Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
10. BAB 10 II Tidak Butuh Ayah


__ADS_3

"Aduhh, Tante harusnya diam saja." Gema dan Gempi mendesis gemas di belakang Chia.


"Tenang, kau tidak usah khawatir begitu, anak - anakmu tidak diapa - apain kok, tapi —" 


"Tapi kenapa, Susi?" tanya Chia kemudian berjongkok di depan Gema dan Gempi.


"Kalian tidak dijahati kan, sayang?" 


"Tidak, Mama. Pria itu lumayan baik kok," ucap Gempi tersenyum, kecuali Gema yang diam saja dengan ekspresi muka temboknya itu.


"Baik? Apa yang baik darinya?" tanya Chia.


"Dia baik, Mama. Tadi kita mau dikasih hadiah, tapi ada wanita galak yang terus mengganggu kita, jadinya kita pulang saja deh, Mama." Gempi menjelaskan panjang lebar.


"Syukurlah, sekarang mana uangnya?" 


"Uang? Uang apa, Mama?" tanya Gema bingung disodorkan tangan Ibunya.


"Ya uang hasil pertunjukkan kalian, sayang. Mama mau simpan uang itu ke dalam tabungan kalian, jadi sini berikan Mama." Chia meminta dan tersenyum.


Gema dan Gempi pun menatap Susi.


"Tante, amplop kita mana?" minta kedua anak itu mengulurkan tangan mungil mereka.


"Itu… amplopnya hilang, Chia. Aku tadi simpan di tas tapi tidak ada, sepertinya jatuh di dalam taksi tadi," ucap Susi meminta maaf.

__ADS_1


"Hadeeeh, Susi. Kau ini memang bikin orang gemas. Uang sepuluh juta itu sangat banyak tahu, tapi kau dengan mudahnya menghilangkannya. Harusnya aku yang tadi memegangnya," omel Chia pada sahabatnya.


"Duh, sorry, Chia." Susi mengatupkan kedua tangan di depan Chia.


"Pftt, untung saja kita juga tidak ikut hilang, hihihi," kikik Gempi kemudian disusul Gema yang tertawa pada Susi yang sangat ceroboh.


Melihat kedua anak itu tidak sedih atas hilangnya uang mereka, Susi dan Chia mengelus dada lega.


"Mama, Gempi sudah mau tidur nih. Mama dan Tante tidak usah mencarinya, kami tidak begitu memerlukan uang itu," ucap Gempi dan diberi anggukan setuju dari Gema.


"Lalu apa yang kalian perlukan, sayang? Coba katakan, biarkan Mama yang gantikan untuk kalian." 


Gema dan Gempi bersama - sama memeluk Ibunya, mendongak ke atas dan menjawab, "Kami hanya ingin —”


"Bukan, Tante. Kami tidak butuh ayah," ucap Gema.


"Kalau bukan ayah, apa yang kalian perlukan?" tanya Susi heran ada anak yang tidak begitu memikiran sosok ayahnya.


"Kami cuma perlu satu hal dari Mama, yaitu…."


"Hmm, yaitu apa sayang?" tanya Chia gemas melihat keimutan dua anaknnya itu.


"Malam ini Mama tidur ya sama kita," mohon keduanya.


"Hahaha, ya sudah kita cuci tangan dan kaki dulu, terus ke kamar, bobo cantik dan mimpi indah."

__ADS_1


"Yeah! Ayo Mama!" Gempi menarik Ibunya.


Jam tiga subuh, tiba - tiba Gema terbangun. Ia beranjak duduk dan menengok di sebelahnya ada Gempi dan Ibunya yang terlelap.


"Gempi! Gempi, ayo bangun. Ini waktunya kita cari tahu lebih dalam pria yang kemarin." Gema mengguncang bahu Gempi. Tapi adiknya itu malah memeluk sang Ibu.


"Haih, dasar! Kalau begini, biar aku sendirian saja deh."


Gema pun keluar dari kamarnya, ingin ke kamar Chia meminjam laptop. Namun sontak, bersembunyi cepat ketika melihat Susi keluar dari dapur kemudian masuk kembali ke kamarnya sendiri.


"Ihh, Tante Susi bikin jantungan saja. Aku pikir tadi ada kuntilanak, ternyata hantu jadi - jadian." Gema mengelus dada. Terkejut dengan penampilan Susi yang berdaster putih panjang dan bermasker wajah. Untung rambutnya tidak sepanjang kuntilanak di film horor.


Tak mau membuang waktunya, anak itu masuk ke dalam kamar Chia. Senyum Gema melebar di depan laptop yang sering ia pakai mencari tahu data - data seseorang.


"Heh, ini waktunya mengetahui siapa dirimu, ayah bodoh." Gema bukan cuma mencari data - data Gerry, ia juga menggali info pria yang dinikahi Ibunya. Gara - gara aksi Gema, ia berhasil meretas sistem keamanan Hexion. Membuat pria yang berkuasa di markas Hexion terbangun di subuh dini dan tampak geram ada yang mau mencuri data - data penting.


"Cih, nyalimu terlalu besar, Nak." Gerry mendecih, merasa saingannya tidak begitu berbahaya, tapi ia langsung turun tangan meladeni sang peretas. Gema terkejut, virus yang dikirimnya itu begitu cepat dibasmi, ia bergegas menghentikan aksinya sebelum lokasi aslinya terdeteksi. Meskipun hanya sebentar bermain - main, Gema tidak sedih, karena di depan matanya sudah tercetak biodata asli Gerry dan sekalian mencuri foto Gerry kecil. Gema pun memegang pipinya, melihat foto itu mirip dengannya. 


"Ihh, kenapa pria ini menjiplak wajah ku? Memangnya tidak ada yang lain lagi yang bisa dijiplak?" Gerutu Gema tidak suka punya kembaran yang tampan sepertinya. Sedangkan Gerry, agak geram sang peretasnya tiba - tiba hilang.


"Sialan, percuma kau kabur, aku sudah mendapatkan lokasimu." Gerry tersenyum smirk, menatap satu titik lokasi sang peretas.


.


Hayo Papa datang🤭nihhh

__ADS_1


__ADS_2