Benih Titipan Om Mafia

Benih Titipan Om Mafia
48. BAB 48 ll Berbakat Dan Terlatih


__ADS_3

"Gempi, ayo buruan keluar dari sini." Gema menunjuk sebuah pintu keluar.


"Tapi, bagaimana dengan Om Edegar?" Gempi melihat Edgar yang terus menembak ke arah musuh.


"Pergilah, Om harus membereskan mereka dulu. Kalian lanjut bergabung ke yang lain dan bawa pergi tanaman yang telah kita dapatkan itu," suruh Edgar tanpa melihat dua anak kembar Chia yang menjadi tanggung jawabnya.


Gempi memandangi Gema dan Edgar, ia tidak tega meninggalkannya tapi jika terus bersama Edgar, jalan keluarnya bisa ditutup musuh.


"Baik, Om!" Gema dan Gempi terpaksa pergi. Mengikuti rencana yang sudah mereka atur. Tapi sayang sekali, di jalan itu kedua anak kembar Chia berpapasan Agnes. Bukan kebetulan, tapi ini sudah diprediksi Agnes jika dua anak yang memenangkan lelang tanaman itu pasti akan melewati jalan itu.


"Hai, anak kecil, bisakah kau berikan tanaman itu?" Agnes meminta dengan senyum manisnya. Wanita bergaun mewah dan menawan itu maju mendekati Gempi yang memegang tanaman itu. Agnes membutuhkannya untuk meracik obat penawar racun untuk berjaga-jaga apabila ayahnya mengalami hal yang sama. Tentu saingan ayahnya bukan cuma satu orang, tapi ada beberapa calon yang lain ingin menjatuhkan ayahnya dan mungkin mencelakai ayahnya di suatu hari nanti. Oleh karena itu, ia meminta bantuan Rion demi merebut tanaman itu. Walau Rion mungkin juga sudah memiliki kontrak bisnis dengan salah satu saingan ayahnya. 


"Gempi tidak mau! Tanaman ini milik kami, Tante tidak boleh mengambilnya!" Gempi menolak keras sambil mundur ke belakang Gema.


"Ck, jangan begitu dong, manis. Sebagai anak baik, serahkan saja itu pada Tante. Nanti Tante kasih ganti rugi. Katakan saja, kalian mau apa? Boneka angry bird atau robot Korocha  yang besar?" Agnes mencoba sabar menawarkan imbalan. Tapi itu hanyalah kebohongan. Sebab jika ia telah dapatkan tanaman itu, ia kemungkinan langsung melenyapkan nyawa dua anak itu untuk meninggalkan jejaknya.


"Sekalipun kami ditawar planet baru, tanaman ini tidak bisa kami berikan padamu," ucap Gema sinis.


Agnes terjingkat, sedikit kaget melihat kegigihan Gema. Merasa paras dan tatapan dingin itu mirip juga dengan seseorang.


"Benar! Tante pergilah, jangan halangi kami!" ujar Gempi ikutan  menolak tegas. Firasat Agnes semakin kuat. Dua anak menggemaskan ini seperti duplikat Bos Hexion dan musuh bebuyutannya, Chia.


"Ck, entah kenapa aku merasa kalian berdua memang perlu disingkirkan. Jangan menyesal jika Tante melakukan hal kasar pada kalian," decak Agnes mengeluarkan pisau tajam.


"Akhhhhhh! Berikan tanaman itu, bocah tengik!" pekik Agnes mengayunkan pisaunya ingin menikam mereka. Wajah cantiknya berubah menakutkan seperti monster gila. Namun kecepatannya tidak sebanding dengan kecepatan Gempi yang gesit bisa menghindari serangannya.


"Kak Gema! Kabur!" seru Gempi menarik paksa Gema. 


Agnes tertegun sejenak. Kecepatan anak perempuan itu tidak bisa diprediksinya.


"Siapa anak-anak itu?" gumam Agnes geram. Ia merobek gaun bawahnya dan mematahkan hak tingginya. Merasa sudah leluasa berlari, ia pun mengejar Gema dan Gempi sebelum anak-anak itu berkumpul dengan kelompoknya.


"Aku tidak menyangka, SKY memiliki dua anak itu seperti itu. Siapa sebenarnya orang tua mereka?" Agnes berlari di koridor sendirian. Sontak berhenti ketika lampu di atasnya padam. Semuanya gelap gulita. Tapi itu tidak mempengaruhi Agnes. Tidak ada rasa takut di matanya dan hanya rasa puas bisa meladeni dua anak itu yang nampak ingin bermain-main dengannya.

__ADS_1


Benar, koridor  itu telah dikendalikan Gema. Dengan kecerdasannya, ia gunakan laptop kecilnya meretas tempat lelang itu.


"Aku memang ceroboh dan baru sadar kalian bukan anak biasa. SKY memang organisasi yang sulit dihancurkan. Aku kagum SKY dan Hexion bisa melahirkan anak berbakat dan terlatih seperti kalian, tapi kalian tidak ada apa-apanya bagiku."


DOR! DORRR! DORR!


Agnes mengeluarkan pistolnya, menembak bertubi-tubi sembarangan di segela tempat sambil tertawa jahat. Tawa yang pecah dan menggila. Ia yakin, dua anak itu tidak bisa lolos dari serangan pelurunya. Tapi apa itu benar? 


Lima menit menghujamkan pelurunya, Agnes pun berhenti. Koridor gelap yang tadi terdengar penuh tembakan pun sepi dan senyap mencekam.


