
Damian memasuki ruang kerja ya dan di sambut oleh dengusan Dave , tapi Damian abai seolah tidak terjadi apapun, dia tahu sahabatnya ini tengah kesal padanya .
"bisa kita mulai ." ujar Damian , Dave berdecak Damian ini tidak merasa bersalah apa pada mereka yang ada di sana , Dave akan bersuara tapi suara serempak orang orang membuat Dave Kembali bungkam dan diam .
"bisa tuan ."
Damian mengangguk dan mulai membuka map yang sudah ada di meja kerjanya , membaca detail setiap isinya dan Damian mengangguk lagi .
"jadi , kita mulai dari Jonathan Hernandez ." ucap Damian .
"ya, dam, tapi beberapa waktu lalu Jonathan menarik kembali anak buahnya yang sudah tersebar di negara kita ." itu Delon yang bicara
"ada alasan .?" tanya Damian berubah serius .
"praduga sementara kami , Jonathan tahu masa lalu istrimu ."
Damian diam mendengar penuturan Delon .
"ada kemungkinan , mereka tahu sesuatu di masa lalu dam." itu Dave .
"ya, aku pun berpikir demikian dam." Delon menambahkan .
Laura menyerahkan hasil pencariannya pada Damian lewat flashdisk yang ia bawa , dengan menempelkannya pada laptop , flashdisk itu tersambung , dengan cepat merekam beberapa potong adegan .
Damian dan seluruh yang ada di sana menyaksikan adegan itu , itu rekaman 7tahun lalu jika mereka tidak salah menebak .
ada 3potong rekaman , rekaman pertama memperlihatkan seorang anak meronta dalam ikatan tali yang cukup kuat, dan setelah itu jeritan anak kecil itu terdengar pilu.
rekaman kedua memperlihatkan anak itu, sudah terlepas dari ikatan dan kaki kecilnya yang polos berlari kencang ,.
di rekaman ketiga terlihat gadis itu tertembak., mereka menyangka gadis itu sudah tidak sadarkan diri , gadis itu bangkit dengan tertatih dan menyeret langkahnya menjauhi mereka lalu layar berubah gelap , dan tertera identitas gadis itu .
NAMA : BERLIAN HITAM
UMUR : 11y.o
hanya itu lalu mati . Damian dan semua yang di sana mengumpat tertahan melihat adegan di atas layar proyektor itu .
"dia arabella .?" Dave bertanya dengan lirih , Laura mengangguk
"ya, dia nyonya , ."
lalu berbalik pada Damian . "saya hanya menemukan itu tuan , untuk siapa yang mengejar nyonya saya belum mendapat jawaban yang tepat, tapi saya sudah menemukan Titik terang " merogoh saku nya , Laura mengeluarkan satu peluru yang di bungkus plastik putih .
menggesernya di meja di serahkan pada Damian . "ini, peluru yang mereka tembakan pada nyonya tuan , dan peluru ini adalah peluru dari senjata api yang hanya di produksi 3 saja di dunia ."
Damian mengangguk dengan penjelasan Laura , "kerja bagus , setelah ini , temani lagi istriku , sisanya kami yang akan melanjutkan ."
Laura membungkuk dan berterima kasih ."saya mengerti, tuan ." ucapnya
Dave dan Delon saling pandang melihat peluru itu , helaan napas Lolos dari keduanya .
"apa pemikiran mu sama dengan kami dam .?" tanya Dave
__ADS_1
"aku tidak yakin, tapi maybe ." ucap Damian
mereka mengangguk tipis setelah itu Delon menatap Laura yang kini tengah berdiri di sebelah Marco .
"bisa kita bicara ." tanya nya , Laura tidak langsung menjawab dia menatap sang tuan yang menunjukan ekpresi dingin lalu mengangguk dan kemudian menatap Marco yang sama mengangguk hanya saja Marco memberikan senyuman terbaiknya .
"mari ." balasnya .
