belenggu mafia kejam.

belenggu mafia kejam.
bab-7. first kiss


__ADS_3

Laura mendorong kursi roda Bella menuju ruang baca, padahal ini sudah malam tapi Bella meminta nya untuk mendorong kursi roda kesana, Laura hanya menurut saja, kali ini dia tidak akan takut Bella kabur atau ada yang menyakiti toh mansion sudah benar benar di rombak oleh Damian, di tiap sudut ada cctv yang langsung di pantai Damian, juga keadaan Bella yang duduk di kursi roda membuat Laura berpikir dia tidak akan bisa kemana mana, saat mereka Sampai di ruang baca , Bella meminta berhenti dan meminta tolong pada Laura untuk duduk di salah satu sofa yang ada, Laura hanya menurut saja . setelah Laura duduk dengan tenang Bella melirik tiap sudut , ck, ada cctv tapi biarlah ada atau tidak ada pasti Damian akan tahu apa yang Bella tanyakan pada Laura, secara Laura ini orang nya .


"dia siapa .?" tanya Bella tiba tiba, Laura menaikan sebelah alisnya .


"maksudku, wanita yang meminta maaf padaku .?" jelas Bella , Laura melirik cctv lalu menghela napas rumit itu yang Laura rasakan saat ini, bagaimanapun, ini bukan kewenangannya .


"saya tidak bisa memberi tahu anda nyonya, itu bukan kewenangan saya ." balas Laura , Bella tersenyum tipis , orang orang Damian patut di acungi jempol karna mereka setia sekali .


"aku tidak akan memaksamu ."


"jika memang anda ingin tahu, sebaiknya tanyakan pada tuan ." ujar Laura tenang , Bella tak kalah tenang dari Laura malah bisa di bilang santai .


"hmm, baiklah , kalo begitu bisa kau ambil buku tebal itu ." pintanya sambil menunjuk buku di salah satu rak , Laura mengangguk dan berdiri , menyerahkannya pada Bella .


"antar aku ke kamar , tolong ." ucap Bella lagi, tanpa berlama lama Laura mendorong kursi roda Bella menuju kamar Bella dan Damian .


***


ini sekitar pukul 10 pagi harusnya Damian berangkat ke kantor , tapi karna istri kecilnya ingin berbicara padanya dia menunda acara kantornya, dan menunggu sang istri di taman belakang, Bella datang dengan Laura dia masih duduk di kursi roda , ini Minggu ke enam, setelah penembakan itu dan sudah 2minggu semenjak Clarisa meminta maaf .


Laura undur diri meninggalkan mereka berdua di taman itu .


SH*th. !


Bella mengumpat karna baru pertama kali melihat wajah Damian dengan kesadaran penuh , dan ya dia tampan , sekali .


Damian menaikan sebelah alisnya tanda bertanya 'ada apa' .


"aku ingin kuliah tidak , online ." ujar Bella to the point .

__ADS_1


Damian menggeleng cepat, lalu membawa Bella ke gendongannya dan mendudukan Bella di sebelahnya.


"tidak bisa ." singkat Damian .


"ck, aku tidak akan kabur Damian, aku tidak mau kelas online ." rengek Bella , Damian mengulum senyumnya wajah Bella yang tengah merengek seperti ini kenapa menggemaskan sekali .


"online atau tidak sama sekali ." kekeh Damian , Bella mendengus sebal dia cemberut membuat bibirnya maju sedikit dan itu menggoda pria di sebelahnya , damian menelan salivanya susah payah lalu menarik dagu Bella .


"kau menggodaku ." Bella mengerenyit .


"menggoda ap---emmmmhh." ucapan Bella terpotong karna Damian mencium bibirnya , awalnya hanya menempel Tapi Damian menyesap bibir bawah Bella , Bella melotot lalu memukul dada Damian . spontan Damian melepas ciumannya dan tersenyum ke arah Bella .


"kau, heii itu ciuman pertamaku ." sentak Bella , Damian hanya terkekeuh melihat reaksi bella .


lalu dia berbisik di telinga Bella "aku yang pertama ." ucapnya Bella merinding karna napas Damian berhembus di kulit putihnya , Bella memukul Damian tapi tangannya di tangkap Damian lalu kembali berbisik "siapkan saja dirimu --" damian menjeda ucapannya lalu mengelus bibir Bella dengan jempol tangannya "ini, akan menjadi kesukaanku ... setiap hari ." Bella melotot lalu meninju dada Damian , Damian tertawa , iya benar benar tertawa Laura dan Marco yang menunggu mereka tidak jauh dari sana , terkejut tuannya tertawa , mereka saling pandang lalu sudut bibir mereka terangkat .