"Hahahaha, harusnya kalian tidak bermain-main pada Tante." Agnes tertawa dan menyalakan lampu senternya, namun setiap sisi jalan tidak ada noda darah sedikitpun dan hanya ada bekas lubang tembakannya yang terlihat dan cuman sebagian lampu yang pecah.


"Kemana mereka?" Agnes terkejut. Sontak menoleh ketika ada suara kecil menertawainya.


"Hihihi, apakah Tante cari kami?" Gempi bertanya di sebelah Agnes.


"Akhhh!"


DOR!


"Ck, sialan. Siapa sebenarnya anak-anak ini?" Agnes dengan was-was memegang erat pistolnya. Tiba-tiba lampu kembali menyala. Menyinari koridor itu yang hancur berantakan. Kerusakan di mana-mana dan hanya Agnes seorang diri di tempat itu.


"Akhhhhhh! Bocah kep4rat, beraninya kalian mempermainkan ku! Awas saja, setelah ayahku berhasil menjabat, kalian berdua pasti kucari sampai ke inti bumi dan melenyapkan kalian dari dunia ini." Agnes menendang tembok, ia marah besar pada dua anak yang berhasil kabur setelah mempermainkannya.


Tiba-tiba hapenya berdering, mendapat pesan dari Rion yang menyuruhnya keluar dan pergi ke tempat pertemuan mereka. Tanpa berpikir panjang lagi, Agnes pun menuju ke sana. Tempat Rion dan anak buahnya sebagian yang selamat dari penyerangan mereka. Dipastikan, Edgar memenang pertarungannya dan membawa pergi kelompoknya yang berjaya merebut tanaman yang diinginkan Agnes.


"Rion!" ujar Agnes datang dengan rambut yang habis dijambak.


"Apa-apaan ini? Aku menyuruhmu singkirkan anak bawahan SKY dan Hexion. Tapi kenapa kau dan anak buah mu malah berkumpul di sini?"


"Jangan bilang kalau kalian dikalahkan oleh mereka?"


"Ck, inikah Robertus yang dibanggakan itu? Robertus yang katanya tidak terkalahkan hanya semut kecil di mata SKY? CK, tidak berguna."

__ADS_1


Agnes marah-marah dan mengoceh terus. Menyalahkan Rion yang tidak serius membantunya. Namun Rios hanya menanggapinya dengan tatapan dingin dan maju ke arah Agnes yang berkacak pinggang.


"Aku sudah membayar harga tinggi, harusnya kalian beri aku hasil yang memuaskan!" kata Agnes melotot pada Rion. Sok berani pada laki-laki yang nampak tenang tapi aslinya sedang geram padanya.


"Akhhhh!" pekik Agnes tiba-tiba Rion mencekik lehernya.


"Mulutmu menyebalkan sekali. Uang yang kau berikan itu tidak ada apa-apanya di mataku. Aku tidak membutuhkan uangmu ini!" Rion melempar cek imbalannya ke wajah Agnes dan lebih keras mencekik leher Agnes membuatnya pucat pasi dan sesak nafas.


"Ka-kau bisa membunuhku, Rion," rintih Agnes menepis tangan Rion dan mundur terbatuk-batuk lalu melirik ketakutan pada Rion yang nampak aneh.


"Dan sepertinya kerjasama kita berakhir di sini." Rion berbalik badan.


"Tunggu, apa maksudmu? Kau tidak mau membantuku balas dendam pada musuhku?" Tahan Agnes memegang lengan Rion dan langsung ditampar oleh pria itu.


PLAK!


"Pergilah dan jangan harap aku menyingkirkan wanita ini," usir Rion melempar foto Chia padanya. Foto yang tadi diterima oleh anak buahnya yang diambil dari Agnes sebelum lelang dimulai.


"Ke-kenapa kau tidak mau menyingkirkannya?" tanya Agnes kesal.


"Wanita itu lebih berharga dari ambisimu." Rion menjawab dingin lalu berlalu pergi meninggalkan tempat lelang itu. Menyuruh anak buahnya juga membereskan mayat bawahan yang tumbang dan meninggalkan Agnes sendirian saja.


"Akhhhhhhh! BajinGan kalian semua! Kenapa sih tidak ada satupun keinginanku yang terkabul? Dan apa untungnya wanita itu hidup? Memang apa spesialnya parasit itu? Sialan!" Agnes kecewa berat dan tambah benci pada Chia. Iri dan kedengkiannya membutakan hidupnya.


"Padahal hanya sebuah foto, aku tidak sangka foto ini menjerat Rion. Apa sebenarnya rahasia wanita jallang ini sampai digilai kaum lelaki? Padahal aku yang terlahir sempurna ini lebih unggul daripada dia."


"Ck, tidak apa-apa jika kau tidak mau membantuku, Rion. Aku bisa melakukannya sendiri." Agnes meninggalkan tempat lelang itu pakai taksi dan menelpon seseorang untuk mencarikannya tanaman langka di tempat lain sambil mengatur rencananya untuk Chia.


"Chia, sudah beberapa tahun berlalu, aku tidak sabar ingin bertemu empat mata denganmu. Mungkin kita perlu melakukan reuni kembali seperti enam tahun lalu dan saat itulah aku akan mempermalukanmu serendah mungkin." Agnes tertawa sendiri membayangkan cercaannya merusak mental Chia. Tapi di mata supir taksi sekarang, mental Agnes lah yang terlihat sedang gila.


"Ya Tuhan, rumah sakit mana yang telah melepaskan wanita ini?" Supir bergumam dalam hati. Kalau saja penampilan Agnes tidak acak-acakan, mungkin bisa dikenalinya.


.

__ADS_1


Bawa kabur aja 🤭 wkwk, Canda Agnes, jangan tembak ya wkwk


__ADS_2