"dam, kami permisi ." ujar Delon lalu pergi lebih dulu , di ikuti Laura yang membungkuk terlebih dahulu pada Damian .
Dave mengerenyit melihat pemandangan itu, Delon adalah orang yang paling setia , dia memiliki kisah cinta yang tragis , dan anti pada perempuan , tapi hari ini dengan gamblang nya dia meminta bicara berdua pada Laura , yang tak lain adalah pengawal perempuan Damian , ada apa . ?
deheman Damian membuat Dave mengalihkan pandangannya pada Damian .
"setelah saat nya kalian akan tahu ." ucap Damian makin membuat Dave bingung .
ingin menanyakan segala hal pun percuma , Damian tetap Damian , jika sudah bicara begitu ya itu yang akan terjadi .
Damian beralih pada Marco , marco yang sudah gatal ingin berbicara sedari tadi akhirnya bernapas lega karna bisa bicara .
"dia berada di kota ini tuan, sempat berhubungan kurang baik dengan jonathan Hernandez ." Damian tersenyum tipis .
"dunia memang sempit ." gumam Damian .
"lanjutkan ." ujarnya , Marco bergegas memberikan sebuah buku diary, berwarna merah jambu pada Damian .
"semuanya ada di sini tuan ." ujar Marco .
Damian mengangguk dia membuka diary itu , dan setelah membaca beberapa lembar senyum tipis nya tersemat , menutup buku itu Damian menatap Dave dan Marco .
"kau yakin dam.?" tanya Dave heran .
dengan halis terangkat sebelah Dave kembali bicara "maksudku, ada apa .? bukankah hanya arabella yang menjadi prioritas mu sekarang, lalu dia .?"
Damian menyandarkan punggungnya pada kursi lalu berbicara dengan mata yang melihat langit langit ruang itu .
"tadinya aku hanya ingin sebatas mengetahui nya saja, tapi setelah aku tahu ternyata semuanya berkaitan , dan jika salah satu dari mereka gugur , yang satunya akan sangat terluka, aku hanya berjaga jaga saja , jika memang harus gugur setelah apa yang aku lakukan , setidaknya yang terluka tak merasa harus menyalahkan seseorang yang mencari tahu ."
Dave memicing mendengar itu , ingin menyanggah tapi, itu benar adanya , ck , drama ini membuat Dave benar benar mengerti arti keluarga yang sesungguhnya , Dave tidak tahu apa dirinya harus bahagia atau bersedih Karna kedua orang tuanya telah mati, jadi dia tidak merasakan seperti yang orang orang ini rasakan sekarang .
"ck, kau memang Damian ." decak Dave pada akhirnya , Marco pun mendengus dalam hati, tuannya ini memang selalu begini, tidak ingin di salahkan ,.
***
Bella menggeliat di ranjang besar itu, setelah tidurnya yang benar benar pulas , Bella terbangun karna lapar , dia mengucek kedua matanya , melirik jam ternyata sudah jam 2siang. untungnya hari ini dia hanya memiliki 1matkul di pagi hari .
membawa langkahnya menuju pintu dengan masih setengah sadar Bella berjalan , Melewati pintu ruang kerja Damian yang sedikit terbuka , Bella terhenti saat Damian mengucapkan kalimat panjang itu, kesadarannya di tarik paksa dia mematung dengan ucapan Damian yang bagi dirinya membingungkan , lantas dia kembali mendengar decakan Dave , ada apa .?
Bella berpikir dalam hati , lalu dia kembali menyeret kakinya menuju lantai bawah, sebelum ada yang menyadari dirinya ada di sana .
berjalan dengan beribu pertanyaan Bella tidak sadar dirinya telah sampai di dapur , dan beberapa pelayan berdiri di sampingnya dengan keringat dingin membasahi pelipis mereka .
beberapa kali pelayan itu menyapa Bella, bella tetap berjalan dengan pemikirannya yang bertanya tanya hingga .
__ADS_1
dugh .
assshh .
