belenggu mafia kejam.

belenggu mafia kejam.
bab-23. Damian cenayang .!


__ADS_3

Damian termenung di ruangan kerjanya, semalam Bella berbohong padanya , sebenarnya ada apa ? mengambil kunci pintu kamar Clarisa Damian menggenggamnya erat .


ada apa di sana .?


ini terlalu mencurigakan .!


menghela napas panjang Damian menekan tombol di pinggir mejanya Lalu berkata "Marco masuk."


tak sampai beberapa detik Marco masuk , lalu membungkuk , melempar kunci pada Marco .


"geledah kamar itu.?" perintah damian


"ada barang yang anda cari tuan.?" Damian menatap Marco lama lalu mengangguk dan menjawab .


"cari sesuatu yang janggal di sana .!" Marco mengangguk dan berjalan keluar .


1jam berlalu Marco datang lagi, dan wajahnya pias dengan gugup dia berkata .


"tuan , di sana ada pintu keluar mansion.!" Damian menatap tajam Marco lalu bangkit .


"tunjukan ."


Marco menuntun Damian dan masuk ke kamar Clarisa, lalu menekan lukisan Monalisa itu, Damian diam matanya membola .


"di ujung sana ada pintu, pintu itu menuju ke hutan belakang kawasan kita tuan ." jelas Marco , napas Damian memburu ada amarah yang terpantik setelah mendengar itu .


"tutup aksesnya ." Marco tidak beranjak dari sana atau pun mengangguk .


Damian menatap nya tajam, "kenapa .?" suaranya sarat akan kemarahan .


"tu-tuan ini adalah ruang bawah tanah dan--"


"kunci kamar ini dengan apapun itu yang tidak bisa nyonya masuki ." potong Damian , dia mengerti mereka tidak bisa sembarangan menutup karna ada sesuatu yang penting menyangkut itu .


"aku terlalu membiarkan Clarisa." gumamnya lalu pergi dari sana .


Marco menghela napas lega , dia lalu menekan nomor kepala pengawal untuk segera memblokir akses kamar ini .


***


"ish, semalam gue bawa kok, ."


"tapi kok , ga ada ya ."


Bella mencari kunci kamar Clarisa di kamar nya sejak 2jam lalu , tapi tidak juga ketemu , lalu dia menyusuri lorong ke kamar Clarisa dan tidak ada juga , di nakas semalam tidak ada . kembali ke kamar juga tidak ada .


Bella menghentakkan kakinya kesal.


"ck, harusnya gue semalem langsung pergi ." lirihnya , rasanya dia ingin menangis sekarang


"apa kuncinya, di ambil Damian .?" Bella mengingat kejadian semalam ,tapi pikiran nya benar benar buntu , entahlah yang Bella ingat hanya berjalan dan Damian mengajaknya tidur .


"arrgh pusing gue ." teriaknya sambil mengacak rambut .


"gue temui wanita itu lagi deh ." gumamnya lagi , dan beranjak dari sofa untuk berjalan ke luar .

__ADS_1


para pelayan heran melihat nyonya nya menggerutu tidak jelas , dan bolak balik sedari tadi tapi tidak ada yang berani menegur .


raut wajah Damian mendingin kala mendengar ucapan Bella di balik ipadnya .


ternyata benar yang memberi akses Clarisa, apa jangan jangan yang memberi akses Bella pada ruangan sudut itu , juga Clarisa .


Damian berdecak , ada sedikit sesal kenapa dulu dia membebaskan Clarisa di mansion nya .


***


saat berjalan menuju paviliun Bella mengerenyit pasalnya paviliun itu tidak ada, yang ada hanya para pegawai yang tengah membangun di sana entah apa itu .


"heii, apa yang kalian lakukan .?" teriak Bella pada mereka yang sibuk bekerja , seorang pria menghampirinya dan membungkuk .


"nyonya, kamu tengah membangun ruang lukis anda ." ujarnya ,Bella bingung .


"kemana paviliun di sana .?" Bella menunjuk pada mereka yang tengah membangun di sana .


"nyonya di sana , tidak ada paviliun sedari dulu ." Bella melotot, tidak mungkin kan ada di sana paviliun kemarin , bahkan di sana tempat Clarisa kan .


"hei, di sana ada paviliun aku tidak mungkin salah ." bantah Bella .


Laura datang menghampiri mereka yang tengah berdebat , tidak hanya Bella yang ngotot .


"hei, Laura di sana ada paviliun kan, itu tempat Clarisa ." tanya nya pada Laura menggebu .


"nyonya maaf, tapi di sana tidak ada paviliun ." Bella semakin mengerenyit , itu tidak mungkin , kemarin bella masuk ke dalam .