Bella mendengus kesal karna Damian malah tertawa semakin mengerucutkan bibirnya membuat Damian benar benar gemas, jika gadis ini sudah memilki perasaan padanya Damian akan menerkamnya tapi dia tidak akan melakukan itu, Bella akan marah nanti , Damian mengangkat Bella mendudukannya di kursi roda .


***


"nyonya apa anda menginginkan sesuatu .?" tanya Laura pada Bella yang hanya diam saja sambil cemberut sedari tadi


"tidak ada , aku sedang kesal ." balas Bella sambil memalingkan wajahnya .


"ck, aku benar benar kesal sekarang ." gerutunya Laura hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan majikan kecilnya ini .


Clarisa membawa satu pelayan yang membawa nampan berisi jus jeruk dan kudapan , dia menghampiri Bella yang tengah kesal di ruang baca, ya ruangan ini menjadi salah satu ruang fav Bella, dengan percaya diri Clarisa tersenyum pada Bella yang memasang ekspresi kesal .


"apa aku mengganggumu arabella ." tegur Clarisa , Bella menghela napas , apa lagi sih ? pikir Bella dia sedang malas hari ini, kekesalan nya pada Damian masih berada di ubun ubun .

__ADS_1


Clarisa dengan tidak tahu dirinya menyimpan nampan itu lalu duduk di sofa yang sedang Bella duduki, Bella melirik sekilas lalu fokus pada buku di pangkuannya .


"kau sedang membaca buku apa .?" tanya Clarisa lagi , bella mengangkat bukunya dan memperlihatkan sampulnya pada Clarisa , Clarisa mengangguk dia lalu mengambil satu jus jeruk dan meminumnya .


"dulu, tidak ada yang berani memasuki ruangan ini, ." ucap Clarisa masih mencoba, Bella sekarang nampaknya menjadi pendengar yang baik sedangkan Laura sudah was-was dengan apa yang akan Clarisa sampaikan , jangan Sampai Clarisa salah bicara .


"Damian ,melarang semua orang masuk kecuali asisten nya itu." ucapnya lagi , dan tidak ada yang berubah dari Bella dia tetap jadi pendengar yang baik . Clarisa mulai kesal terlihat dari dia menyimpan gelasnya dengan gerakan cepat .


"hanya kau yang berani masuk kesini dan menentang Damian ." lagi Bella hanya mendengarkan , Clarisa mendesah pelan dia harus mendapat atensi Bella dan ya membuat Bella berteman dengannya .


"kau cukup berani aku mengapesiasi itu ." Bella mulai jengah dia menoleh pada Clarisa yang tersenyum manis , Bella tersenyum pula pada Clarisa lalu menyimpan bukunya dan menghela napas , sungguh tinggal di mansion ini Bella banyak menghela napas oleh orang orang yang ada di sini.


"ada apa .?" tanya Bella datar senyum nya hilang entah kemana ? di ganti dengan tatapan datar nan dingin .


Clarisa tersenyum "aku ingin mengenalmu , karna kita tinggal satu atap jadi lebih----"


"aku tidak berminat " potong Bella , Clarisa sungguh ingin mengumpat sekarang tapi dia tidak boleh menyerah senyumnya masih terpasang di sana .


"kau belum mencobanya ." kekeh Clarisa


"tidak ingin juga ." ujar Bella datar , Clarisa akan kembali bicara tapi suara dingin Bella mengintrupsi ya .


"dan tidak akan pernah ." Bella mengambil kembali bukunya lalu kembali fokus , Laura tersenyum melihat tanggapan Bella, Clarisa mendengus lalu berdiri dan berniat pergi tapi suara Bella lagi dan lagi menghentikan langkahnya . "bawa kembali bawaanmu ." ujarnya dingin tanpa mengalihkan pandangannya . Clarisa menghela napas dia harus sabar tidak boleh terpancing emosi , jika dia terpancing semua akan gagal .


"maaf mengganggumu ." ujar Clarisa seraya mengambil nampannya .


"jangan di ulangi, aku tidak suka ." balas Bella , Clarisa berjalan keluar dengan menggerutu dia yakin Bella tidak akan mendengarkannya.


***

__ADS_1


Damian mengangkat sudut bibirnya saat menyaksikan bagaimana Bella menanggapi Clarisa dari balik ipadnya .


"kau memang gadis yang sama ." gumamnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ipadnya .


__ADS_2