Bella meringis Kala dahinya mengenai dinding, para pelayan buru buru menghampiri dengan gemetar dan bulir keringat dingin .
"nyonya anda tidak apa apa ." ujar salah seorang pelayan , Bella menggosok dahinya .
"assh, siapa yang membangun dinding di sini ." tanya nya dengan meringis karna dahinya cukup sakit , para pelayan menunduk karna harus menjawab apa . dinding itukan memang ada sedari dulu di sana .
derap langkah kaki membuat para pelayan makin gemetar , itu Laura dan Delon yang mendengar suara Bella , mereka memang baru masuk setelah mengobrol di taman belakang .
"ada apa nyonya ." tanya Laura khawatir. bella masih menggosok dahinya .
Laura membawa tangan Bella dan melihat bagaimana keadaan dahinya , ternyata memerah , pantas suara Bella agak kencang .
"Laura ,aku berjalan tadi dan ini, sejak kapan ada dinding disini .?" rengek nya pada Laura , Laura menghela napas , setelah membawa Bella duduk di pantry .
"nyonya ada apa ke dapur ? " Laura mengalihkan pembicaraan .
"ah, aku lapar , jadi aku ke dapur tapi lihatlah ada yang ----"
"dinding itu ada sedari dulu nyonya." potong Laura , lalu Laura memberi kode pada pelayan agar menyiapkan makan Bella .
pelayan datang dengan es batu dan kain , juga salep berwarna putih kebiru-biruan .
"saya kompres dulu, ini pasti bengkak , dan besok akan berubah warna menjadi ungu." ujar Laura , Bella hanya menurut saja .
"oh iya, aku ingin makan mie pedas siang ini ." suara Bella membuat pelayan terhenti , oh nyonya mudanya ini benar benar membuat mereka menjadi simalakama .
"spaghetti saja ya ." bujuk Laura , Bella menggeleng .
"mie pedas , ayolah ." rajuk Bella . menghela napas Laura melirik Delon yang sedari tadi menyaksikan mereka , Delon mengedigkan bahunya lalu meminum kembali minuman dinginnya yang ia ambil tadi .
Laura mengeluarkan ponselnya , hendak menelpon Damian tapi Damian muncul bersama dengan Dave dan Marco , Laura menyimpan kembali ponselnya dan menggeser duduk nya .
Bella memengang lap yang berisi es batu itu Damian menghampiri Bella dan mengambil alih , tanpa kata Damian mengompres kening Bella dan mengoleskan salep .
lalu menatap para pelayan "buatkan makan siang nyonya , tidak ada mie pedas ."
Bella mengerucutkan bibirnya , matanya memanas , dia ingin sekali mie pedas entahlah dia tidak tahu , rasanya ingin sekali saja . Damian menatap Bella melihat ada genangan air di matanya Damian memberi kode pada mereka untuk meninggalkan dirinya dan Bella , mereka pergi serempak dari sana . menyisakan damian dan Bella .
menangkup wajah Bella Damian berbicara lembut , "dengar kau punya gerd , mie pedas tidak baik ."
"tapi aku ingin ." ujarnya air matanya mengalir , Bella pun merutuki dirinya sendiri kenapa hanya karna mie pedas dirinya menjadi menangis begini, padahal biasanya dia bertarung pun tidak apa apa .
"tidak , mie boleh pedasnya tidak ." ujar Damian seraya menghapus air mata Bella.
Bella makin terisak dengan itu , "mie pedas Damian , ku mohon ." bujuk Bella dengan air mata dan isakan .
"tidak ada . mie tidak pedas atau tidak sama sekali ." final Damian yang tidak suka bertele tele . Bella berdiri menghentakkan kakinya .
"tidak usah makan sekalian ." ujarnya sewot dengan air mata dan pergi menghentakan kakinya kesal .
__ADS_1
Damian menghela napas , lalu melirik pelayan "buatkan mie tidak pedas , antarkan ke kamar ."