
Damian berdiri menjulang tinggi di hadapan seorang pria paruhbaya, tatapan nya tak terbaca , paruhbaya itu gemetar , tangannya menyatu bersujud sebagai tanda permohonan maaf , tapi damian Abai. dia hanya menatap paruh Baya itu dengan tatapan tak terbaca .
"tuan , mereka telah membawa kedua nya ." ucap Marco, Damian tak menanggapi dia hanya menatap paruh baya di hadapannya saja .
"Damian mohon maafkan anakku, aku akan menghukumnya seberat beratnya ." paruh baya itu tercekat mengatakan itu .
Damian memutar poros tubuhnya, di ikuti Marco di belakang untuk pergi .
"bekukan semua aset kenward, juga kekuasaannya , bakar mansion dan segala isinya. " suara dingin Damian mengintrupsi .
iya paruh baya itu kenward ayah dari Alberto . dia menegang mendengar itu.
"tidak , tidak Damian ku mohon jangan lakukan itu ." kenward bersimpuh di kaki Damian , Damian dengan mudah melangkah tidak memperdulikan permohonan kenward .
tim Tiger menahan kenward yang akan mengejar Damian . "Damian hukum saja anakku, jangan diriku , aku tidak tahu apa apa ." teriak kenward putus asa .
.
.
.
.
Damian memasuki jet pribadinya lalu pergi bersama Marco dari negara itu.
"hubungi pak tua itu, jika dia berani membantu kenward. jangan pernah berharap akan bertemu cucu nya , bahkan dalam mimpipun ." lagi lagi suara dingin Damian mengintrupsi .
Marco meneguk salivanya susah payah, Marco tau pak tua itu pasti membantu kenward , mengingat hubungan antara ayah kenward dan kenward sendiri sangat baik . jadi bila Damian sudah berkata seperti itu, pilihan ada di tangan pak itu, walau mungkin pak tua itu akan merasakan menjadi simalakama ..
"ba-baik tuan ." Marco menjawab dengan gugup .
.
.
.
.
Damian telah sampai di markas nya , dia berjalan gagah dan angkuh masuk ke dalam sana .
Marco berjalan di depan , mereka sampai pada satu ruangan berukuran sedang dengan pencahayaan tamaram di sana , 2lakilaki terikat di sana .
Marco menarik kursi untuk mempersilahkan Damian duduk , Damian duduk dengan angkuh dagunya terangkat , dia memantik api pada nikotin di tangannya.
"lepaskan ikatan mereka." ujar Damian dingin lalu melempar jarum suntik pada pengawalnya .
pengawal itu menerima dengan sigap, 2lakilaki itu memengang.
"tidak Damian maafkan adikku." tawa sarkas terdengar setelah pria itu berbicara pada Damian .
__ADS_1
"kenapa .? takut. ?" ejek damian .
pria itu membeku dengan suara dingin Damian .
"suntikan pada leher pria s'alan itu .," perintah Damian seraya menunjuk alberto yang sudah babak belur
pria di sebelah Damian menggeleng cepat , air matanya mengalir "jangan Damian , dia tidak salah damian ." teriak pria itu .
tangan Damian terangkat membuat gerakan pengawal itu terhenti . Damian tidak suka basa basi tapi sepertinya untuk yang satu ini akan ia terima basa basi itu .
"lantas siapa yang salah .?" Damian bertanya dengan nada datar , dia kembali menyesap nikotin yang dia apit di sela jarinya.
"aku Damian , aku ." teriak pria itu . tangan Damian memberi kode pada pengawalnya untuk segera menyuntikan sesuatu pada Alberto .
"Damian aku yang salah Damian ." teriak pria itu frustasi.
dia seorang dokter sudah pasti tahu apa yang akan Damian suntikan itu pada Alberto , itu cairan berbahaya .
"aku yang menendangnya , aku yang melemparnya. aku yang menembaknya Damian aku .." teriak pria itu benar benar putus asa .
rahang Damian mengeras mendengar itu, amarahnya menggebu, dia tidak memotong ucapan pria di hadapannya ini .
"aku melakukan itu, karna dia bodoh mencintai arabella, dan dia menginginkan arabella , bukannya bagus jika arabella mati adikku tidak akan menjadi g'la hanya karna cintanya ."
prang
Damian melempar botol di tangan Marco, dia marah , apa kata pria ini Bella nya harus mati , ck jangan pernah harap .
tidak berkata apa apa tapi Damian sangat memperlihatkan amarahnya itu .
"siapa yang memberi mu hak , untuk menentukan wanitaku mati hah .?" tanya Damian sarat akan kemarahan yang kentara..
"kau hanya seorang anak kenward dari seorang ****** , yang mencintai adik seayahmu sendiri ."
mereka terbelalak mendengar penuturan Damian , Alberto yang samar samar mendengar membuka matanya perlahan . dia menoleh pada kakanya, meminta kebenaran , pria itu tertunduk .
"kau ingin melindungi adikmu yang kau cintai bukan , baguslah, aku akan mewujudkan impianmu itu dokter Gilberto ." final Damian membuat mereka bertanya tanya apa maksudnya .
