belenggu mafia kejam.

belenggu mafia kejam.
bab-46.


__ADS_3

malam yang sunyi, rintik hujan perlahan tapi pasti turun dari langit malam yang gelap itu. wanita dengan sorot datar itu menatap kosong kegelapan di sana , tidak peduli buliran air dari langit yang perlahan turun semakin berlomba lomba. dia tetap berdiri mematung di sana dengan tangan menggenggam sebuah kalung dan secarik surat .


dingin malam dan air hujan yang mengguyur semakin banyak wanita itu hiraukan. layaknya dingin nya malam itu adalah selimutnya dan air hujan itu adalah isi hatinya. tubuh itu di biarkan terguyur air hujan yang semakin dingin.


"Laura ." suara lembut itu membuat Laura sedikit bergerak tapi hanya sedikit itupun hanya helaan napas .


wanita itu tetap berdiri menatap kegelapan yang menyelimuti malam ini .


petir dan kilat bagai alunan musik di pendengaran wanita itu . hingga usapan di bahunya membuatnya memejamkan mata, dan air mata yang dia tahan keluar bersama helaan napas seseorang yang berdiri di samping nya dengan payung berwarna ungu .


"masuklah, nyonya ini sudah larut ,, juga hujan ." ucap Laura pada akhirnya.


nyonya , iya dia arabella yang menemui pengawal nya ini. Bella menarik lembut Laura untuk masuk dan duduk di satu set sofa yang tidak akan memungkinkan hujan masuk .


Bella memberikan handuk dan juga secangkir kopi di hadapan Laura , mungkin Bella sudah memperhitungkan itu, tanpa kata begitupun Laura yang menerima tanpa kata .


"apa sesakit itu .?" tanya Bella lembut membuat pandangan Laura terangkat dan dia menatap Bella dengan sorot penuh luka , sorot itu baru Bella lihat selama dirinya berada di mansion ini .


dengan sadar atau tidak Laura mengangguk dan menangis terisak dengan secangkir kopi ia tangkup di tangannya .


"aku di buang hanya karna keluarga ku tidak boleh memiliki 2anak perempuan , hiks . tapi kenapa harus aku bukan Nesta . hiks. " Isak ya Laura memperlihatkan sisi rapuhnya pada Bella .


Bella mendengar dengan baik , dia mengamati Laura tidak menyela atau pun mengintrupsi dia memberikan Laura menumpahkan segala keluh kesah hatinya padanya. memangnya kapan Laura akan seperti ini .


setelah pulangnya Laura dari menemui Nesta, Laura menjadi lebih pendiam dan suka mengurung diri di kamar , akan keluar jika hanya Damian meminta untuk menjaga Bella dan selebihnya dia akan merenung di kamar. Delon sebagai tunangannya pun sudah tidak mampu membujuk Laura dan memintanya bercerita . hingga Bella menawarkan diri dan hasilnya berhasil . Laura menangis dan bicara panjang lebar padanya .

__ADS_1


"Nesta tidak menginginkan ku, dia hanya menginginkan perlindungan dari ku , hiks." Laura meluruh, Bella menghela napas dia berdiri dan memeluk Laura hingga Laura menangis di perut Bella karna posisi Bella yang berdiri dan Laura yang duduk .


"memangnya kenapa jika dia tidak menginginkanmu ." ucap Bella lembut, Laura tidak menjawab dia menangis menumpahkan air matanya.


"nyonya saya selalu menginginkan keluarga utuh, mempunyai tumpuan hidup dan rumah untuk pulang , saya tidak pernah sakit hati dulu karna di buang oleh kedua orang tua saya, tapi setelah saya mengetahui alasannya mengapa ini sesak sekali ." ungkap Laura sambil memukul dadanya berulang kali .


Bella tersenyum dia melihat itu dengan senyum lalu duduk di lantai dan menggenggam tangan Laura yang duduk di sofa .


"kalau begitu jadikan aku adikmu, jadikan aku keluargamu, jadikan aku tumpuan hidupmu dan jadikan aku rumah untukmu pulang Laura ." Laura berhenti menangis mendengar itu dia menatap tangannya yang di genggam Bella, menatap mata Bella yang memancar ketulusan .


dengan senyum yang masih mengembang "Laura tahukah kamu, kamu teman Pertama ku, kakak pertama ku dan kamu adalah orang pertama yang selalu aku cari, aku memiliki ibu sebelum aku tahu dia hanyalah ibu angkat tapi tidak pernah aku mencari dia seperti mencarimu, aku mempunyai Abang walau dia Abang angkatku aku tidak pernah mencari dia seperti dirimu." Laura terdiam mendengar itu .


"jika memang mereka memberimu kesakitan, bahagialah bersama ku Laura, aku sudah mempunyai planing hidup bersama mu, dan anak anak kita nanti, kamu bersama delon aku Damian dan semua yang berada disini. "


.


.


.


.


.


Damian menatap wajah tenang nan polos istrinya yang tengah tertidur itu, dia mengelus pipi nya lembut lalu mencium keningnya lama .

__ADS_1


semua yang Bella katakan di rooftop pada Laura Damian mendengar , tidak tahu harus menyikapi bagaimana arabellanya gadis bar barnya ternyata mempunyai sisi dewasa .


Damian menciumi wajah Bella pelan lalu berbisik "aku mencintaimu, sayang ." menarik selimut untuk menutupi tubuh Bella Damian beranjak ke salah satu sofa yang menghadap ranjang dia mengangkat telpon yang sejak tadi berdering .


"kerja bagus ." lalu mematikan panggilan itu.


memandang gumpalan di atas kasur itu Damian meminum segelas wine nya lalu bergumam "tidak ada yang boleh membuat kesayanganku, menangis ."


ya sedari tadi siang Bella merengek dan menangis , meminta kepada Damian untuk menemui Nesta dan bicara empat mata, Damian. tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun, dia hanya mengijinkan Bella membujuk Laura dan sisanya biar Damian yang selesaikan , .


Damian mulai jengah dengan konflik dalam hidupnya apalagi kali ini melibatkan istri kecilnya , dia harus segera mengakhiri ini, biarlah sebagian Bella tahu dan sebagian tertutup layaknya jasad di kubur rapat rapat .


Damian menoleh pada jam dinding sudah pukul 01:00 dini hari . menekan interkom untuk mengabarkan pada sahabat juga asistennya guna mengadakan pertemuan detik ini juga di ruang kerjanya .


bangun guna memakai baju yang Selalu Bella pakai , Damian mencium Bella lagi .


"aku akan menyelesaikannya sayang ," bisiknya lalu masuk walk in closet dan menekan salah satu vas bunga lalu terbuka satu pintu penghubung memasuki ruang kerjanya . yang tentu saja selain dirinya hanya Marco yang tahu .


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2