan tersenyum , saat pelayan itu berjalan menuju gerbang Utara , Bella menggunakan kekuatannya memukul tengkuk si pelayan , dan menelanjanginya di sana , lalu pakaiannya dia pakai dengan masker dan topi , dia berjalan santai ke arah pengawal yang akan keluar gerbang .
tidak ada yang curiga sampai di persimpangan jalan , mobil yang mereka kendarai melakukan pemeriksaan , Bella mengendap turun dan berlari menuju arah hutan , dia berhasil kabur dan terus berlari lalu menemukan jalan raya dan berjalan sambil tersenyum , tak lama ada beberapa pemotor yang tengah melakukan pemeriksaan di ujung jalan , Bella mengendap kembali saat pengawal itu lengah Bella mencuri motor itu lalu melaju kencang.
Bella tersenyum penuh kemenangan .
"akhirnya kebebasanku kembali," dia terus menggas motornya dan berbelok ke salah satu butik dia membeli baju dan celana lalu memakainya dengan santai , dia tidak tahu bahwa gerak geriknya di ikuti dan di pantau oleh pengawal Damian .
"ck, aku perlu alkohol ", dia menuju bar dan membeli beberapa botol alkohol lalu mencari taman yang lumayan sepi , dan meneguknya .
"ah, bau kebebasan dan alkohol memang yang paling indah ." celotehnya tanpa tahu bahwa sebentar lagi pengawal Damian akan menyergapnya .
pengawal itu menelpon Marco untuk melaporkan bahwa nyonyanya berada dalam pengawasan mereka.
"bawa nyonya pulang secepatnya,. ingat jangan Sampai lecet ." ucap Marco di sebrang sana .
pengawal "baik tuan ."
***
Bella berteriak dan sempat berkelahi dengan pengawal Damian, dia tidak mau kembali ke mansion itu dia ingin bebas . tapi dia dalam pengaruh alkohol jadi dia sedikit linglung dan lemah saat ini, pengawal itu dengan cepat menyergap Bella dan menggendongnya memasukannya ke dalam mobil .
"hei kau lepaskan aku, kau ini siapa? aku tidak ingin kembali pada manusia menyebalkan itu, hah berapa dia membayar kalian .?" racau Bella pada pengawal yang memeganginya karna Bella terus berontak ingin kabur .
Bella terus meracau tidak jelas hingga mobil pengawal yang membawanya sampai di pelataran mansion Damian , Damian berdiri di sana wajahnya sangat datar . lalu dia berjalan ke arah mobil pengawal yang pintunya sudah terbuka menarik Bella yang tengah meracau dan menggendong nya , melangkah lebar ke arah lift dan memasukinya.
"hei, lepaskan aku, aku ingin bebas bilang pada manusia menyebalkan itu ." racau Bella saat mereka tengah berada di lift Damian mengeraskan rahangnya , mencoba sabar menekan emosinya yang kapan saja akan meledak.
"aku ini masih kecil, bilang padanya" Bella terus meracau sampai saat di dalam kamar Bella di hempaskan ke ranjang dengan sedikit kasar .
"manusia menyebalkan itu hah .." racau Bella lagi Damian hanya menatap Bella dengan pandangan rumit . lalu Bella menangis dan tertawa pilu sekali. Damian menghela napas lalu memeluknya , biarlah kemarahanya akan dia lampiaskan saat Bella sadar 100% nanti .
"tidurlah ." ucap Damian dingin , ajaib bagai mantra Bella berhenti meracau dan malah memeluk Damian menduselkan kepalanya pada dada bidang Damian .
__ADS_1