"lanjutkan pekerjaan mu , dan pindahkan mereka ke kamar sebelah, pantau segalanya , jangan biarkan mereka mati ." Damian pergi dan membuang nikotin di tangannya .
Alberto dan Gilberto di suntikan cairan itu , pengawal itu membawa mereka berdua ke kamar sebelah , kamar tempat penyiksaan perempuan yang Suka menggoda Damian , inilah Damian sebenarnya , jangankan seujung kuku dirinya dan arabella dia akan menghukum orang itu , Alberto dan Gilberto sangat lancang , menculik dan menyakiti arabellanya Damian .
bukankah kematian terlalu gampang untuk mereka , Damian akan membuat mereka meminta kematian itu datang pada mereka dan membuat mental atau perlu kejiwaan seseorang sakit bukankah itu lebih bagus . .
.
.
.
Alberto dan Gilberto duduk berhadapan di lantai itu , Alberto belum merasakan apapun dari cairan itu tapi Gilberto sudah merasakannya , dia memilin jarinya gelisah .
__ADS_1
"ka, apa yang Damian katakan benar .?" tanyanya , Gilberto tidak menjawab dia hanya menunduk dan pria 30tahun itu sudah ketahuan sekarang apa yang akan harus dia lakukan pada Alberto .
iya , Gilberto memang hanya satu ayah dengan Alberto , dia hanya beruntung karna mendiang ibuk Alberto mau membawa dan merawatnya , tapi karna memang ibunya cacat secara mental, itu terbawa pada Gilberto dia menyukai Alberto sejak Alberto berusia 7tahun dan sangat membenci arabella karna telah lancang mengambil hati Alberto .
setelah sekian lama diam tak menjawab Gilberto tidak dapat mengelak sekarang , toh dirinya selalu memimpikan ini setiap hari yaitu bersama Alberto pria yang ia sukai dan cintai, Damian benar dia mewujudkan impiannya .
"iya , aku memang mencintai mu ." ujar Gilberto tegas .
"tapi kau, berpaling pada gadis kecil itu ." ada nada tak suka di sana .
"apa kau gila ,? kita sama sama lakilaki ." teriak Alberto tidak terima .
Gilberto tidak menjawab, dia sudah dalam pengaruh obat sekarang , dia menatap penuh cinta pada Alberto , begitupun dengan Alberto, dia gelisah membuka bajunya , panas sekali rasanya dia mencari sesuatu yang bisa mengipasi dirinya , sedetik kemudian Alberto melotot kala Gilberto menyerangnya .
"maafkan aku , tapi aku menantikan ini sejak lama ." ucapnya . Alberto membrontak kewarasaanya yang tinggal sedikit menyuruh ya mendorong Gilberto.
"aarggh , damian bre'gsek." teriak Alberto
***
mata tajam itu masih setia menutup , bibir yang selalu melontarkan kata-kata pedas itu masih terbungkam dengan satu selang di masukan kedalamnya . pipi Yang selalu pucat itu semakin pucat dan tirus , rambut yang selalu rapih itu kini lepek dan tak beraturan .
ini sudah hari ke2 arabella tidur Damian dengan setia selalu menunggunya di sana , tangan Bella yang dingin selalu di genggam Damian .
"kenapa kau belum mau membuka matamu sayang .?" Damian berucap dengan lirih .
"apa kau marah karna aku datang terlambat .?"
"aku sudah menghukum mereka, sayang ."
"harusnya kau bangun, untuk menyaksikan itu , bukankah kau teramat senang jika melihat seseorang terbakar dan terluka ." Damian bersuara dengan tenggorakan yang tercekat, matanya tidak putus melihat wajah pucat arabellanya .
"bangunlah, jangan siksa aku dengan kerinduan ini, ." mata Damian memanas lagi lagi dia menangis tapi tidak terisak seperti sebelumnya .
***
di kamar itu Alberto dan Gilberto bermain yang tadinya menolak menikmati, yang tadi nya jijik tak mau berhenti . sudah lebih dari 5jam mereka melakukan itu, para pengawal yang mengintai mereka melalui cctv bergidik ngeri dan jijik, Gilberto sungguh mendominasi , kentara sekali dia mencintai dan memuja Alberto si pria gagah itu .
"ck, mereka sungguh menjijikan ." Marco berkomentar saat dirinya di kirimi video singkat itu oleh pengawal yang mengintai mereka .
Marco berdehem pelan lalu masuk ke ruang rawat Bella .
"tuan, mereka benar benar melakukannya ." jelas Marco, Damian hanya mengangguk dan kembali berucap .
"tambah dosisnya dan berikan 2jam sekali." titah Damian .
Marco melotot tapi mengiyakan , ini benar benar sudah di luar ekpetasinya, Marco kira setelah Damian membuat kakak beradik melakukan hubungan itu, Damian akan langsung memb'nuh nya tapi siapa sangka , itu akan lebih menyakitkan dari mati . karna mereka akan merasa lelah tapi tidak dapat berhenti.
Marco mendial pengawal itu .
"berikan dosis tinggi, dan berikan setiap 2jam sekali ." terdengar suara terkejut dari sebrang sana .
__ADS_1
"ta-"
"tuan yang minta ." potong Marco lalu mematikan sambungan itu .