"ada, Laura kau kenap---"


"tunggu , tapi di sana ada paviliun kan ." Bella masih belum berhenti bertanya , Laura dan yang lain menggeleng serempak .


"mari nyonya ." ujar Laura , dengan kesal Bella berjalan lebih dulu dengan menghentakkan kakinya, kekesalannya bertambah .


***


Bella sampai di ruang makan dia mengerenyit tidak ada siapapun di sana .


"maaf nyonya , tuan menunggu anda di balkon ." ujar seorang pelayan .


Bella mengangguk dan bergegas pergi ke kamarnya .


di sana Damian sedang duduk dengan pakaian santai .


tumben.!


satu kala itu keluar dari mulut Bella , karna biasanya Damian akan memakai pakaian formalnya . tapi lihatlah dia sekarang memakai kaos oblong dan celana pendek . ini bukan damian ,ok .


"maaf menunggu lama ." dehem Bella sambil duduk di kursi lain .


"Damian, kenapa Disni ?" tanya Bella .


"apanya .?"


"makan .!" ya Bella bertanya bukan tanpa sebab. karna untuk makan siang di balkon ini terlalu panas ok , ya walaupun tidak begitu menyengat tapi bagi wanita , panas itu bahaya .

__ADS_1


"hanya ingin ." ujar datar Damian lalu menatap Bella . menepuk pahanya mengisyaratkan Bella untuk duduk di pangkuannya .


"disini saja, aku gerah ."


tanpa kata Damian terus menepuk pahanya lalu menatap Bella .


"Damian ." rengek Bella , Damian tetap menatapnya intens , mendengus Bella berjalan ke arah Damian lalu duduk di pangkuannya .


pasrah dengan perlakuan Damian, Bella di suapi hingga selesai tidak membantah atau apa itu .


"berbalik kemari ." titah Damian , Bella menurut dia membalikan badannya menghadap Damian dengan kedua kaki mega'gk'ng di paha Damian . Damian berdiri dan menggendong Bella Ala koala masuk ke kamar mereka .


Bella menatap Damian dalam, sorot matanya menyiratkan, lelah , entah Bella lelah karna apa .!


Damian duduk di sofa panjang dengan bella yang masih di pangkuannya , saat Bella merasa tidak nyaman dan ingin turun dari sana , Damian menekan Bella hingga tidak dapat keluar dari pangkuannya .


"Damian, biarkan aku duduk ." ucap Bella Damian abai , dia tetap memegang erat Bella, bahkan kini Damian berbaring, dan Damian menekan kepala Bella untuk di tidurkan di dadanya , Bella menghela napas lalu pasrah .


"dam---"


"sebentar Ara." potong Damian .


hening .!


2anak manusia itu terdiam , dan hanya terdengar suara jarum jam dan detak jantung masing masing di ruangan itu .


"Ara..?" panggil Damian . Bella mengangguk dalam dekapannya.


"berhenti mencari tahu, yang tidak perlu ." Bella mengangkat kepala menatap Damian saat Damian mengatakan itu .


"maksudmu .?" Bella tidak mengerti . Damian kembali membawa kepala Bella pada dada bidangnya .


"jika sudah saatnya, akan aku ceritakan. ." Bella makin penasaran jika sudah begini.


"iya apa.? kau seolah olah Tahu sesuatu ." desak bella .


"iya, aku tahu semuanya, tapi belum saatnya kau tahu ." Damian tenang mengatakan itu tanpa beban sedikitpun.


"tapi, kenapa .?" ujar Bella lagi dan mengangkat kepala nya lagi, kini Bella menatap Damian dalam dan Damian menatap Bella dengan pandangan sulit di artikan.


"tidak sekarang, nanti ."


"tapi aku----"


cup .


ucapan Bella terpotong oleh ciuman di bibirnya , Bella awalnya menolak tapi Damian menggigit bibir bawahnya sedikit hingga Bella membuka akses untuk lidah Damian masuk.


Bella memukul dada Damian karna sudah kehabisan napas , Damian melepas ciumannya lalu mengusap bibir Bella dengan ibu jarinya .


"jangan membuat dirimu lelah, dan repot , aku berjanji akan memberi tahu mu nanti dengan singkat dan jelas ." ujar Damian .


Bella hanya mengangguk entahlah , apa lagi yang harus Bella lakukan dan katakan , jika Bella menyangkal akan ada ribuan kata yang Damian ucapkan sebagai alasan , lebih baik dia diam dan mencari tahu secara diam diam .


"jangan mencari tahu secara diam diam , aku akan memberitahumu nanti ." Bella mengerenyit , apa Damian cenanyang tahu apa yang ada di pikiran Bella .

__ADS_1


__ADS_2